Jangan lupa bagikan jika bermanfaat

Minggu, 05 Mei 2019

ADAB-ADAB BERPUASA


Adab-Adab Puasa



ADAB-ADAB PUASA
Oleh
Syaikh Abdul Azhim bin Badawi al-Khalafi
12. Adab-Adab Puasa
Dianjurkan bagi orang yang berpuasa untuk memperhatikan beberapa adab berikut ini:
a. Makan Sahur
Diriwayatkan dari Anas Radhiyallahu anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِي السَّحُوْرِ بَرَكَةً.
“Makan sahurlah kalian karena sesungguhnya pada sahur itu terdapat berkah.”[1]
Dan telah terhitung makan sahur walaupun hanya dengan seteguk air, berdasarkan hadits ‘Abdullah bin ‘Amr Radhiyallahu anhuma, dia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
تَسَحَّرُوا وَلَوْ بِجُرْعَةِ مَاءٍ.
“Makan sahurlah kalian meski hanya dengan seteguk air.” [2]
Disunnahkan untuk mengakhirkan makan sahur, sebagaimana yang diriwayatkan dari Anas, dari Zaid bin Tsabit, dia berkata, “Kami pernah makan sahur bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, setelah itu beliau langsung berangkat shalat. Aku bertanya, ‘Berapa lama jarak antara adzan dan sahur?’ Dia menjawab, ‘Kira-kira sama seperti bacaan 50 ayat.’” [3]
Jika adzan telah terdengar dan makanan atau minuman masih di tangannya, maka boleh ia memakan atau meminumnya, berdasarkan hadits Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;
إِذَا سَمِعَ أَحَدُكُمُ النِّدَاءَ وَاْلإِنَاءُ عَلَى يَدِهِ فَلاَ يَضَعْهُ حَتَّى يَقْضِيَ حَاجَتَهُ مِنْهُ.
“Barangsiapa di antara kalian yang mendengar adzan (Shubuh) dan bejana (makanan) masih di tangannya, maka janganlah ia menaruhnya sebelum ia menyelesaikan makannya.” [4]
b. Menahan diri dari pembicaraan yang tidak bermanfaat dan kata-kata kotor, atau yang semisal dengannya dari hal-hal yang bertentangan dengan tujuan puasa
Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِذَا كَانَ يَوْمَ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلاَ يَرْفُثْ وَلاَ يَصْخَبْ وَلاَ يَجْهَلْ, فَإِذَا شَاتَمَهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ فَليَقُلْ إِنِّيْ صَائِمٌ.
“Jika pada hari salah seorang diantara kalian berpuasa, maka janganlah ia mengucapkan kata-kata kotor, membuat kegaduhan dan tidak juga melakukan perbuatan orang-orang bodoh. Dan jika ada orang yang mencacinya atau menyerangnya, maka hendaklah ia mengatakan, ‘Sesungguhnya aku sedang berpuasa.’” [5]
Juga diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, dia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّوْرِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلِيْسَ ِللهِ حَاجَةٌ فِيِ أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ.
“Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan mengerjakannya, maka Allah tidak memerlukan orang itu untuk meninggalkan makanan dan minumannya (puasanya).” [6]
c. Sifat dermawan dan memperbanyak bacaan al-Qur-an
Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, dia berkata, “Sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling pemurah dalam kebaikan dan beliau akan lebih dermawan (dari hari-hari biasanya) pada bulan Ramadhan, ketika Jibril datang menemuinya dan adalah Jibril selalu datang menemuinya setiap malam dari malam-malam bulan Ramadhan, hingga Ramadhan selesai, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membacakan al-Qur-an kepada Jibril. Dan di saat ia bertemu Jibril beliau lebih pemurah (lembut) dari angin yang berhembus dengan lembut.” [7]
