Jangan lupa bagikan jika bermanfaat

Kamis, 29 September 2016

MOHONLAH HIDAYAH HANYA KEPADA ALLAH AZZA WA JALLA

MOHONLAH HIDAYAH HANYA KEPADA ALLÂH AZZA WA JALLA !


Tak akan sirna dari ingatan kaum Muslimin perjuanngan Abu Thalib, paman Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam membela dakwah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Dia rela ikut merasa kelaparan saat Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabat di boikot oleh kuffar qurais, bahkan nyawa pun siap dikorbankan demi membela Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Tidaklah mengherankan jika kemudian Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat mencintai beliau. Kecintaan inilah yang mendorong beliau untuk terus meminta pamannya tersebut mengucapkan syahadat saat detik-deik terakhir kehidupannya.

Diriwayatkan dalam hadits shahih bahwa tatkala Abu Thalib akan meninggal, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bergegas mendatanginya. Pada saat yang sama, Abdullah bin Abu Umayyah serta Abu Jahal berada di sisinya. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya :

 ﺃَﻱْ ﻋَﻢِّ ﻗُﻞْ ﻟَﺎ ﺇِﻟَﻪَ ﺇِﻟَّﺎ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻛَﻠِﻤَﺔً ﺃُﺣَﺎﺝُّ ﻟَﻚَ ﺑِﻬَﺎ ﻋِﻨْﺪَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻋَﺰَّ ﻭَﺟَﻞَّ

 Wahai, pamanku. Ucapkanlah LÂ ILAHA ILLALLÂH; suatu kalimat yang dapat aku jadikan pembelaan untukmu di hadapan Allâh Azza wa Jalla.

Akan tetapi, Abdullah bin Abu Umayyah dan Abu Jahal menimpali degan ucapan, “Apakah engkau (Abu Thalib) membenci agama Abdul Muththalib ?” Lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengulangi sabdanya lagi. Namun mereka berdua pun mengulang kata-katanya itu.

Maka akhir kata yang diucapkannya, bahwa dia masih tetap di atas agama Abdul Muththalib dan enggan mengucapkan LÂ ILAHA ILLALLÂH .

Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Sungguh, akan aku mintakan ampunan untukmu, selama aku tidak dilarang”.

Lalu Allâh menurunkan firmanNya.

 ﻣَﺎ ﻛَﺎﻥَ ﻟِﻠﻨَّﺒِﻲِّ ﻭَﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮﺍ ﺃَﻥْ ﻳَﺴْﺘَﻐْﻔِﺮُﻭﺍ ﻟِﻠْﻤُﺸْﺮِﻛِﻴﻦَ ﻭَﻟَﻮْ ﻛَﺎﻧُﻮﺍ ﺃُﻭﻟِﻲ ﻗُﺮْﺑَﻰٰ ﻣِﻦْ ﺑَﻌْﺪِ ﻣَﺎ ﺗَﺒَﻴَّﻦَ ﻟَﻬُﻢْ ﺃَﻧَّﻬُﻢْ ﺃَﺻْﺤَﺎﺏُ ﺍﻟْﺠَﺤِﻴﻢِ

“ Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang- orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allâh) bagi orang-orang musyrik walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat (nya), sesudah jelas bagi mereka bahwa orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka Jahannam”. [At- Taubah/9:113]

Allâh Azza wa Jalla juga berfirman:

 ﺇِﻧَّﻚَ ﻟَﺎ ﺗَﻬْﺪِﻱ ﻣَﻦْ ﺃَﺣْﺒَﺒْﺖَ ﻭَﻟَٰﻜِﻦَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻳَﻬْﺪِﻱ ﻣَﻦْ ﻳَﺸَﺎﺀُ

“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi hidayah kepada orang yang kamu sayangi, tetapi Allâh memberi hidayah kepada orang yang Dia kehendaki”. [Al- Qashash/28:56] .

Penggalan kisah ini memberikan pelajaran yang teramat berharga tentang betapa hidayah itu memang murni milik Allâh Azza wa Jalla dan hanya diberikan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya.

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai makhluk yang paling mulia dan paling dekat dengan Allâh Azza wa Jalla telah berusaha untuk mengusahakan hidayah untuk pamanda, namun takdir berkata lain.

Oleh karenanya, hendaknya kita memohon hidayah kepada- Nya. Kisah ini juga mestinya semakin memotivasi untuk terus bersyukur kepada Allâh Azza wa Jalla atas anugerahkan hidayah yang telah Allâh Azza wa Jalla berikan kepada kita dengan menjadikan kita sebagai kaum Muslimin. Namun kita tidak boleh lalai dalam menjaga hidayah ini. Karena berbagai fitnah yang datang silih berganti senantiasa mengancam keberadaan hidayah yang ada di dada kita.

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan umatnya agar mewaspadai fitnah yang bisa merusak keimanan dan mengancam keberlangsungan hidayah di dati kaum Muslim.

