Jangan lupa bagikan jika bermanfaat

Selasa, 23 Agustus 2016

KUMPULAN KATA MUTIARA ILMU


- Ibnu Qayyim berkata: '' Tahun-tahun adalah ibarat batang pohon. Bulan-bulan adalah dahannya. Hari-hari adalah rantingnya. Jam-kam adalah daun-daunnya. Dan nafas-nafas (insan di dunia) adalah buah-buahnya. Siapa yang nafasnya untuk ketaatan, maka ia akan berbuah manis. Dan siapa yang nafasnya untuk kemaksiatan, maka ia akan berbuah pahit. Hari memanen adalah pada hari pembalasan''.

- Nabi SAW bersabda: '' Siapa yang mempelajari suatu ilmu yang berguna untuk dirinya dan akhiratnya, maka Allah akan memberi pahala kebajikan penghuni dunia 700 tahun. Puasa siang harinya dan ibadah malam harinya, akan diterima oleh Allah tanpa ada yang ditolak''. ( jadikanlah hadits ini sebagai penyemangat diri dalam berbuat kebaikan/ Fadail amal . Sebab hadits-hadits seperti ini biasanya lebih banyak condong kepada hadits dhai'f )

- Kata Imam Syafii: '' Siapa yang tidak memanfaatkan masa mudanya untuk menuntut ilmu, maka bertakbirlah empat kali untuknya sebagai tanda kematiannya''.

- Nabi SAW bersabda: '' Sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak manfaatnya untuk orang lain. Dan sejelek-jelek manusia adalah yang panjang umurnya tapi jelek amal prilakunya''.

- Sabda Nabi SAW: '' Pada hari kiamat nanti, ditimbanglah tinta ulama dengan darah syuhada. Maka ternyata tinta ulama dilebihkan dari darah syuhada''.

- Sabda Nabi SAW: '' Seseorang yang pas-pasan ibadahnya tapi dermawan, jauh lebih dicintai oleh Allah SWT dari pada seorang ahli ibadah, tapi ia kikir''.

- Nabi SAW bersabda: '' Malaikat di langit dan di bumi akan melaknat siapa yang memberi fatwa kepada manusia tanpa pengetahuan''.

- Nabi SAW bersabda: '' Sebaik-baik ilmu adalah yang bermanfaat''.

- Nabi SAW bersabda: '' Para malaikat membentangkan sayap-sayapnya bagi para penuntut ilmu''.

- HAMKA pernah mengabarkan, bahwa ayahnya suatu kali pernah membaca sebuah riwayat, bahwa Abu Bakar itu matanya cekung, badannya kurus, perutnya kempes dan ia sering menangis karena takut kepada Allah SWT. masyaAllah

- Kata pepatah: '' Besi itu kuat, tetapi api dapat melelehkannya. Api itu kuat, tetapi air dapat memadamkannya. Air itu kuat, tetapi matahari bisa mengalahkannya. Matahari itu kuat, tetapi awan dapat menghalanginya. Awan itu kuat, tetapi angin mampu memindahkannya. Angin itu kuat, tetapi manusia mampu menahannya. Manusia itu kuat tetapi ketakutan bisa melemahkannya. Ketakutan itu kuat, tetapi tidur bisa mengatasinya. Tidur itu kuat, tetapi mati ternyata lebih kuat. Terkuat adalah kebaikan, ia takkan hilang setelah mati''.

- Kalaulah bukan karena ilmu, niscaya manusia itu akan seperti binatang.

- Belajarlah, karena seseorang itu tidak dilahirkan dalam keadaan pandai. Sungguh orang yang berilmu itu tidak sama dengan orang yang bodoh.

- Sesungguhnya ilmu yang disembunyikan akan melaknati pemiliknya.

- Umat Islam terlalu besar untuk bermimpi kecil.

- Sesungguhnya hati menjadi pusat pengambilan keputusan, maka jagalah ia sebaik-baiknya.

- Yakin adalah: '' Berusaha dengan seoptimal mungkin'' .

- Orang yang cerdas itu adalah: Orang yang bisa mengendalikan hawa nafsunya dan ia suka berbuat untuk kehidupan setelah mati. v Nasehatilah kawan anda jika anda benar-benar mencintainya.

- Kebodohan itu adalah bagaikan sebuah kendaraan. Siapa yang menaikinya, pasti ia akan hina. Dan yang mengawininya pasti akan tersesat.

- Mengeluh dikala tertimpa bencana, maka itu adalah bencana pula.

- Siapa yang enggan melakukan evaluasi, maka bersiaplah menuai kegagalan demi kegagalan.

- Kebanggaan sejati adalah: Sikap senantiasa berbuat yang terbaik, meskipun tidak ada yang melihat dan mengawasinya.

- Kualitas karya kita akan mampu menjelaskan siapa kita sebenarnya.

- Beberapa profil yang membangun:
1. kokoh dan dinamis
2. dinamis dan kreatif
3. spesial dan berwawasan global
4. pendidik yang produktif
5. mampu beramal jamai'
6. pelopor perubahan
7. ketokohan sosial

- Beberapa jenjang proses dalam pentarbiahan:
1. bersih aqidah
2. benar dalam beribadah
3. akhlaq yang kokoh
4. kuat fisik
5. berwawasan pemikiran
6. mampu berekonomi
7. terorganisir dalam segala urusan
8. cermat mengatur waktu
9. kuat kesungguhan jiwanya
10. bermanfaat bagi selainnya

- Empat segi yang ditarbiah:
1. ruhiah : dengan mabit
2. jasadiah : dengan riyadhah jama'
3. ukhawiah : dengan rihlah
4. fikriah : dengan daurah

- adalah Musa'b Bin Khubaib al Anshori, saat ia ditawan di Mekkah, kemudian ia digantung di tiang gantungan. Ditiang gantungan itu ia ditawari musrik quraisy dengan sebuah ucapan: '' Apakah kamu mau jika Muhammad menggantikanmu dalam menjalani hukuman ini? Muasa'b menjawab:'' Demi Allah, aku tidak akan merasa rela apabila aku, istriku dan anak-anakku dalam keadaan baik, sementara Muhammad SAW tertusuk duri''.