d. Menyegerakan berbuka (ta’-jil)
Diriwayatkan dari Sahl bin Sa’ad Radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لاَ يَزَالُ النّاَسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ.
“Umat manusia akan tetap baik selama mereka menyegerakan berbuka puasa.”[8]
e. Berbuka puasa dengan apa yang mudah didapatkan baginya dari hal-hal tersebut dalam hadits berikut
Diriwayatkan dari Anas, dia berkata, “Nabi biasa berbuka dengan ruthab (kurma segar) sebelum mengerjakan shalat. Jika beliau tidak mendapatkan ruthab, maka beliau berbuka dengan beberapa buah tamr (kurma masak yang sudah lama dipetik) dan jika tidak mendapatkan tamr, maka beliau meminum air.”[9]
f. Berdo’a ketika berbuka puasa dengan do’a yang terdapat dalam hadits berikut ini
Diriwayatkan dari Ibnu ‘Umar Radhiyallahu anhuma, dia berkata, “Bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam jika berbuka puasa selalu membaca:
ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوْقُ وَثَبَتَ اْلأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللهُ.
“Telah hilang rasa haus dan telah basah urat-urat, serta telah ditetapkan pahala, insya Allah.” [10]
[Disalin dari kitab Al-Wajiiz fii Fiqhis Sunnah wal Kitaabil Aziiz, Penulis Syaikh Abdul Azhim bin Badawai al-Khalafi, Edisi Indonesia Panduan Fiqih Lengkap, Penerjemah Team Tashfiyah LIPIA – Jakarta, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir, Cetakan Pertama Ramadhan 1428 – September 2007M]
_______
Footnote
[1]. Muttafaq ‘alaihi: Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari IV/139, no. 1923), Shahiih Muslim (II/770, no. 1095), Sunan at-Tirmidzi (II/106, no. 703), Sunan an-Nasa-i (IV/141), Sunan Ibni Majah (I/540, no. 1692).
[2]. Shahih: [Shahiih al-Jaami’ish Shaghiir (no. 2945)], Shahiih Ibni Hibban (no. 223, 884).
[3]. Muttafaq ‘alaihi: Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari IV/138, no. 1921), Shahiih Muslim (II/771, no. 1097), Sunan at-Tirmidzi (II/104, no. 699), Sunan an-Nasa-i (IV/143), Sunan Ibni Majah (I/540, no. 1694).
[4]. Shahih: [Shahiih al-Jaami’ish Shaghiir (no. 607)], Sunan Abi Dawud (VI/475, no. 2333), Mustadrak al-Hakim (I/426).
[5]. Penggalan dari hadits: “Setiap amal anak Adam adalah untuknya sendiri…” dan telah berlalu takhrijnya.
[6]. Shahih: [Mukhtashar Shahiih al-Bukhari (no. 921)], Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (IV/116, no. 1903), Sunan Abi Dawud (VI/488, no. 2345), Sunan at-Tirmidzi (II/105, no. 702).
[7]. Muttafaq ‘alaihi: Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari I/30, no. 6), Shahiih Muslim (IV/1803, no. 2308).
[8]. Muttafaq ‘alaihi: Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari IV/198, no. 1957), Shahiih Muslim (II/771, no. 1098), Sunan at-Tirmidzi (II/103, no. 695).
[9]. Hasan shahih: [Shahih Sunan Abi Dawud (no. 2065)], Sunan Abi Dawud (VI/ 481, no. 2339), Sunan at-Tirmidzi (II/102, no. 692).
[10]. Hasan: [Shahiih Sunan Abi Dawud (no. 2066)], Sunan Abi Dawud (VI/482, no. 2340).