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

 ﺑَﺎﺩِﺭُﻭْﺍ ﺑِﺎﻟْﺄَﻋْﻤَـﺎﻝِ ﻓِﺘَﻨًﺎ ﻛَﻘِﻄَﻊِ ﺍﻟﻠَّﻴْﻞِ ﺍﻟْـﻤُﻈْﻠِﻢِ، ﻳُﺼْﺒِﺢُ ﺍﻟﺮَّﺟُﻞُ ﻣُﺆْﻣِﻨًﺎ ﻭَﻳُﻤْﺴِﻲ ﻛَﺎﻓِﺮًﺍ، ﺃَﻭْ ﻳُﻤْﺴِﻲ ﻣُـﺆْﻣِﻨًـﺎ ﻭَﻳُﺼْﺒِﺢُ ﻛَﺎﻓِﺮًﺍ، ﻳَﺒِﻴْﻊُ ﺩِﻳْﻨَﻪُ ﺑِﻌَﺮَﺽٍ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ .

Bersegeralah mengerjakan amal-amal shalih karena fitnah-fitnah itu seperti potongan malam yang gelap; di pagi hari seseorang dalam keadaan beriman dan di sore hari menjadi kafir, atau di sore hari dalam keadaan beriman dan di pagi hari menjadi kafir. Ia menjual agamanya dengan keuntungan duniawi yang sedikit. [HR. Muslim (no. 118 (186)), at-Tirmidzi (no. 2195), Ahmad (II/304, 523), Ibnu Hibban (no. 1868- Mawârid), dan selainnya dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu]

Do’a yang dipanjatkan oleh seorang Muslim memiliki peran penting dalam menggapai hidayah dan juga dalam upaya mempertahankannya. Karena hati yang merupakan wadah bagi hidayah mudah sekali berbolak balik. Dengan do’a yang diiringi dengan usaha untuk mempertahankan hidayah, pasti hati akan istiqamah di atas hidayah.

Allâh Azza wa Jalla berfirman :

 ﻭَﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺟَﺎﻫَﺪُﻭﺍ ﻓِﻴﻨَﺎ ﻟَﻨَﻬْﺪِﻳَﻨَّﻬُﻢْ ﺳُﺒُﻠَﻨَﺎۚ ﻭَﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻟَﻤَﻊَ ﺍﻟْﻤُﺤْﺴِﻨِﻴﻦَ

Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh, Allâh beserta orang-orang yang berbuat baik. [Al-‘Ankabût/29:69]

Oleh karena itu, hendaklah senantiasa kita bersungguh-sungguh memohon kepada Allâh Azza wa Jalla agar terus diberi hidayah dan agar Allâh Azza wa Jalla memberikan kita kekuatan untuk menjaganya.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 02/ Tahun XVII/1434H/2013M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196. Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]

Share:

Jumat, 23 September 2016

DUSTA PANGKAL PETAKA

DUSTA PANGKAL PETAKA

Oleh

Ustadz Ahmas Faiz Asifuddin


Kejujuran hendaknya tidak menjadi barang langka. Itulah dambaan setiap muslim yang fitrahnya lurus. Jika kejujuran mewarnai kehidupan setiap muslim, niscaya kebaikan akan menerangi dunia.

Kaum Muslimin, pelaku kejujuran adalah calon-calon penghuni surga, tempat kebahagiaan abadi yang jauh lebih baik dari dunia.

Imam Ibnu al-Qayyim rahimahullah menempatkan sifat jujur dengan perkataannya sebagai berikut,

“Jujur adalah predikat bangsa besar. Berangkat dari sifat jujur inilah terbangun semua kedudukan agung dan jalan lurus bagi para pelakunya. Barangsiapa yang tidak menempuh jalan ini, niscaya ia akan gagal dan binasa. Dengan sifat jujur inilah, akan terbedakan antara orang-orang munafik dengan orang-orang beriman dan akan terbedakan antara penghuni surga dengan penghuni neraka.” [1]

Bangsa besar manapun di dunia dan kapanpun, pasti mengutamakan kejujuran. Kaum Muslimin mestinya lebih layak menyandangnya.

Allâh Azza wa Jalla berfirman :

 ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮﺍ ﺍﺗَّﻘُﻮﺍ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻭَﻛُﻮﻧُﻮﺍ ﻣَﻊَ ﺍﻟﺼَّﺎﺩِﻗِﻴﻦَ

Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allâh dan jadilah bersama orang-orang yang jujur.[ at- Taubah/9:119]

Itulah tuntutan setiap fitrah manusia. Jujur! Sebaliknya, setiap fitrah pasti membenci kedustaan dan perbuatan zhalim. Jika dusta dan kezaliman mewabah, maka yang terjadi adalah musibah, di dunia dan di akhirat. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , dalam hadits yang dibawakan oleh Ibnu Mas’ud Radhiyallahu anhu , bersabda :