- Hasan al Banna berkata tentang kader-kader yang akan mengemban dakwah: '' Kami menginginkan jiwa-jiwa yang hidup, kuat dan selalu muda, hati yang baru dan senantiasa berkibar-kibar dan ruh- ruh yang selalu mengelora dan berobsesi untuk menuju cita-cita yang tinggi''.

- Dalam perang khandaq, Salman al Farisi berkata kepada Nabi SAW: '' Wahai Rasulullah, dahulu kami adalah orang yang hidup di negeri Parsi. Apabila kami dikepung musuh, maka kami membuat parit''.

- Beberapa ilmu: Nabi yusuf adalah ahli keuangan negara. Nabi Sulaiman adalah ahli tata negara. Nabi Daud adalah ahli militer. Nabi Isa adalah ahli sosial. Namun Nabi Muhammad SAW adalah ahli seluruhnya.

- Diantara kelebihan Nabi Muhammad SAW adalah, ia mampu meletakkan seseorang sesuai dengan bakatnya. Seperti: Bilal ditugasi untuk melakukan azan. Khalid Bin walid sebagai panglima perang. Huzaifah sebagai intelejen. Zaid sebagai penulis wahyu dan penerjemah dan lain-lain.

- Doa abu Bakar takkala ia dipuji karena keberhasilannya menumpas pemurtadan setelah Nabi SAW wafat: '' Ya Allah jadikanlah aku lebih baik dari apa yang mereka katakan dan maafkanlah aku dari kesalahan yang mereka tidak tahu''.

- Selama di Madinah, ghazwah terjadi sebanyak 26 kali dan sariah sebanyak 38 kali.

- Kita hidup diatas dunia ini hendaklah beramal jamai'. Dengan arti kata saling bekerja sama dalam kebaikan. Sebab kerjasama itu akan mampu mengantarkan kita kepada kesuksesan. Dalam hal beramal jamai' ini, Rasulullah SAW telah memberikan contoh teladan kepada kita. Yakni ketika Nabi SAW hijrah ke Madinah bersama Abu Bakar, maka terjadilah amal jamai' , yaitu: Asma' Binti Abu Bakar ditugasi untuk mengantarkan makanan ke goa Tsur. Aisyah Binti Abu Bakar bertugas menyiapkan logistik. Abdullah Bin Abu Bakar sebagai pembawa kabar dari Mekkah untuk Nabi SAW. Pengembala kambing Abu Bakar ditugasi untuk menghapus jejak Rasulullah, Abu Bakar, Abdullah dan Asma' dengan jejak iringan kambing yang ia bawa. Serta ia memerah susu kambing untuk melepas dahaga Rasulullah SAW dan Abu Bakar. Sedangkan Abu Bakar sendiri bertugas menjaga keselamatan nabi SAW. Hal itu ia buktikan dengan mampunya Abu Bakar menutup lobang kecil di dalam goa, yang mengakibatkan ia disengat oleh seekor hewan berbisa, ia mampu menahan sengatan sengatan itu. Itulah bukti cinta yang hakiki.

- Khalifah Umar Bin Abdul Aziz memang merupakan seorang tipikal pemimpin yang agung. Hal itu ia buktikan dengan mengangkat seorang penasehat pribadinya. Yang mana penasehatnya itu adalah mantan budaknya sendiri. Ia berkata kepada mantan budaknya itu: '' Sesungguhnya para penguasa itu memasang mata-mata untuk mengawasi rakyatnya. Sedangkan saya akan mengangkatmu sebagai mata-mata untuk diriku sendiri. Jika kamu mendengar ucapanku yang tidak baik atau perbuatanku yang tidak kamu sukai , maka nasehatilah aku darinya''.

- Sebagai bukti iman yang hakiki, Usman Bin Affan mampu menginfakkan 1000 untanya untuk keperluan perang tabuk.

- Saat hasan al Banna berada di kelas tiga i'dadiah (setingkat SMU), ia dan kawan-kawannya mendirikan asosiasi anti haram. Adapun cara kerja mereka adalah: memberikan atau melayangkan surat tertulis sebagai peringatan kepada pelaku dosa atau maksiat.

- Nabi SAW bersabda: '' Tidak akan berkurang harta karena disedekahkan. Sesungguhnya seorang hamba yang mampu bersabar saat ia dizalimi, maka Allah SWT akan menambahkan kepadaya kemuliaan. Hamba yang tidak mau membukakan pintu rumahnya dari orang yang meminta-minta, maka Allah SWT akan membukakan baginya pintu kefakiran''.

- Empat tipe manusia:
1. hamba yang dikaruniai ilmu dan harta
2. hamba yang dikaruniai ilmu dan tidak dikaruniai harta
3. hamba yang dikaruniai harta dan tidak pula dikaruniai ilmu
4. hamba yang tidak dikaruniai ilmu dan tidak pula dikaruniai harta keterangan: Nomor satu dan nomor dua adalah yang beruntung. Namun nomor tiga dan empat adalah yang merugi. Kenapa penulis mengatakan nomor tiga sebagai orang yang juga merugi? sebab: Keberuntungan yang sesungguhnya adalah orang yang memiliki ilmu. Coba tadabburi hadits Nabi SAW yang menerangkan tentang perlunya ilmu untuk bahagia di dunia dan akhirat.

Wallahu a'lam

Share:

Senin, 22 Agustus 2016

TERIMA KASIH GURUKU

Judul : Terima Kasih Guruku


Penyanyi : AFI Junior (Akademi Fantasi Indonesia )

Pencipta: Melly Goeslaw, Syifa P


Pagiku cerahku matahari bersinar
ku gendong tas merahku di pundak
Slamat pagi semua ku nantikan dirimu
di depan kelasku menantikan kami..

Guruku tersayang guru tercinta tanpamu apa jadinya aku…
Tak bisa baca tulis mengerti banyak hal.. guruku terima kasihku…

Nakalnya diriku kadang buatmu marah… namun segala maaf kau berikan..

reff:: Guruku tersayang …
guru tercinta tanpamu apa jadinya aku…
tak bisa baca tulis mengerti banyak hal…
guruku terima kasihku…




Share:

Kamis, 18 Agustus 2016

ALASAN BAHWA KITA HARUS MEMBERI PANGGILAN YANG LEMBUT PADA ISTRI


Panggilan; Rasulullah SAW merupakan sosok manusia yang sempurna.