Baca Selengkapnya : https://almanhaj.or.id/1630-adab-adab-puasa.html
Share:

Rabu, 03 April 2019

PUISI MADURA SANGKOLAN DA' NA' POTOH

Berikut adalah puisi madura, puisi ini adalah puisi pesan orang tua terhadapa anaknya untuk sekolah, mari kita baca dan pahami di setiap baitnya.




SANGKOLAN DA' NA' POTOH

- Adu kacong adu jhebbhing, bila engak dika ghik ngoda
- Tada' sangkol ebaghiah, dalem dada rasa caltong
- Tape kacong jha' ko' takok, odik nekah bede se ajaga
- Rambing lebar tas perao, ajhar pabejeng nyare elmo

- Wajar dikdas sangang taon, neka treka pamarenta
- Sabbhan taon ghun e dhisa, epaddheghi sakolaan
- Maddha kacong dha' jhebbing, dhuli jhagha dhika kabbhi
- Aeng enneng ghun e saba, asakola dhika ta' sala

- Bula neko maddha kakaca, odi' raja ghun kare toa
- Tada' dhunya tada' nape, coma kasta tada' pada
- Laos konce tor jharango, epapesa ghabay jhapa
- Alos beccek tadek elmo, aba' apes aba' nespa

- Maddha kacong pongpong ghi' ngoda, landu' are' dhuli keba
- Tana bhentar ghun esaba, tada' landu' ta' anyaba
- Settong bei nyapcap pello, aeng leke' pon ka oloh
- Jhagung tanto ekatolo, sabhalana pade melo

- Senga' kacong bule ta' manglo, bila dika tedung malolo
- Bule coma dharma maenga', odi' dhika benne bula
- Tompol tajemma ca'na dhika, etorodha eghangsea
- Senga' kacong jha' pesala, bila sala mele tanto ta' bisa atole.

Shere jika bermanaaf, trima kasih 🙏🙏

Baca juga postingan lainnya, scroll kebawah!!!
Share:

Minggu, 31 Maret 2019

Pengamalan nilai pancasila dalam kehidupan sehari-hari

Image result for pancasila 


Pancasila merupakan Ideologi dan dasar negara Indonesia. Pancasila dirancang oleh PPKI yang saat itu dipimpin oleh Ir.Soekarno. 

Sebegai warga Indonesia yang baik, tentu kita harus menghafal, menerapkan dan mengamalkan nilai nilai yang terkandung dalam pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Berikut adalah cara mengamalkan dan menerapkan nilai-nilai pancasila...


Pancasila dirancang dan dibuat dengan perumusan yang matang, sehingga pancasila dapat menjadi dasar negara dan patokan dalam kehidupan bermasyarakat. 

A. Contoh Pengamalan Sila Pertama "Ketuhanan Yang Maha Esa"


  • Percaya dan Taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan agama dan kepercayaan masing-masing.
  • Hormat menghormati dan bekerjasama antara pemeluk agama dan penganut-penganut kepercayaan yang berbeda-beda.
  • Saling menghormati kebebasan menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaanya.
  • Tidak memaksakan suatu agama dan kepercayaan kepada orang lain.
  • Memiliki sikap toleransi antar umat beragama.
  • Tidak bersikap rasis terhadap pemeluk agama yang berbeda


B. Contoh Pengamalan Sila Ke-2 "Kemausiaan yang adil dan beradab"


  • Mengakui persamaan derajat, persamaan hak, dan persamaan kewajiban antara sesama manusia.
  • Saling mencintai sesama manusia.
  • Mengembangkan sikap tegang rasa.
  • Tidak semena-mena terhadap orang lain.
  • Menjunjung tinggi nilai kemanusiaan.
  • Gemar melakukan kegiatan kemanusiaan.
  • Berani membela kebenaran dan keadilan.
  • Menghormati dan menghargai bangsa, golongan, atau negara lain

C. Contoh Pengamalan Sila ke-3 "Persatuan Indonesia"


  • Menempatkan persatuan, kesatuan, dan kepentingan bangsa/negara diatas kepentingan pribadi dan golongan.
  • Rela berkorban untuk kepentingan bangsa.
  • Cinta tanah air dan bangsa.
  • Bangga sebagai bangsa Indonesia dan bertanah air Indonesia.
  • Memajukan pergaulan dan kesatuan bangsa yang ber-bhineka tunggal ika.
  • Bangga menggunakan bahasa persatuan yaitu bahasa Indonesia
  • Menjunjung tinggi persatuan dan kesatuan


D. Contoh Pengamalan sila ke-4 "Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan"


  • Mengutamakan kepentingan negara dan masyarakat.
  • Selalu mengikuti pemilihan presiden dan wakil presiden, gubernur, dan walikota.
  • Tidak memaksakan kehendak orang lain.
  • Mengutamakan musyawarah dalam mengambil keputusan untuk kepentingan bersama.
  • Musyawarah untuk mencapai mufakat diliputi oleh rasa kekeluargaan.
  • Dengan i'tikad yang baik dan rasa tanggung jawab menerima dan melaksanakan hasil musyawarah.
  • Musyawarah dilaksanakan dengan akal sehat dan hati yang luhur.
  • Keputusan yang diambil harus dapat dipertanggung jawabkan secara moral kepada Tuhan Yang Maha Esa.