 ﺇِﻥَّ ﺍﻟﺼِّﺪْﻕَ ﻳَﻬْﺪِﻯ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟْﺒِﺮِّ، ﻭَﺇِﻥَّ ﺍﻟْﺒِﺮَّ ﻳَﻬْﺪِﻯ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔِ، ﻭَﺇِﻥَّ ﺍﻟﺮَّﺟُﻞَ ﻟَﻴَﺼْﺪُﻕُ‏( ﻭﻓﻰ ﺭﻭﺍﻳﺔ ﻟﻤﺴﻠﻢ : ﺇِﻥَّ ﺍﻟْﻌَﺒْﺪَ ﻟَﻴَﺘَﺤَﺮَّﻯ ﺍﻟﺼِّﺪْﻕَ‏) ﺣَﺘَّﻰ ﻳَﻜُﻮْﻥَ ﺻِﺪِّﻳْﻘًﺎ . ﻭَﺇِﻥَّ ﺍﻟْﻜَﺬِﺏَ ﻳَﻬْﺪِﻯ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟْﻔُﺠُﻮْﺭِ، ﻭَﺇِﻥَّ ﺍﻟْﻔُﺠُﻮْﺭَ ﻳَﻬْﺪِﻯ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ، ﻭَﺇِﻥَّ ﺍﻟﺮَّﺟُﻞَ ﻟَﻴَﻜْﺬِﺏُ‏( ﻭﻓﻰ ﺭﻭﺍﻳﺔ ﻟﻤﺴﻠﻢ : ﻭَﺇِﻥَّ ﺍﻟْﻌَﺒْﺪَ ﻟَﻴَﺘَﺤَﺮَّﻯ ﺍﻟْﻜَﺬِﺏَ‏) ﺣَﺘَّﻰ ﻳُﻜْﺘَﺐَ ﻋِﻨْﺪَ ﺍﻟﻠﻪِ ﻛَﺬَّﺍﺑﺎً . ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻟﺒﺨﺎﺭﻱ ﻭﻣﺴﻠﻢ

Sesungguhnya kejujuran akan membimbing menuju kebaikan, dan kebaikan akan membimbing menuju surga. Sesungguhnya seseorang akan bersungguh-sungguh berusaha untuk jujur, sampai akhirnya ia menjadi orang yang benar-benar jujur. Dan sesungguhnya kedustaan akan membimbing menuju kejahatan, dan kejahatan akan membimbing menuju neraka. Sesungguhnya seseorang akan bersungguh-sungguh berusaha untuk dusta, sampai akhirnya ia benar-benar tertetapkan di sisi Allâh sebagai pendusta. [HR. Bukhari dan Muslim.

Lafal di atas adalah lafal Bukhari] [2]

Dalam riwayat lain pada Shahih Muslim, hadits diawali dengan : ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﺑِﺎﻟﺼِّﺪْﻕِ … ﻭَﺇِﻳَّﺎﻛُﻢْ ﻭَﺍﻟْﻜَﺬِﺏَ …

Wajib bagi kalian untuk jujur……dan hati- hatilah, jangan sekali-kali kalian dusta…. [3]

Imam Nawawi rahimahullah menjelaskan tentang tambahan-tambahan riwayat tersebut dengan menukil perkataan para ulama, bahwa di dalamnya terdapat penekanan supaya seseorang bersungguh- sungguh untuk bersikap jujur. Maksudnya, berniat sungguh-sungguh dan benar-benar memperhatikan kejujuran. Sebaliknya harus berhati-hati jangan sampai dusta dan jangan sampai mudah berdusta.

Sebab apabila seseorang mudah berdusta, maka ia akan banyak berdusta dan akhirnya dikenal sebagai orang yang suka berdusta. Jika seseorang terbiasa bersikap jujur, maka Allâh Azza wa Jalla akan menetapkannya sebagai orang yang benar-benar jujur.

Sedangkan apabila seseorang terbiasa dusta, maka Allâh Subhanahu wa Ta’ala akan menetapkannya menjadi orang yang dikenal pendusta.[4]

Dusta adalah perbuatan terlarang dan haram, bahkan bisa menjauhkan keimanan. al-Hâfizh Ibnu Hajar al-‘Asqalâni rahimahullah membawakan riwayat al- Baihaqi yang menurut beliau sanadnya shahih, dari Abu Bakar ash-Shiddîq Radhiyallahu anhu , beliau (Abu Bakar) berkata : ﺍَﻟْﻜَﺬِﺏُ ﻳُﺠَﺎﻧِﺐُ ﺍْﻹِﻳْﻤَﺎﻥَ

Dusta akan menjauhkan keimanan. [5]

Selanjutnya al-Hâfizh Ibnu Hajar rahimahullah menukil perkataan Ibnu Baththal rahimahullah ,

“Apabila seseorang mengulang-ulang kedustaannya hingga berhak mendapat julukan berat sebagai pendusta, maka ia tidak lagi mendapat predikat sebagai mu’min yang sempurna, bahkan termasuk berpredikat sebagai orang yang bersifat munafik. Karena itulah, setelah mengetengahkan hadits Ibnu Mas’ud Radhiyallahu anhu tersebut, Imam Bukhâri t melanjutkannya dengan mengetengahkan hadits Abu Hurairah Radhiyallahu anhu tentang tanda-tanda orang munafik.”

Al-Hâfizh Ibnu Hajar al-Asqalâni rahimahullah kemudian menjelaskan, “Hadits Abu Hurairah Radhiyallahu anhu tentang tanda-tanda orang munafik yang dimaksud di sini mencakup perbuatan dusta, baik dengan kata-kata maupun dengan perbuatan.

Tanda pertama, dusta dalam perkataannya;

Tanda kedua, dusta dalam amanahnya; Tanda ketiga, dusta dalam janjinya. Berikutnya Imam Bukhâri mengetengahkan hadits tentang jenis ancaman hukum di akhirat bagi para pendusta, yaitu mulutnya akan disobek sampai ke telinga, karena mulutnya itulah yang menjadi lahan kema’siatannya.[6]

Imam Bukhari rahimahullah dalam masalah ini membawakan tiga hadits berturut-turut :

Hadits pertama : Hadits Abdullah bin Mas’ûd Radhiyallahu anhu, sudah dikemukakan di atas.