Di medan perang beliau seorang jenderal profesional yang menguasai taktik dan strategi bertempur pada masanya. Di tengah masyarakat, beliau merupakan seorang teman, sahabat, guru, dan sosok pemimpin yang menyenangkan dan pengayom.

Di rumah, beliau adalah seorang kepala rumah tangga yang bisa mendatangkan rasa aman, kasih sayang, sekaligus kebahagiaan dan keutuhan. Rasulullah SAW dinobatkan oleh Allah sebagai sebaik-baiknya suri tauladan.

 “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.”. (QS: Al Ahzab [33] : 21).

Kehidupan Rasullah SAW merupakan contoh baik bagi kita. Termasuk urusan dalam kamar sekalipun yang bukan hanya sebatas panggilan semata. Di antara sisi romantis Rasulullah SAW, beliau mencium istrinya sebelum keluar untuk shalat. Dari ‘Aisyah r.a,

“Bahwa Nabi SAW mencium sebagian istrinya kemudian keluar menunaikan shalat tanpa berwudhu dahulu.” (HR Ahmad).

Rasulullah SAW adalah seorang pria yang sangat lembut. Beliau mengekspresikan cinta kepada istrinya dengan sederhana dan bersahaja namun berasal dari hati yang dalam.

Beliau juga sosok yang dikenal sangat romantis. Semisal, beliau biasa memanggil istri-istrinya, dengan panggilan kesukaan dan panggilan yang indah.

Siti ‘Aisyah , dipanggil dengan panggilan “Ya Humaira” (wahai si merah jambu). Bayangkan, istri mana yang tidak tersanjung saat dipanggil suaminya dengan panggilan ini? Telinga siapa yang tidak ingin mendengar sapaan seperti ini?

Tapi keindahan apnggilan itu tercipta bukan karena beliau ahli merayu, melainkan karena hati beliau memang bersih, bening, indah dan keluar dari lubuk hati paling dalam alias setulus- tulusnya cintanya, bukan karena ada perlunya apa lagi hanya ketika butuh. Dari hati yang indah itulah keluar kata-kata, perilaku, dan sikap yang indah. Dan dari keindahan hati itulah pancaran keindahan dari setiap yang dipandang dan ditemuinya akan benar-benar tampak.

Jika kita bisa membayangkannya, betapa indah hari-hari kehidupan di mata Rasulullah SAW. Romantisme tidak hanya berlaku bagi istri- istrinya dan lewat panggilan yang beliau berikan, juga anak-anak, bahkan nenek-nenek dan semua makhluk Allah SWT lainnya pun merasakannya, termasuk kita yang berada sangat jauh dari masa beliau.

Sikap Rasulullah SAW ini juga ditunjukkan ketika melihat alam dan unsur-unsur di sekitar. Ketika melihat sekuntum bunga yang akan mekar, kalbunya bergetar, hatinya bersuka cita, dan segera beliau mendatanginya, mencium dengan bibirnya, dan mengusapnya dengan penuh kasih sayang. Tak lupa beliau mengucapkan:

“Aaamu khairin wa barakatin insya Allah.” (tahun baik dan penuh berkah, insya Allah).

Begitu pula saat beliau mendapati bulan sabit pada malam awal bulan, beliau-pun menyambutnya dengan sukacita. Dengan penuh optimis beliau menuturkan tentangnya:

“Hilaalu khairin wa baarakatin insya Allah.” (awal bulan yang baik dan penuh berkah, insya Allah).

Meskipun beliau sebagai seorang pemimpin yang luar-biasa dalam mengurus ummat, namun beliau tidak lupa untuk menjalin kemesraan dengan istri-istrinya. Beliau tak segan-segan untuk mandi bersama dengan istri beliau tentunya juga panggilan yang mesra. Dalam sebuah riwayat, mandi bersama dengan Siti ‘Aisyah r.a, dalam satu kamar mandi dengan bak yang sama. Dari ‘Aisyah r.a, ia berkata,

 “Aku pernah mandi dari jinabat bersama Rasulullah SAW dengan satu tempat air, tangan kami selalu bergantian mengambil air.” (HR Mutafaqun ‘alaih).

 Nah bagaimana sahabat musmus, panggilan apa yang akan digunakan oleh kalian kalo bukan panggilan sebagaimana yang dicontohkan oleh beliau Rasulullah SAW? Semoga bermanfaat yah. Amin.

Share:

KELUARGA DALAM PANDANGAN ISLAM


Rasulullah Shallallhu ‘alaihi wassalam bersabda: Wanita itu dinikahi karena empat perkara yaitu karena hartanya, kedudukannya (keturunannya), kecantikannya dan agamanya. Maka pilihlah wanita yang memiliki agama, “. (Hadits Riwayat. Bukhari Muslim)

Syaithan begitu berambisi dalam merusak sebuah keluarga. Berbagai upaya ditempuh untuk mencapai ambisinya itu. Ini disebabkan keluarga merupakan pondasi bagi terbentuknya masyarakat muslim yang berkualitas. Setiap manusia tentu mendambakan keamanan dan mereka berlomba-lomba untuk mewujudkannya dengan setiap jalan dan cara yang memungkinkan. Rasa aman ini lebih mereka butuhkan di atas kebutuhan makanan. Karena itu Islam memperhatikan hal ini dengan cara membina manusia sebagai bagian dari masyarakat di atas akidah yang lurus disertai akhlak yang mulia. Bersamaan dengan itu, pembinaan individu- individu manusia tidak mungkin dapat terlaksana dengan baik tanpa ada wadah dan lingkungan yang baik. Dari sudut inilah kita dapat melihat nilai sebuah keluarga.

Keluarga dalam pandangan Islam memiliki nilai yang tidak kecil. Bahkan Islam menaruh perhatian besar terhadap kehidupan keluarga dengan meletakkan kaidah-kaidah yang arif guna memelihara kehidupan keluarga dari ketidakharmonisan dan kehancuran. Kenapa demikian besar perhatian Islam? Karena tidak dapat dipungkiri bahwa keluarga adalah batu bata pertama untuk membangun istana masyarakat muslim dan merupakan madrasah iman yang diharapkan dapat mencetak generasi-generasi muslim yang mampu meninggikan kalimat Allah di muka bumi. Bila pondasi ini kuat, lurus agama dan akhlak anggotanya maka akan kuat pula masyarakat dan akan terwujud keamanan yang didambakan.