E. Contoh Pengamalan Sila ke-3 "Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia"


  • Mengembangkan sikap dan perbuatan-perbuatan yang luhur yang mencerminkan sikap kekeluargaan dan gotong royong.
  • Bersikap adil
  • Menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban.
  • Senang memberi bantuan dan pertolongan terhadap orang lain.
  • Bekerja keras.
  • Tidak berfoya-foya dan bermewah-mewahan
  • Menghormati hak-hak orang lain.
  • Selalu berhemat dan tidak boros.
  • Tidak berbuat hal-hal yang merugikan kepentingan umum.
  • Berusaha mewujudkan "Keadilan Sosial" yang merata.
  • Tidak melakukan pemerasan terhadap orang lain.
  • Menghargai hasil karya orang lain.
  • Menghargai hak-hak orang lain.
Semoga bermanfaat. 
Sumber :  https://infindonesia.blogspot.com/2015/11/contoh-pengamalan-nilai-nilai-pancasila.html?m=1
Share:

Senin, 11 Maret 2019

Lelahmu memuliakanmu wahai para penuntut ilmu


Oleh : Ustadzah Weta Nur Rohmah
(Guru Kelas Iman Kuttab Awwal 1 KAF Jember)
“ Barangsiapa bersabar dengan kesusahan yang sebentar saja maka ia akan menikmati kesenangan yang panjang”(Thariq bin Ziyad)
Anak-anak kita… ada kalanya hati mereka jenuh saat terus berkutat dengan ilmu, menghafal Al Qur’an, hadist, do’a-do’a dan materi lainnya, mendengarkan nasehat dari ustadz ustadzah. Merasa lelah saat setiap hari harus belajar, belajar dan belajar. Di kuttab, belajar. Di rumah, belajar lagi. Menghafal terus. Merasa penat karena harus duduk tertib, diajarkan adab, adab dan adab. Anteng, tanpa mainan. Merasa berat dengan perjuangan menuntut ilmu sebagai bekal mujahid-mujahidah tangguh pejuang agama-Nya. Penerus dakwah Rasulullah SAW untuk meraih kembali kegemilangan Islam.
Mari rehat sejenak, kita renungkan nasehat Imam asy Syafi’i;
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup baru terasa setelah lelah berjuang
Aku melihat air menjadi keruh karena diam tertahan
Jika mengalir menjadi jernih, jika tidak, akan keruh menggenang
Singa, jika tak tinggalkan sarang tak akan dapat mangsa
Anak panah, jika tak tinggalkan busur tak akan kena sasaran
Biji emas bagaikan tanah sebelum digali dari tambang
Kayu gaharu tak ubahnya kayu biasa jika di dalam hutan.”
 Calon ahli ilmu tidak akan tinggal diam. Ia tempuh perjalanan jauh dari rumahnya untuk menuntut ilmu. Ia akan dapatkan ilmu yang membuatnya mulia dan tinggi derajatnya di sisi Rabb-Nya, ia akan dapatkan pengganti asyiknya mainan.
Tentunya kita juga belajar dari generasi hebat terdahulu, bagaimana beliau-beliaurahimakumullah, begitu besar semangatnya dalam menuntut ilmu. Sangat kuat ghirah perjuangannya untuk terus belajar. Rela menempuh perjalanan bermil-mil untuk memperlajari 1 bab ilmu. Bahkan hanya untuk mendapatkan 1 hadist, beliau tempuh perjalangan siang dan malam di tengah gurun pasir yang tandus, di bawah panas terik matahari dan dingin malam yang menggigit, dengan perbekalan yang sangat terbatas. Namun, beratnya perjuangan itu justru terasa ringan karena nikmatnya ilmu yang beliau-beliau rasakan. Sebagaimana Imam Ahmad yang ditanya oleh sahabatnya karena terlihat sangat bersemangat dan tidak mengenal lelah dalam menuntut ilmu, “ Kapankah engkau akan beristirahat? “dan MasyaaAllah beliau menjawab dengan mantab, “ Nanti, istirahatku ketika kakiku telah menapak di surga.”