Hadits kedua : Hadits Abu Hurairah Radhiyallahu anhu yaitu sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

 ﺁﻳَﺔُ ﺍﻟْﻤُﻨَﺎﻓِﻖِ ﺛَﻼَﺙٌ : ﺇِﺫَﺍ ﺣَﺪَّﺙَ ﻛَﺬَﺏَ، ﻭَﺇِﺫَﺍ ﻭَﻋَﺪَ ﺃَﺧْﻠَﻒَ، ﻭَﺇِﺫَﺍ ﺍﺋْﺘُﻤِﻦَ ﺧَﺎﻥَ . ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻟﺒﺨﺎﺭﻱ ﻭﻣﺴﻠﻢ

Tanda-tanda orang munafik ada tiga : Apabila berbicara, ia dusta; apabila berjanji, ia mengingkari; dan apabila diberi amanat, ia berkhianat. [HR. Bukhari dan Muslim] [7].

Hadits ketiga : Hadits Samurah bin Jundub Radhyallahu anhu , yaitu hadits yang berisi tentang jenis ancaman hukum di akhirat bagi pendusta ialah sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

 ﺭَﺃَﻳْﺖُ ﺭَﺟُﻠَﻴْﻦِ ﺃَﺗَﻴَﺎﻧِﻲ، ﻗَﺎﻻَ : ﺍَﻟَّﺬِﻯ ﺭَﺃَﻳْﺘَﻪُ ﻳُﺸَﻖُّ ﺷِﺪْﻗُﻪُ ﻓَﻜَﺬَّﺍﺏٌ، ﻳَﻜْﺬِﺏُ ﺑِﺎﻟْﻜَﺬْﺑَﺔِ ﺗُﺤْﻤَﻞُ ﻋَﻨْﻪُ ﺣَﺘَّﻰ ﺗَﺒْﻠُﻎُ ﺍﻵﻓَﺎﻕَ، ﻓَﻴُﺼْﻨَﻊُ ﺑِﻪِ ﺇِﻟَﻰ ﻳَﻮْﻡِ ﺍﻟْﻘِﻴَﺎﻣَﺔِ . ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻟﺒﺨﺎﺭﻱ

Aku melihat dua orang (Malaikat), keduanya berkata: “Orang yang engkau lihat disobek mulutnya hingga telinga, adalah seorang pendusta. Ia berdusta dengan kedustaan, dibawanya kedustaan itu berkeliling atas nama dirinya hingga mencapai ufuk, maka dibuatlah ia sebagai pendusta sampai hari kiamat”.[HR. Bukhâri][8]

Dengan demikian menjadi jelas, buah kejujuran adalah kebaikan dan surga. Sedangkan akibat kedustaan dan penipuan adalah petaka dan neraka.

Dusta juga merupakan kezhaliman kepada diri sendiri, di samping juga kezhaliman terhadap orang lain. Sementara zhalim kepada orang lain juga terlarang. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits qudsi bersabda, meriwayatkan firman Allâh Azza wa Jalla :

 ﻳَﺎ ﻋِﺒَﺎﺩِﻱ ﺇِﻧِّﻲ ﺣَﺮَّﻣْﺖُ ﺍﻟﻈُّﻠْﻢَ ﻋَﻠَﻰ ﻧَﻔْﺴِﻲ، ﻭَﺟَﻌَﻠْﺘُﻪُ ﺑَﻴْﻨَﻜُﻢْ ﻣُﺤَﺮَّﻣًﺎ، ﻓَﻼَ ﺗَﻈَﺎﻟَﻤُﻮْﺍ . ﺭﻭﺍﻩ ﻣﺴﻠﻢ

Wahai hamba-hambuKu, sesungguhnya Aku haramkan kezaliman bagi diriku, dan Aku jadikan kezhal iman itu haram pula bagi antara kalian, karena itu janganlah kalian saling menzalimi. [HR. Muslim].[9]

Maksudnya, Allâh Subhanahu wa Ta’ala telah mengharamkan perbuatan zalim bagi para hambaNya. Allâh Subhanahu wa Ta’ala melarang mereka saling menzhalimi. Maka haram bagi seseorang untuk berlaku zhalim kepada orang lain.

[10] Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengingatkan dengan sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

 ﺍَﻟﻈُّﻠْﻢُ ﻇُﻠُﻤَﺎﺕٌ ﻳَﻮْﻡَ ﺍﻟْﻘِﻴَﺎﻣَﺔِ . ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻟﺒﺨﺎﺭﻱ ﻭﻣﺴﻠﻢ

Prilaku zhalim itu akan berakibat kegelapan (bagi pelakunya) pada hari kiamat. [HR. Bukhari dan Muslim][11].