Sebaliknya, bila tercerai berai ikatan keluarga dan kerusakan meracuni anggota-anggotanya maka dampaknya terlihat pada masyarakat, bagaimana kegoncangan melanda dan rapuhnya kekuatan sehingga tidak diperoleh rasa aman. Dengan keterangan di atas pahamlah kita kenapa musuh-musuh Allah dari kalangan syaitan jin dan manusia begitu berambisi untuk menghancurkan kehidupan keluarga. Mereka bantu-membantu menyisipkan kebatilan ke dalam keluarga agar apa yang diharapkan Islam dari sebuah keluarga tidak terwujud. Dan sangat disesalkan ibarat gayung bersambut, kebatilan itu banyak diserap oleh keluarga muslim.

AAkibatnya tatanan rumah tangga hancur dan dampaknya masyarakat diantar ke bibir jurang kehancuran. Naudzubillah min dzalik!!! Kita berlindung kepada Allah dari yang demikian. Jauh sebelumnya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah memperingatkan kita akan makar iblis terhadap anak Adam. Bagaimana iblis begitu bergembira bila anak buahnya dapat menghancurkan sebuah keluarga, memutuskan hubungan antara suami dengan istri sebagai dua tonggak dalam kehidupan keluarga. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda :

“ Sesungguhnya Iblis meletakkan singgasananya di atas air kemudian ia mengirim tentara- tentaranya. Maka yang paling dekat di antara mereka dengan iblis adalah yang paling besar fitnah yang ditimbulkannya. Datang salah seorang dari mereka seraya berkata: Aku telah melakukan ini dan itu. Maka Iblis menjawab: “Engkau belum melakukan apa-apa”.

Lalu datang yang lain seraya berkata:

“Tidaklah aku meninggalkan dia (manusia yang digodanya) hingga aku berhasil memisahkan dia dengan istrinya”. Maka Iblis pun mendekatkan anak buahnya tersebut dengan dirinya dan memujinya dengan berkata: “Ya, engkaulah “. (Hadits riwayat Muslim dalam Shahihnya, Kitab Shifatul Qiyamah wal Jannah wan Naar, Bab Tahrisyu Asy Syaithan wa Ba`tsuhu Sarayahu Li Fitnatin Naas, 17/157- Syarah Nawawi)

Dalam Syarah Shahih Muslim (17/157) berkata Imam Nawawi rahimahullah menjelaskan hadits di atas bahwa Iblis bermarkas di lautan dan dari situlah ia mengirim tentara-tentaranya ke penjuru bumi. Iblis memuji anak buahnya yang berhasil memisahkan antara suami dengan istrinya karena kagum dengan apa yang dilakukannya dan ia dapat mencapai puncak tujuan yang dikehendaki iblis. Sebegitu kuat ambisi iblis dan para syaitan sebagai tentaranya untuk menghancurkan kehidupan keluarga hingga mereka bersedia membantu syaitan dari kalangan manusia untuk mengerjakan sihir yang dapat memisahkan suami dengan istrinya.

Allah Ta`ala berfirman menyebutkan ihwal orang–orang Yahudi yang biasa melakukan pekerjaan kufur ini (sihir) guna memisahkan pasangan suami istri:

“ Orang-orang Yahudi itu mengikuti apa yang dibacakan para syaitan pada masa kerajaan Nabi Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir) padahal Sulaiman tidaklah kafir (mengerjakan sihir) namun syaitan- syaitan itulah yang kafir. Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua malaikat di Babil yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan sesuatu kepada seorangpun sebelum keduanya mengatakan:

“Kami hanyalah ujian (cobaan) bagimu maka janganlah engkau kufur dengan belajar sihir”. Maka mereka mempelajari sihir dari keduanya yang dengan sihir tersebut mereka bisa memisahkan antara suami dengan istrinya… ” (Al Baqarah: 102)

Kita berlindung kepada Allah ta`ala dari kejahatan sihir dan pelakunya! Pembaca yang semoga dirahmati Allah ta`ala. ketahuilah, suatu keluarga baru memiliki nilai lebih bila bangunan keluarga itu ditegakkan di atas dasar takwa kepada Allah Ta`ala. Untuk kepentingan ini perlu dipersiapkan anggota keluarga yang shalih, tentunya dimulai dari pasangan suami istri.

Seorang pria ketika akan menikah hendaknya mempersiapkan diri dan melihat kemampuan dirinya. Dia harus membekali diri dengan ilmu agama agar dapat memfungsikan dirinya sebagai qawwam (pemimpin) yang baik dalam rumah tangga. Karena Allah Ta`ala telah menetapkan:

“ Kaum pria itu adalah pemimpin atas kaum wanita disebabkan Allah telah melebihkan sebagian mereka (melebihkan kaum pria) di atas sebagian yang lain (di atas kaum wanita) dan karena kaum pria telah membelanjakan harta-harta mereka untuk menghidupi wanita… “. ( An Nisa: 34)

Hendaknya seorang pria menjatuhkan pilihan hidupnya kepada wanita yang shalihah karena demikian yang dituntunkan oleh Nabi kita yang mulia Muhammad shallallahu alaihi wasallam. Beliau Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda tentang kelebihan wanita yang shalihah:

“ Dunia itu adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita shalihah “. (HR. Muslim dalam Shahihnya, Kitab Ar Radlaa`, Bab Istihbaab Nikaahil Bikr. 10/56, Syarah Nawawi)

“ Ada empat perkara yang termasuk dari kebahagiaan: istri yang shalihah, tempat tinggal yang luas, tetangga yang shalih dan tunggangan (kendaraan) yang nyaman. Dan ada empat perkara yang termasuk dari kesengsaraan: tetangga yang jelek, istri yang jelek (tidak shalihah), tunggangan yang jelek dan tempat tinggal yang sempit“. (HR. Ibnu Hibban. Hadits ini dishahihkan Syaikh Muqbil rahimahullah dalam kitab beliau ” Ash Shahihul Musnad Mimma Laysa fish Shahihain” 1/277)