 Niatkan; Menuntut ilmu dalam rangka berjuang fi sabilillah
Barangsiapa yang meninggal namun belum sempat berjuang di jalan Allah dan tidak pernah dalam dirinya (berniat) untuk berjuang di jalan Allah, maka ia meninggaldalam keadaan munafiq.
(HR. Ahmad, Muslim, Abu Dawud dan Nasai)
Mari niatkan setiap langkah anak-anak kita dalam rangka berjuang menuntut ilmu di sini, adalah semata-mata untuk mengharap keridhoan Allah, niat berjuangfi sabilillah. Kita mengamanahkan anak-anak belajar di kuttab bukan sekedar untuk mendapatkan nilai-nilai bagus di rapor, bukan sekedar meraih pujian dari ustadz ustadzah, bukan sekedar mengejar target hafalan, bukan sekedar untuk mengejar gelar, pekerjaan, jabatan, kekuasaan atau popularitas. Melainkan untuk bekal beramal dalam rangka meningkatkan kualitas ketaatan, mendapatkan derajat tinggi dan kemuliaan di hadapan Allah. “.. niscaya Allah mengangkat (derajat) orang-orang yang yang beriman dan orang-orang yang berilmu, beberapa derajat” (QS. Al Mujadilah: 11). Prestasi-prestasi duniawi hanyalah salah satu jembatan bagi kita mengukir prestasi akhirat. Sebagaimana ilmuan-ilmuan terdahulu luar biasa dalam ketaatan kepada Allah dan luar biasa pula dalam bidang ilmu pengetahuan/sains.
Terus berlelah-lelah berjuang mendapatkan ilmu agar semakin menjadi hamba-Nya yang bertakwa. Ya, agar lelah ini berujung pada ridha-Nya, berbuah jannah-Nya.
“ Barangsiapa yang menempuh jalan untuk untuk menuntut ilmu niscaya Allah akan memudahkan jalan baginya menuju surga. Sesungguhnya malaikat mengepakkan sayapnya sebagai tanda ridha bagi para penuntut ilmu. Sesungguhnya seorang alim akan dimohonkan ampunan oleh penduduk langit dan bumi serta ikan yang berada di lautan. Sesungguhnya keutamaan orang alim (berilmu) di atas ahli ibadah adalah seperti keutamaan bulan saat purnama di atas bintang-bintang. Sesungguhnya ulama itu pewaris para Nabi. Para Nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, melainkan mewariskan ilmu. Barangsiapa yang mengambil ilmu berarti mengambil bagian yang besar.”  (HR. Tirmidzi)
Wahai ayah dan bunda, mari kita tegarkan hati kita mengantarkan putra-putri kita berjuang menuntut ilmu di jalan Allah. Perjuangan yang akan menjadikan mereka generasi emas kebanggaan, memakaikan mahkota cahaya untuk ayah dan bunda kelak dan mengalirkan pahala yang terus mengalir tiada henti. Mari kita belajar dari ibunda para ulama terdahulu, salah satunya, Ibunda Sufyan Ats Tsauri;
“ Wahai anakku, tuntutlah ilmu dan ibu akan mencukupimu dengan hasil memintal. Wahai anakku, jika kamu menulis 10 kalimat, lihatlah apakah hatimu bertambah khusyuk dan taat, jika tidak demikian, ketahuilah sungguh itu membahayakanmu dan tidak membawa manfaat untukmu.” Beliau mendukung penuh, memberikan pembiayaan dan motivasi kuat untuk pendidikan putranya. Beliau juga membimbing dan mengarahkan bahwa tujuan menuntut ilmu adalah untuk menambah khusyuk dan taat kepada Allah.
Sebagaimana diteladankan juga oleh ibunda Imam Syafi’i, Fathimah binti Ubeidillah yang mengasuh Syafi’i sendirian semenjak ditinggal meninggal oleh suami. Ibunya berbesar hati melepasnya di usia 10 tahun untuk menuntut ilmu ke Mekkah. Kita juga meneladani kecerdasan ibunda Imam Syafi’i dalam membentuk kecerdasan dan kepribadian Imam Syafi’i hingga beliau berhasil menjadi imam besar.