Kezhaliman kepada orang lain dapat berbentuk pelanggaran terhadap hak orang lain, baik pelanggaran hak darah, fisik, harta benda maupun harga diri. Karena itu Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda pada hari haji wada’:

ﺇِﻥَّ ﺩِﻣَﺎﺀَﻛُﻢْ ﻭَﺃَﻣْﻮَﺍﻟَﻜُﻢْ ﻭَﺃَﻋْﺮَﺍﺿَﻜُﻢْ ﺑَﻴْﻨَﻜُﻢْ ﺣَﺮَﺍﻡٌ ﻛَﺤُﺮْﻣَﺔِ ﻳَﻮْﻣِﻜُﻢْ ﻫَﺬَﺍ ﻓِﻰ ﺷَﻬْﺮِﻛُﻢْ ﻫَﺬَﺍ ﻓِﻰ ﺑَﻠَﺪِﻛُﻢْ ﻫَﺬَﺍ . ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻟﺒﺨﺎﺭﻱ ﻭﻣﺴﻠﻢ

Sesungguhnya (saling menumpahkan) darah di antara kalian, (saling melanggar hak) harta di antara kalian dan (saling melanggar) kehormatan di antara kalian, adalah haram terjadi di antara kalian, sebagaimana haramnya hari kalian ini, di bulan kalian ini dan di negeri kalian ini.[HR. Bukhâri dan Muslim] [12].

Seseorang harus terbebas dari perbuatan zalim agar hidupnya selamat di akhirat kelak.

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 ﻣَﻦْ ﻛَﺎﻧَﺖْ ﻟَﻪُ ﻣَﻈْﻠَﻤَﺔٌ ﻟِﺄَﺧِﻴْﻪِ ﻣِﻦْ ﻋِﺮْﺿِﻪِ ﺃَﻭْﺷَﻲْﺀٍ ﻓَﻠْﻴَﺘَﺤَﻠَّﻠْﻪُ ﻣِﻨْﻪُ ﺍﻟْﻴَﻮْﻡَ ﻗَﺒْﻞَ ﺃَﻥْ ﻻَ ﻳَﻜُﻮْﻥَ ﺩِﻳْﻨَﺎﺭٌ ﻭَﻻَ ﺩِﺭْﻫَﻢٌ، ﺇِﻥْ ﻛَﺎﻥَ ﻟَﻪُ ﻋَﻤَﻞٌ ﺻَﺎﻟِﺢٌ ﺃُﺧِﺬَ ﻣِﻨْﻪُ ﺑِﻘَﺪْﺭِ ﻣَﻈْﻠَﻤَﺘِﻪِ، ﻭَﺇِﻥْ ﻟَﻢْ ﺗَﻜُﻦْ ﻟَﻪُ ﺣَﺴَﻨَﺎﺕٌ ﺃُﺧِﺬَ ﻣِﻦْ ﺳَﻴِّﺌَﺎﺕِ ﺻَﺎﺣِﺒِﻪِ ﻓَﺤُﻤِﻞَ ﻋَﻠَﻴْﻪِ . ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻟﺒﺨﺎﺭﻱ ﻭﻣﺴﻠﻢ

Barangsiapa yang memilki dosa kezaliman pada saudaranya, baik berkenaan dengan kehormatan dirinya atau sesuatu yang lain, maka hendaknya ia berusaha melepaskannya hari ini, sebelum datangnya hari dimana tidak ada lagi uang dinar dan uang dirham (yaitu hari kiamat). (Jika pada hari kiamat nanti kezaliman belum terlepas,) maka apabila ia memiliki amal shaleh, amal shalehnya akan diambil (diberikan kepada saudaranya) sesuai dengan kezaliman yang dilakukannya, dan apabila ia tidak memiliki kebaikan, maka keburukan saudaranya akan diambil dan dipikulkan kepadanya. [HR. Bukhari] [13]

Al-Hâfizh Ibnu Hajar al-Asqalâni rahimahullah menerangkan, kezhaliman seseorang kepada saudaranya bisa berkait dengan kehormatan diri atau persoalan lain, termasuk kezhaliman dalam masalah harta benda orang lain dengan segala bentuknya. Begitu juga kezaliman yang berupa mencederai, meskipun hanya berbentuk tamparan dan sebagainya.[14]

Perbuatan dusta menyangkut lahan yang sangat luas. Penipuan-penipuan menyangkut pekerjaan, harta benda, perdagangan dan lain sebagainya adalah pelanggaran terhadap hak orang lain. Karena itu seharusnya setiap Muslim berusaha sungguh-sungguh menghindari dusta, sebagaimana ditekankan dalam hadits-hadits di atas. Demikianlah, seharusnya kepribadian asli seorang Muslim adalah pribadai yang adil dan jujur. Sedangkan dusta dan khianat bukan sifat seorang Mu’min.

Ibnu Hajar rahimahullah membawakan hadits riwayat al-Bazzâr, dari Sa’ad bin Abi Waqqâsh Radhiyallahu anhu yang dimarfu’kan kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam .

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ﻳُﻄْﺒَﻊُ ﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻦُ ﻋَﻠَﻰ ﻛُﻞِّ ﺷَﻲْﺀٍ ﺇِﻻَّ ﺍﻟْﺨِﻴَﺎﻧَﺔ ﻭَﺍﻟْﻜَﺬِﺏ .