Beliau Shallallahu ‘alaihi Wasallam mengabarkan:

“ Wanita itu dinikahi karena empat perkara yaitu karena hartanya, kedudukannya (keturunannya), kecantikannya dan agamanya. Maka pilihlah wanita yang memiliki agama, taribat yadaa k “. (HR. Bukhari dalam Shahihnya no. 5090, Kitab An Nikah, bab Al Akfaau fid Dien, dan Muslim dalam Shahihnya, Kitab Ar Radla, bab Istihbaab Nikahi Dzatid Dien, 10/51, Syarah Nawawi)

Imam Nawawi rahimahullah menyatakan bahwa yang benar tentang makna hadits di atas adalah Nabi shallallahu alaihi wasallam mengabarkan tentang kebiasaan yang dilakukan manusia. Mereka ketika hendak menikah memilih wanita dengan melihat empat perkara tersebut dan mereka mengakhirkan pertimbangan agama si wanita . Maka hendaklah engkau wahai orang yang meminta bimbingan memilih wanita yang baik agamanya. (Shahih Muslim bi Syarhin Nawawi, 10/51-52)

Imam Nawawi melanjutkan:

“ Dalam hadits ini ada hasungan untuk bergaul/berteman dengan orang yang memiliki agama baik dalam segala sesuatu karena berteman dengan mereka bisa mengambil faedah dari akhlak mereka, barakah mereka dan baiknya jalan hidup mereka, di samping itu kita aman dari kerusakan yang ditimbulkan mereka “. (10/52)

Masalah agama ini juga harus menjadi pertimbangan seorang wanita ketika ia memutuskan untuk menerima pinangan seorang pria, karena pria yang shalih ini bila mencintai istrinya maka ia akan memuliakannya, namun bila ia tidak mencintai istrinya maka ia tidak akan menghinakannya.

Dan hal ini harus menjadi perhatian wali si wanita karena Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda :

“ Apabila datang kepada kalian (para wali wanita) orang yang kalian ridla agama dan akhlaknya (untuk meminang wanita yang di bawah perwalian kalian) maka nikahkanlah laki-laki itu, kalau tidak kalian lakukan hal tersebut niscaya akan terjadi fitnah di muka bumi dan terjadi kerusakan yang merata “. (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, dll)

Di antara yang dijadikan Islam sebagai tujuan berumah tangga dan dibentuknya sebuah keluarga adalah untuk memperbanyak umat Muhammad shallallahu alaihi wasallam. Karena itu ketika datang seorang pria menghadap beliau dan mengatakan :

“ Aku mendapatkan seorang wanita yang memiliki kecantikan dan keturunan namun ia tidak dapat melahirkan (mandul), apakah boleh aku menikahinya ?” Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menjawab: “Jangan menikahinya”.

Kemudian pria tadi datang menghadap Nabi untuk kedua kalinya dan mengutarakan keinginannya untuk menikahi wanita tersebut, namun beliau melarangnya. Kemudian ia datang lagi untuk ketiga kalinya, maka beliau shallallahu alaihi wasallam bersabda :

“Nikahilah oleh kalian wanita yang penyayang lagi subur (banyak anaknya) karena aku akan berbangga-bangga dengan banyaknya kalian di hadapan umat-umat yang lain “. (HR. Abu Daud dan Nasai. Dishahihkan oleh Syaikh Muqbil dalam “Ash Shahihul Musnad Mimma Laysa fis Shahihain” 2/211)

Bila setiap muslim memperhatikan dan melaksanakan dengan baik apa yang ditetapkan dan digariskan oleh syariat agamanya niscaya ia akan mendapatkan kelurusan dan ketenangan dalam hidupnya, termasuk dalam kehidupan berkeluarga. Dan dia benar-benar dapat merasakan tanda kekuasaan Allah ta`ala sebagaimana dalam firman-Nya;

“ Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya Dia menciptakan untuk kalian pasangan-pasangan kalian dari diri-diri (jenis) kalian sendiri agar kalian merasa tenang dengan keberadaaan mereka dan Dia menjadikan di antara kalian rasa cinta dan kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda –tanda bagi kaum yang mau berfikir “. (Ar Ruum: 21 )

Wallahu ta`ala a`lam bishawwab.

Dikutip dari: http://www.asysyariah.com Penulis : Ummu Ishaq Zulfa Husein Al Atsariyyah Judul: Keluarga Dalam Pandangan Islam

Share:

KISAH SETAN MENGAJARI AYAT KURSI KEPADA ABU HURAIRA RA

Tahukah kalian bahwa sahabat mulia Abu Hurairah pernah mendapat pengajaran ilmu dari setan?

Dia pernah diajarkan ayat kursi dan diberitahukan manfaatnya oleh setan bahwa dengan membaca ayat kursi sebelum tidur, Allah akan memberikan penjagaan dan setan pun tidak mengganggu hingga pagi hari.

Hal ini yang menunjukkan keutamaan ayat kursi. Dalam Shahih Bukhari disebutkan kisah di atas secara lengkap sebagai berikut,

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu , ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mewakilkan padaku untuk menjaga zakat Ramadhan (zakat fitrah). Lalu ada seseorang yang datang dan menumpahkan makanan dan mengambilnya. Aku pun mengatakan,

“Demi Allah, aku benar-benar akan mengadukanmu pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam .”

Lalu ia berkata, “Aku ini benar-benar dalam keadaan butuh. Aku memiliki keluarga dan aku pun sangat membutuhkan ini.”

Abu Hurairah berkata, “Aku membiarkannya. Lantas di pagi hari, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata padaku: “ Wahai Abu Hurairah, apa yang dilakukan oleh tawananmu semalam?”

Aku pun menjawab, “Wahai Rasulullah, dia mengadukan bahwa dia dalam keadaan butuh dan juga punya keluarga. Oleh karena itu, aku begitu kasihan padanya sehingga aku melepaskannya.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “ Dia telah berdusta padamu dan dia akan kembali lagi.