Tentunya kita juga belajar dari semangat para sahabat Rasulullah SAW yang setiap hari haus akan ilmu, “ setiap hari yang aku lalui tanpa menambah ilmu yang mendekatkanku kepada Allah, maka tidak berkahlah bagiku terbitnya matahari hari itu.”
 Cahaya Ilmu yang memuliakanmu..
“ Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah dan kitab yang menerangkan. Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus.” (QS. Al Maidah: 15-16) “ Maka orang-orang yang beriman kepadanya,memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang telah diturunkan kepadanya (Al Qur’an), mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al A’raf: 157)
“ Dan bertakwalah kepada Allah, maka Allah akan mengajarmu.” (QS. Al Baqarah: 282).  Hamba yang senantiasa bertakwa dan mendekatkan diri kepada Allah akan dicintai-Nya dan makhluknya, berada dalam kesenangan, tenang hatinya, baik perbuatannya dan berwibawa penampilannya karena cahaya Allah yang memancar dari tubuhnya. Dengan hanya melihat hamba tersebut jiwa merasakan kenikmatan. “Itulah karunia Allah, diberikannya kepada siapa saja yang dikehendakinya dan Allah mempunyai karunia yang besar.”( QS. Al Hadid: 21)
Hasan al Bashri menjabarkan “Orang-orang yang beriman adalah kaum yang tawadhu’ (rendah hati dan tunduk). Sungguh demi Allah, pendengaran, penglihatan dan anggota badan mereka semuanya tunduk. Sampai-sampai engkau mengira mereka sedang sakit, padahal mereka sehat. Akan tetapi mereka diliputi rasa takut kepada Allah. Mereka menjauh dari tipuan dunia karena ilmu mereka tentang akhirat. Mereka berkata, ‘Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan kesedihan kami.’” Beliau melanjutkan, “ Engkau akan menjumpai orang yang mencapai tingkat takwa, yaitu orang yang tekun dalam menuntut ilmu, semakin berilmu, semakin merendah, semakin tawadhu’.”
Imam Asy Syafii juga berpesan,“Barangsiapa mendalami ilmu agama (Islam) , mulialah kedudukannya. Barangsiapa yang belajar Al Qur’an, besarlah harga dirinya. Barangsiapa mendalami ilmu fiqih, kuatlah kesehariannya. Barangsiapa menulis hadist, kuatlah hujjahnya. Barangsiapa yang belajar ilmu hisab (hitungan) sehatlah pikirannya. Barangsiapa belajar bahasa arab, haluslah tabiatnya. dan barangsiapa tidak menjaga dirinya dari dosa dan kemaksiatan, tidaklah bermanfaat ilmu baginya.”
Nikmatnya menjadi penuntut ilmu..
  1. Mendapat derajat yang tinggi di sisi Allah. (QS. Al Mujadillah: 11)
  2. Dikelilingi malaikat, dido’akan dan dimohonkan ampunan kepada Allah.
“ Jika kalian berjalan dan bertemu dengan taman-taman surga, maka berhentilah. Yaitu majelis-majelis ilmu. Sesungguhnya di sisi Allah ada malaikat-malaikat yang selalu mencari majelis-majelis ilmu. Jika mereka menemukannya, mereka duduk mengelilingi para penuntut ilmu dan mendoakannya. “(HR. Tirmidzi)
  1. Mendapatkan rahmat dan ketentraman, serta disebut namanya dihadapan penduduk langit. “ Tidaklah suatu kaum duduk untuk berdzikir kepada Allah kecuali malaikat akan mengayomi mereka, rahmat Allah meliputi mereka, ketentraman turun kepada mereka dan Allah menyebut mereka di hadapan makhluk yang berada di sisi-Nya.” (HR. Muslim)