Seorang mu’min dapat terbentuk wataknya berdasarkan watak apa saja kecuali khianat dan dusta.[15]

Artinya, seorang mu’min bisa terbentuk wataknya menjadi berwatak apa saja selain khianat dan dusta. Kesimpulannya, hadits-hadits di atas menjelaskan kewajiban berlaku jujur dan menjelaskan tentang keharaman prilaku dusta. Namun, pada kenyataannya, mengapa seringkali terjadi ketidakjujuran, penipuan dan penggelapan ? Bahkan hampir disegala lapisan masyarakat dan banyak dilakukan oleh orang yang secara formal tercatat sebagai Muslim ? Akibat dari semua itu antara lain korupsi.

Ternyata korupsi bukan hanya dapat dilakukan oleh orang-orang besar yang memiliki peluang-peluang besar serta memiliki kekuasaan besar. Tetapi juga dapat dilakukan oleh segala lapisan umat dengan kemungkinan serta peluang sekecil apapun.

Pedagang buah bisa melakukan korupsi dengan menipu timbangan, pedagang kain bisa melakukan korupsi melalui penipuan tentang ukuran kain, pesuruh kecil di kantor-kantor bisa melakukan perbuatan korupsi dengan tidak mengembalikan uang belanja yang seharusnya, pegawai dengan mengelabuhi nota atau kwitansi sementara toko atau perusahaan tempat belanja justeru mendukung terjadinya pembuatan kwitansi palsu.

Pelajar dan mahasiswa juga dapat melakukan tindakan korupsi ketika menjadi pengurus keuangan dengan membuat laporan-laporan palsu atau fiktif, betapapun kecilnya, atau ketika melakukan penipuan dengan kebiasaan nyontek pada saat ujian.

Lembaga-lembaga pendidikanpun dapat melakukan tindak penipuan atau korupsi melalui rekayasa laporan-laporan keuangan, atau upaya-upaya tidak jujur lainnya. Jika terjadi demikian pada lembaga-lembaga pendidikan yang nota bene merupakan lembaga kaderisasi manusia dan pemimpin masa depan, maka kelak akan lahir manusia- manusia yang terdidik tidak jujur, menjadi penipu terpelajar, koruptor dan lain sebagainya.

Oleh karena itu, apabila sebuah bangsa ingin menjadi bangsa besar, berwibawa dan disegani, maka bangsa itu harus berani membangun dirinya berdasarkan asas kejujuran dan harus berani meninggalkan sifat dusta, betapapun beratnya. Taqwa kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala dan takut akan ancaman siksaNya di akhirat, akan dapat mendorong seseorang untuk selalu bersikap jujur dan menjauhi sikap dusta.

Jika taqwa dan rasa takut kepada Allâh Azza wa Jalla telah tertanam dalam jiwa dan telah terbentuk, berarti telah terbentuk pula pengawasan melekat pada tiap-tiap individu Muslim. Dengan demikian segalanya akan berjalan rancak insya Allâh. Biaya untuk membuat team-team pengawas yang harus di awasi lagi oleh team lain, dan yang lain harus diawasi lagi oleh yang lainnya lagi, akan dapat ditekan dan dapat dipergunakan untuk kepentingan lainnya, misalnya peningkatan kesejahteraan fakir miskin dan fasilitas-fasilitas pembangunan umat kearah yang lebih baik lagi.

Wallâhu Waliyyut Taufîq.

Maraji’

1. Fathul Bâri Syarh Shahîh al-Bukhâri
2. Shahîh Muslim, Syarh an-Nawawi, tahqîq : Khalil ma’mun Syiha, Dar al-Ma’rifah
3. Iqâzhul Himam al-Muntaqa min Jâmi’ al-‘Ulûm wa al-Hikam, Syaikh Abu Usamah Salîm bin Id al-Hilali, Dar Ibnu al-Jauzi, cet. VII, Muharram 1425 H.
4. Madarijus Sâlikin, Imam Ibnu al-Qayyim, Dar Ihyâ’ at-Turats al-Arabi – Mu’assasah at-Tarikh al-Arabi, Beirut, cet. II, tanpa tahun.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 03/ Tahun XIV/1431/2010M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo- Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]

_______

Footnote

[1]. Ibnu al-Qayyim, Imam, Madârij as- Sâlikin, Dar Ihyâ’ at-Turats al-Arabi – Mu’assasah at-Tarikh al-Arabi, Beirut, II/204 tentang Manzilatu ash-Shidqi, dengan bahasa bebas.

[2]. Lihat Shahîh al-Bukhâri, Fathul Bâri X/507, no. 6094, dan Shahîh Muslim Syarh an-Nawawi, tahqiq : Khalil ma’mun Syiha, Dar al-Ma’rifah, juz 16 hal. 375, no. 6580, 6581.

[3]. Shahîh Muslim Syarh an-Nawawi. Op.Cit. hal. 376, no. 6582.

[4]. Ibid. hal. 375, penjelasan Imam Nawawi dinukil dengan bahasa bebas.

[5]. Lihat Fathul Bâri X/508

[6]. Ibid. X/509

[7]. Shahîh al-Bukhâri, Fathul Bâri X/507, no. 6095

[8]. Shahîh al-Bukhâri, Fathul Bâri X/507, no. 6096.

[9]. Shahih Muslim Syarh an-Nawawi, op.cit. juz 16 hal. 348, no. 6517.