Aku pun tahu bahwasanya ia akan kembali sebagaimana yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam katakan. Aku pun mengawasinya, ternyata ia pun datang dan menumpahkan makanan, lalu ia mengambilnya. Aku pun mengatakan, “Aku benar-benar akan mengadukanmu pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam .”

Lalu ia berkata, “Biarkanlah aku, aku ini benar- benar dalam keadaan butuh. Aku memiliki keluarga dan aku tidak akan kembali setelah itu.” Abu Hurairah berkata, “Aku pun menaruh kasihan padanya, aku membiarkannya.

Lantas di pagi hari, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata padaku: “ Wahai Abu Hurairah, apa yang dilakukan oleh tawananmu? ” Aku pun menjawab, “Wahai Rasulullah, dia mengadukan bahwa dia dalam keadaan butuh dan juga punya keluarga. Oleh karena itu, aku begitu kasihan padanya sehingga aku melepaskannya pergi.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “ Dia telah berdusta padamu dan dia akan kembali lagi.

Pada hari ketiga, aku terus mengawasinya, ia pun datang dan menumpahkan makanan lalu mengambilnya. Aku pun mengatakan, “Aku benar-benar akan mengadukanmu pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam . Ini sudah kali ketiga, engkau katakan tidak akan kembali namun ternyata masih kembali.

Ia pun berkata, “Biarkan aku. Aku akan mengajari suatu kalimat yang akan bermanfaat untukmu.”

Abu Hurairah bertanya, “Apa itu?”

Ia pun menjawab, “Jika engkau hendak tidur di ranjangmu, bacalah ayat kursi ‘Allahu laa ilaha illa huwal hayyul qoyyum … ‘ hingga engkau menyelesaikan ayat tersebut. Faedahnya, Allah akan senantiasa menjagamu dan setan tidak akan mendekatimu hingga pagi hari.”

Abu Hurairah berkata, “Aku pun melepaskan dirinya dan ketika pagi hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya padaku, “ Apa yang dilakukan oleh tawananmu semalam? ” Abu Hurairah menjawab, “Wahai Rasulullah, ia mengaku bahwa ia mengajarkan suatu kalimat yang Allah beri manfaat padaku jika membacanya. Sehingga aku pun melepaskan dirinya.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, “ Apa kalimat tersebut? ”

Abu Hurairah menjawab, “Ia mengatakan padaku, jika aku hendak pergi tidur di ranjang, hendaklah membaca ayat kursi hingga selesai yaitu bacaan ‘ Allahu laa ilaha illa huwal hayyul qoyyum’ . Lalu ia mengatakan padaku bahwa Allah akan senantiasa menjagaku dan setan pun tidak akan mendekatimu hingga pagi hari. Dan para sahabat lebih semangat dalam melakukan kebaikan.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda, “ Adapun dia kala itu berkata benar, namun asalnya dia pendusta. Engkau tahu siapa yang bercakap denganmu sampai tiga malam itu, wahai Abu Hurairah?”

“Tidak”, jawab Abu Hurairah.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “ Dia adalah setan.” (HR. Bukhari no. 2311).

Beberapa faedah dari hadits di atas:

1- Imam Bukhari membawakan hadits di atas dalam Bab “Jika seseorang mewakilkan pada orang lain (suatu barang), lalu yang diwakilkan membiarkannya (diambil), kemudian yang mewakilkan menyetujuinya setelah itu, maka itu boleh. Dan jika dia juga berniat meminjamkan hingga tempo tertentu, juga dibolehkan.”

2- Al Muhallab rahimahullah berkata, “Pelajaran yang bisa diambil dari judul bab, jika yang mewakilkan tidak menyetujuinya, maka orang yang diwakilkan tidak boleh melakukannya.”

3- Hadits ini menunjukkan bahwa zakat fitrah boleh dikumpulkan terlebih dahulu sebelum dibagikan. Sedangkan waktu penyalurannya adalah pada saat malam hari raya Idul Fithri.

4- Ketika pencuri dalam hadits tersebut mengadu pada Abu Hurairah tentang keadaannya yang sangat butuh, Abu Hurairah meninggalkannya. Jadi, seakan-akan Abu Hurairah meminjamkan zakat tersebut pada pencuri tadi hingga waktu tertentu, yaitu ditunaikan saat penyaluran zakat (saat malam Idul Fithri).

5- Boleh mengadukan suatu kemungkaran pada hakim.

6- Hadits ini menunjukkan bahwa jin itu ada yang miskin karena dalam riwayat Abu Mutawakkil sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Hajar disebutkan bahwa setan yang mencuri tersebut mengambil zakat fitrah tadi untuk dibagikan pada fuqoro’ (para fakir) dari kalangan jin.

7- Maksud dari bacaan yang diajarkan setan dapat membawa manfaat adalah jika diucapkan, maka setan laki-laki maupun perempuan tidak akan mengganggu atau mendekat sebagaimana disebutkan dalam riwayat Abu Mutawakkil yang dinukil oleh Ibnu Hajar.

8- Setan itu ada laki-laki dan perempuan.

9- Sifat seorang muslim adalah selalu membenarkan perkataan Nabinya. Lihatlah bagaimana Abu Hurairah begitu menaruh percaya pada perkataan Rasulnya bahwa besok pencuri tersebut akan datang.

10- Dalam riwayat Abu Mutawakkil disebutkan bahwa ayat kursi yang disebutkan dalam hadits dibaca ketika pagi dan petang. Sedangkan riwayat Bukhari di atas menyebutkan bahwa ayat kursi tersebut diamalkan sebelum tidur.

11- Hadits ini menunjukkan keutamaan (fadhilah ) dari membaca Al Qur’an dan ayat kursi yaitu kita akan mendapatkan penjagaan Allah dan terlindung dari gangguan setan.

12- Para sahabat adalah orang yang paling semangat dalam melakukan kebaikan. Oleh karenanya, jika ada satu kebaikan yang tidak mereka lakukan, maka itu tanda amalan itu bukan kebaikan.

13- Setan itu asalnya pendusta.

14- Setan bisa saja mengajarkan sesuatu yang bermanfaat pada orang beriman.

15- Orang fajir (yang gemar maksiat) seperti setan kadang tidak membawa manfaat, lain waktu kadang membawa manfaat.