  2. Sukses dalam menjalani kehidupan dunia dan akhirat. “Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia maka wajib baginya memiliki ilmu dan barangsiapa menghendaki kehidupan akhirat maka wajib baginya memiliki ilmu. Dan barangsiapa menghendaki keduanya maka wajib baginya memiliki ilmu.” (HR. Tirmidzi)
  3. Mendapat kebaikan dari Allah. “ Barangsiapa dikehendaki kebaikan oleh Allah, maka ia akan diberikan kepahaman dalam ilmu agama.” (Muttafaq alaih)
  4. Mengalirkan pahala meskipun sudah meninggal dunia. Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW bersabda “ Apabila manusia meninggal dunia, terputus amalnya kecuali 3 hal; sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak sholih yang mendoakan.”
  5. Istiqomah dalam ketaatan. “Wahai pembawa ilmu, beramallah dengan ilmu itu, barangsiapa yang sesuai antara ilmu dengan amalnya maka mereka akan selalu istiqomah dalam ketaatan.”( HR. Ad Darimi)
  6. Dimudahkan jalan menuju surga. “Barangsiapa menempuh jalan untuk untuk menuntut ilmu niscaya Allah akan memudahkan baginya menuju surga.” (HR. Bukhori & Muslim)
Maka, ketika kita merasa kelelahan dalam perjuangan menuntut ilmu ini, mari kita kuatkan kembali keimanan kita. Mari kita kuatkan kesabaran kita, bersabar dengan ujian dalam menuntut ilmu, bersabar dalam ujian-ujian kehidupan dunia, yang sebenarnya hanya sebentar saja. Ya, kita di dunia ini hanyalah seperti sekian menit saja dibandingkan lamanya masa di akhirat. “ Barangsiapa bersabar dengan kesusahan yang sebentar saja maka ia akan menikmati kesenangan yang panjang” (Thariq bin Ziyad)
Mari kita kobarkan semangat kita untuk meraih derajat tinggi dan mulia di sisi-Nya. Sesungguhnya cita-cita kita tidak terhenti pada kebahagiaan dunia, melainkan akhirat. Seperti cita-cita Urwah bin Zubair, “ Cita-citaku adalah zuhud di dunia dan sukses di akhirat. Aku hanya ingin menjadi orang yang ikut andil dalam menyebarkan ilmu-ilmu keislaman.”MasyaaAllah, begitu semangatnya generasi terdahulu dalam belajar dan mengajarkan ilmu. Rasulullah SAW juga telah mendidik kita untuk menjadi orang yang selalu bersemangat.
 “ Bersemangatlah kalian kepada apa yang bermanfaat bagi kalian, mintalah pertolongan Allah dan jangan malas.” (HR. Bukhori & Muslim). Mari kita panjatkan do’a yang diajarkan Rasulullah SAW, “ Ya Allah, aku sungguh-sungguh memohon kepadamu ketegaran dalam urusan agama ini dan tekad kuat berada di atas petunjuk-Mu” .  Juga do’a dalam firman-Nya, QS. Thaha: 114, “ Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu.”
 Kita renungkan kembali nasehat Imam Asy Syafi’i,“ Barangsiapa belum merasakan pahitnya belajar walau sebentar, Ia akan merasakan hinanya kebodohan sepanjang hidupnya. Dan barangsiapa ketinggalan belajar di masa mudanya, maka bertakbirlah untuknya empat kali karena kematiannya. Demi Allah, hakekat seorang pemuda adalah dengan ilmu dan takwa.
Wahai para penuntut ilmu, calon generasi peradaban Islam, Hendaklah ilmu yang kita miliki menjadikan kita semakin takut untuk bermaksiat dan semakin semangat dalam taat kepada Allah. Menjadikan kita terus berjuang untuk mewujudkan kegemilangan Islam. Bersemangatlah, berlelah-lelahlah, karena lelahmu akan memuliakanmu..

Ya Allah Bimbing Kami..
#2Kurikulum_Iman&AlQur’an


Referensi:
  1. Sufyan bin Fuad Baswedan, Ibunda Para Ulama.

Share:

Label