[10]. Lihat perkataan Imam Ibnu Rajab al- Hanbali, Iqâzh al-Himam al-Muntaqâ min Jâmi’ al-‘Ulum wa al-Hikam, Syaikh Abu Usamah Salim bin Id al-Hilali, Dar Ibnu al- Jauzi, cet. VII, Muharram 1425 H, hal. 340, keterangan hadits ke 24.

[11]. Shahîh al-Bukhâri, Fathul Bâri V/100, no. 2447, Shahih Muslim Syarh an-Nawawi, op.cit. 16/350, no. 6519, 6520.

[12]. Shahîh al-Bukhâri, Fathul Bâri I/157-158, no, 67, dan Shahih Muslim Syarh an-Nawawi, op.cit. VIII/412, dalam hadits yang panjang no.2941

[13]. Shahih al-Bukhari/Fathu al-Bari, V/101, no. 2449.] [14]. Ibid [15]. Lihat Fathul Bâri X/508

Share:

Rabu, 21 September 2016

ZINA MERAJALELA

Oleh Al-Ustadz Muhammad Arifin Badri


Zina termasuk dalam perbuatan dosa besar. Di antara penyebab seseorang terjerumus ke dalam perbuatan yang nista ini, ialah karena rendahnya iman dan moral masyarakat, serta saking gampangnya mempertontonkan aurat secara murah dan vulgar, terutama yang terjadi di kalangan kaum wanita.

Sebagian faktor yang menyuburkan perilaku hina ini, ialah merajalelanya pergaulan bebas antara lelaki dan perempuan. Tanpa takut dengan beban dosa, seluruh inderanya menerawang menikmati segala sesuatu yang tidak halal baginya. Ini menjadi langkah pertama bagi seseorang terjerumus ke jurang perbuatan zina yang nista.

Oleh karena itu, Allah dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memperingatkan agar manusia tidak terperangkap perzinaan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, yang artinya:

 ﻗُﻞْ ﻟِﻠْﻤُﺆْﻣِﻨِﻴﻦَ ﻳَﻐُﻀُّﻮﺍ ﻣِﻦْ ﺃَﺑْﺼَﺎﺭِﻫِﻢْ ﻭَﻳَﺤْﻔَﻈُﻮﺍ ﻓُﺮُﻭﺟَﻬُﻢْ ۚ ﺫَٰﻟِﻚَ ﺃَﺯْﻛَﻰٰ ﻟَﻬُﻢْ ۗ ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﺧَﺒِﻴﺮٌ ﺑِﻤَﺎ ﻳَﺼْﻨَﻌُﻮﻥَ

“Katakanlah kepada laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”.

 ﻭَﻗُﻞْ ﻟِﻠْﻤُﺆْﻣِﻨَﺎﺕِ ﻳَﻐْﻀُﻀْﻦَ ﻣِﻦْ ﺃَﺑْﺼَﺎﺭِﻫِﻦَّ ﻭَﻳَﺤْﻔَﻈْﻦَ ﻓُﺮُﻭﺟَﻬُﻦَّ ﻭَﻟَﺎ ﻳُﺒْﺪِﻳﻦَ ﺯِﻳﻨَﺘَﻬُﻦَّ ﺇِﻟَّﺎ ﻣَﺎ ﻇَﻬَﺮَ ﻣِﻨْﻬَﺎ ۖ ﻭَﻟْﻴَﻀْﺮِﺑْﻦَ ﺑِﺨُﻤُﺮِﻫِﻦَّ ﻋَﻠَﻰٰ ﺟُﻴُﻮﺑِﻬِﻦَّ ۖ ﻭَﻟَﺎ ﻳُﺒْﺪِﻳﻦَ ﺯِﻳﻨَﺘَﻬُﻦَّ ﺇِﻟَّﺎ ﻟِﺒُﻌُﻮﻟَﺘِﻬِﻦَّ ﺃَﻭْ ﺁﺑَﺎﺋِﻬِﻦَّ ﺃَﻭْ ﺁﺑَﺎﺀِ ﺑُﻌُﻮﻟَﺘِﻬِﻦَّ ﺃَﻭْ ﺃَﺑْﻨَﺎﺋِﻬِﻦَّ ﺃَﻭْ ﺃَﺑْﻨَﺎﺀِ ﺑُﻌُﻮﻟَﺘِﻬِﻦَّ ﺃَﻭْ ﺇِﺧْﻮَﺍﻧِﻬِﻦَّ ﺃَﻭْ ﺑَﻨِﻲ ﺇِﺧْﻮَﺍﻧِﻬِﻦَّ ﺃَﻭْ ﺑَﻨِﻲ ﺃَﺧَﻮَﺍﺗِﻬِﻦَّ ﺃَﻭْ ﻧِﺴَﺎﺋِﻬِﻦَّ ﺃَﻭْ ﻣَﺎ ﻣَﻠَﻜَﺖْ ﺃَﻳْﻤَﺎﻧُﻬُﻦَّ ﺃَﻭِ ﺍﻟﺘَّﺎﺑِﻌِﻴﻦَ ﻏَﻴْﺮِ ﺃُﻭﻟِﻲ ﺍﻟْﺈِﺭْﺑَﺔِ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺮِّﺟَﺎﻝِ ﺃَﻭِ ﺍﻟﻄِّﻔْﻞِ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻟَﻢْ ﻳَﻈْﻬَﺮُﻭﺍ ﻋَﻠَﻰٰ ﻋَﻮْﺭَﺍﺕِ ﺍﻟﻨِّﺴَﺎﺀِ ۖ ﻭَﻟَﺎ ﻳَﻀْﺮِﺑْﻦَ ﺑِﺄَﺭْﺟُﻠِﻬِﻦَّ ﻟِﻴُﻌْﻠَﻢَ ﻣَﺎ ﻳُﺨْﻔِﻴﻦَ ﻣِﻦْ ﺯِﻳﻨَﺘِﻬِﻦَّ ۚ ﻭَﺗُﻮﺑُﻮﺍ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺟَﻤِﻴﻌًﺎ ﺃَﻳُّﻪَ ﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻨُﻮﻥَ ﻟَﻌَﻠَّﻜُﻢْ ﺗُﻔْﻠِﺤُﻮﻥَ