16- Bisa saja seseorang mengilmui sesuatu namun ia tidak mengamalkannya.

17- Bisa saja orang kafir itu benar dalam sesuatu yang tidak ditemui pada seorang muslim.

18- Orang yang biasa dusta bisa saja jujur pada satu waktu.

19- Setan bisa berubah wujud jadi manusia sehingga bisa dilihat.

20- Hadits ini juga menunjukkan bahwa jin juga memiliki makanan yang sama seperti manusia. 21- Jin bisa berbicara dengan bahasa yang digunakan manusia.

22- Jin bisa mencuri dan mengelabui orang lain.

23- Jin akan menyantap makanan yang tidak disebut nama Allah di dalamnya.

24- Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bisa mengetahui hal yang ghaib. 25- Boleh mengumpulkan zakat fitrah sebelum malam Idul Fithri.

26- Boleh menyerahkan zakat fitrah pada wakil untuk menjaga dan menyalurkannya.

27- Dari mana pun ilmu, dari setan sekali pun boleh diterima. Asalkan diketahui bahwa itu benar atau ada bukti benarnya. Namun jika tidak diketahui bukti benarnya, maka tidak boleh mengambil ilmu dari penjahat atau ahli maksiat.

Faedah berharga di atas, kami kembangkan dan ringkaskan dari penjelasan Ibnu Hajar Al Asqolani dalam Fathul Bari , 6: 487-490.

Semoga bermanfaat. Hanya Allah yang memberi taufik.

Referensi: Fathul Bari bi Syarh Shahih Al Bukhari , Ibnu Hajar Al Asqolani, terbitan Dar Thiybah, cetakan keempat, tahun 1432 H

Share:

Selasa, 16 Agustus 2016

TAFSIR SURAT AL-ZALZALAH

Setiap kebaikan yang dilakukan walau hanya sebesar dzarrah (kecil) akan dibalas, begitu pula yang beramal kejelekan walau kecil akan dibalas.


Dan perlu diketahui bahwa kejadian pada hari kiamat begitu dahsyat, manusia akan terheran-heran kenapa bumi yang biasa tenang jadi bergoncang.

Allah Ta’ala berfirman:

“ Apabila bumi digoncangkan dengan goncangan (yang dahsyat), dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya, dan manusia bertanya: “Mengapa bumi (menjadi begini)?”, pada hari itu bumi menceritakan beritanya, karena sesungguhnya Rabbmu telah memerintahkan (yang sedemikian itu) kepadanya. Pada hari itu manusia ke luar dari kuburnya dalam keadaan bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka. Barangsiapa yang mengerjakan kebaikansekecil apa pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatansekecil apa pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula .” (QS. Al Zalzalah: 1-8)

Dalam surat ini, Allah mengabarkan apa yang terjadi pada hari kiamat di mana saat itu bumi bergoncang begitu dahsyatnya dan meruntuhkan segala yang ada di atasnya. Juga akan diterangkan bagaimanakah setiap amalan baik dan jelek akan menuai balasannya. Bumi Bergoncang Ibnu ‘Abbas berkata mengenai ayat,

ﺇِﺫَﺍ ﺯُﻟْﺰِﻟَﺖِ ﺍﻟْﺄَﺭْﺽُ ﺯِﻟْﺰَﺍﻟَﻬَﺎ

“ Apabila bumi digoncangkan dengan goncangan (yang dahsyat) “, maksudnya adalah bumi bergoncang dari bawahnya. (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 7: 627).

Hal ini sebagaimana firman Allah dalam surat lainnya,

 ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟﻨَّﺎﺱُ ﺍﺗَّﻘُﻮﺍ ﺭَﺑَّﻜُﻢْ ﺇِﻥَّ ﺯَﻟْﺰَﻟَﺔَ ﺍﻟﺴَّﺎﻋَﺔِ ﺷَﻲْﺀٌ ﻋَﻈِﻴﻢٌ

“ Hai manusia, bertakwalah kepada Rabbmu; sesungguhnya kegoncangan hari kiamat itu adalah suatu kejadian yang sangat besar (dahsyat). ” (QS. Al Hajj: 1).

Bumi Mengeluarkan Isinya Dalam ayat selanjutnya disebutkan,

 ﻭَﺃَﺧْﺮَﺟَﺖِ ﺍﻟْﺄَﺭْﺽُ ﺃَﺛْﻘَﺎﻟَﻬَﺎ “

Dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya.“ Para ulama katakan bahwa ayat tersebut berarti bumi mengeluarkan mayit yang ada di dalamnya. Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 9: 627.

Hal ini semisal dengan ayat,

 ﻭَﺇِﺫَﺍ ﺍﻟْﺄَﺭْﺽُ ﻣُﺪَّﺕْ ‏( 3‏) ﻭَﺃَﻟْﻘَﺖْ ﻣَﺎ ﻓِﻴﻬَﺎ ﻭَﺗَﺨَﻠَّﺖْ ‏( 4

“Dan apabila bumi diratakan, dan dilemparkan apa yang ada di dalamnya dan menjadi kosong.” (QS. Al Insyiqaq: 3-4).

Apa yang Sebenarnya Terjadi dengan Bumi? Allah Ta’ala berfirman,

 ﻭَﻗَﺎﻝَ ﺍﻟْﺈِﻧْﺴَﺎﻥُ ﻣَﺎ ﻟَﻬَﺎ

“ Dan manusia bertanya: “Mengapa bumi (menjadi begini)?

“ Maksudnya di sini sebagaimana disampaikan oleh Ibnu Katsir, bumi sebelumnya dalam keadaan tenang lalu berubah keadaannya menjadi bergoncang. Itu sudah jadi ketentuan Allah, tidak ada yang bisa menolaknya. Ketika bergoncang, keluarlah berbagai mayit dari orang terdahulu dan orang belakangan.

Bumi Berbicara … Ketika itu bumi pun berbicara,

 ﻳَﻮْﻣَﺌِﺬٍ ﺗُﺤَﺪِّﺙُ ﺃَﺧْﺒَﺎﺭَﻫَﺎ ‏( 4‏) ﺑِﺄَﻥَّ ﺭَﺑَّﻚَ ﺃَﻭْﺣَﻰ ﻟَﻬَﺎ ‏( 5 )

“ Pada hari itu bumi menceritakan beritanya, karena sesungguhnya Rabbmu telah memerintahkan (yang sedemikian itu) kepadanya “.

Syaikh As Sa’di rahimahullah menerangkan, “Bumi menjadi saksi bagi setiap orang yang telah beramal dahulu di atasnya. Bumi dahulu telah menjadi saksi amalan setiap hamba. Dan Allah memerintahkan untuk memberitahukan amalan-amalan manusia, perintah ini harus dijalankan (jangan didurhakai).” (Taisir Al Karimir Rahman, hal. 932).

Bumi Menjadi Saksi bagi Orang yang Rajin Berdzikir Ibnul Qayyim berkata, “Orang yang senantiasa berdzikir di jalan, di rumah, di lahan yang hijau, ketika safar, atau di berbagai tempat, itu akan membuatnya mendapatkan banyak saksi di hari kiamat. Karena tempat-tempat tadi, semisal gunung dan tanah, akan menjadi saksi baginya di hari kiamat.

Kita dapat melihat hal ini pada firman Allah Ta’ala ,

ﺇِﺫَﺍ ﺯُﻟْﺰِﻟَﺖِ ﺍﻟْﺄَﺭْﺽُ ﺯِﻟْﺰَﺍﻟَﻬَﺎ ‏( 1‏) ﻭَﺃَﺧْﺮَﺟَﺖِ ﺍﻟْﺄَﺭْﺽُ ﺃَﺛْﻘَﺎﻟَﻬَﺎ ‏( 2‏) ﻭَﻗَﺎﻝَ ﺍﻟْﺈِﻧْﺴَﺎﻥُ ﻣَﺎ ﻟَﻬَﺎ ‏( 3‏) ﻳَﻮْﻣَﺌِﺬٍ ﺗُﺤَﺪِّﺙُ ﺃَﺧْﺒَﺎﺭَﻫَﺎ ‏( 4‏) ﺑِﺄَﻥَّ ﺭَﺑَّﻚَ ﺃَﻭْﺣَﻰ ﻟَﻬَﺎ ‏( 5

“ Apabila bumi digoncangkan dengan goncangan (yang dahsyat), dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya, dan manusia bertanya: “Mengapa bumi (menjadi begini)? “, pada hari itu bumi menceritakan beritanya, karena sesungguhnya Tuhanmu telah memerintahkan (yang sedemikian itu) kepadanya.” (QS. Az Zalzalah: 1-5)”.

Lihat Al Wabilush Shoyyib, hal. 197. Manusia Keluar …

 Allah Ta’ala berfirman,

 ﻳَﻮْﻣَﺌِﺬٍ ﻳَﺼْﺪُﺭُ ﺍﻟﻨَّﺎﺱُ ﺃَﺷْﺘَﺎﺗًﺎ ﻟِﻴُﺮَﻭْﺍ ﺃَﻋْﻤَﺎﻟَﻬُﻢْ

“ Pada hari itu manusia keluar dari kuburnya dalam keadaan bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka .”

Maksudnya adalah pada hari kiamat, manusia dikeluarkan dari bumi dalam keadaan beraneka ragam lalu ditampakkan kebaikan dan kejelekan yang pernah mereka lakukan, kemudian mereka akan melihat balasannya. Balasan bagi yang Berbuat Baik dan yang Berbuat Jelek.

Allah Ta’ala berfirman,

ﻓَﻤَﻦْ ﻳَﻌْﻤَﻞْ ﻣِﺜْﻘَﺎﻝَ ﺫَﺭَّﺓٍ ﺧَﻴْﺮًﺍ ﻳَﺮَﻩُ ‏( 7‏) ﻭَﻣَﻦْ ﻳَﻌْﻤَﻞْ ﻣِﺜْﻘَﺎﻝَ ﺫَﺭَّﺓٍ ﺷَﺮًّﺍ ﻳَﺮَﻩُ ‏( 8 )

“ Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan sekecil apa pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sekecil apa pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula .“ Ini adalah balasan bagi yang berbuat baik dan jelek. Walau yang dilakukan adalah sebesar dzarrah (ukuran yang kecil atau sepele), maka itu akan dibalas. Tentu lebih pantas lagi jika ada yang beramal lebih dari itu dan akan dibalas.

Allah Ta’ala berfirman,

ﻳَﻮْﻡَ ﺗَﺠِﺪُ ﻛُﻞُّ ﻧَﻔْﺲٍ ﻣَﺎ ﻋَﻤِﻠَﺖْ ﻣِﻦْ ﺧَﻴْﺮٍ ﻣُﺤْﻀَﺮًﺍ ﻭَﻣَﺎ ﻋَﻤِﻠَﺖْ ﻣِﻦْ ﺳُﻮﺀٍ ﺗَﻮَﺩُّ ﻟَﻮْ ﺃَﻥَّ ﺑَﻴْﻨَﻬَﺎ ﻭَﺑَﻴْﻨَﻪُ ﺃَﻣَﺪًﺍ ﺑَﻌِﻴﺪًﺍ

“ Pada hari ketika tiap-tiap diri mendapati segala kebajikan dihadapkan (dimukanya), begitu (juga) kejahatan yang telah dikerjakannya; ia ingin kalau kiranya antara ia dengan hari itu ada masa yang jauh .“ (QS. Ali Imran: 30).

ﻭَﻭَﺟَﺪُﻭﺍ ﻣَﺎ ﻋَﻤِﻠُﻮﺍ ﺣَﺎﺿِﺮًﺍ ﻭَﻟَﺎ ﻳَﻈْﻠِﻢُ ﺭَﺑُّﻚَ ﺃَﺣَﺪًﺍ

 “ Dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis). ” (QS. Al Kahfi: 49).

Kata Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahimahullah, “Ayat ini memotivasi untuk beramal baik walau sedikit. Begitu pula menunjukkan ancaman bagi yang beramal jelek walau itu kecil.” (Taisir Al Karimir Rahman, hal. 932).

Hanya Allah yang memberi taufik untuk mengingat hari akhir dan memberi petunjuk beramal sholeh.

Share:

Label

POPCASH