Dan katakan kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami atau ayah, atau ayah suami atau putra-putra mereka atau putra-putra suami mereka atau saudara laki-laki atau putra-putra saudara laki-laki atau putra- putra saudari perempuan mereka, atau wanita-wanita muslimah atau budak-budak yang mereka miliki atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (kepada wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka menghentakkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung”. [An- Nûr/24:30-31]

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

 ﻛُﺘِﺐَ ﻋﻠﻰ ﺑﻦ ﺁﺩَﻡَ ﻧَﺼِﻴﺒُﻪُ ﻣﻦ ﺍﻟﺰِّﻧَﺎ، ﻣُﺪْﺭِﻙٌ ﺫﻟﻚ ﻻ ﻣَﺤَﺎﻟَﺔَ، ﻓَﺎﻟْﻌَﻴْﻨَﺎﻥِ ﺯِﻧَﺎﻫُﻤَﺎ ﺍﻟﻨَّﻈَﺮُ، ﻭَﺍﻷُﺫُﻧَﺎﻥِ ﺯِﻧَﺎﻫُﻤَﺎ ﺍﻻﺳْﺘِﻤَﺎﻉُ، ﻭَﺍﻟﻠِّﺴَﺎﻥُ ﺯِﻧَﺎﻩُ ﺍﻟْﻜَﻼﻡُ، ﻭَﺍﻟْﻴَﺪُ ﺯِﻧَﺎﻫَﺎ ﺍﻟْﺒَﻄْﺶُ، ﻭَﺍﻟﺮِّﺟْﻞُ ﺯِﻧَﺎﻫَﺎ ﺍﻟْﺨُﻄَﺎ، ﻭَﺍﻟْﻘَﻠْﺐُ ﻳَﻬْﻮَﻯ ﻭَﻳَﺘَﻤَﻨَّﻰ، ﻭَﻳُﺼَﺪِّﻕُ ﺫﻟﻚ ﺍﻟْﻔَﺮْﺝُ ﻭَﻳُﻜَﺬِّﺑُﻪُ ‏( ﻣﺘﻔﻖ ﻋﻠﻴﻪ )

“Telah ditentukan atas setiap anak Adam bagiannya dari perbuatan zina, ia pasti melakukannya. Zina kedua mata adalah dengan memandang, zina kedua telinga adalah dengan mendengarkan, zina lisan adalah dengan berbicara, zina kedua tangan adalah dengan menggenggam, dan zina kedua kaki adalah dengan melangkah, sedangkan hati berkeinginan dan berandai- andai, dan kemaluan mempraktekkan keinginan untuk berzina itu atau menolaknya”. [Muttafaqun ‘alaih]

Para ulama menyatakan, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memulai dengan menyebutkan zina mata, karena zina mata adalah asal usul terjadinya zina tangan, lisan kaki, dan kemaluan[1].

Oleh karena itu, hendaklah kita senantiasa waspada dan berusaha sekuat tenaga untuk menjauhi perangkap-perangkap perzinaan, agar tidak terjerumus ke dalam perbuatan nista ini.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

 ﻭَﻻَ ﺗَﻘْﺮَﺑُﻮﺍْ ﺍﻟﺰِّﻧَﻰ ﺇِﻧَّﻪُ ﻛَﺎﻥَ ﻓَﺎﺣِﺸَﺔً ﻭَﺳَﺎﺀ ﺳَﺒِﻴﻼً

“Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji, dan suatu jalan yang buruk” [Al-Isrâ`/17:32]

Zina itu sendiri merupakan hutang yang pasti harus ditebus, dan tebusannya ada pada keluarga kita. Pepatah menyatakan:

 ﻋِﻔُّﻮْﺍ ﺗَﻌِﻒَّ ﻧِﺴَﺎﺅُﻛُﻢْ ﻭَﺃَﺑْﻨَﺎﺅُﻛُﻢْ ﻭَﺑِﺮُّﻭْﺍ ﺃَﺑَﺎﺀَﻛُﻢْ ﻳَﺒِﺮَّﻛُﻢْ ﺃَﺑْﻨﺎَﺅُﻛُﻢْ

(Jagalah dirimu, niscaya istri dan anakmu akan menjaga dirinya. Dan berbaktilah kepada orang tuamu, niscaya anakmu akan berbakti kepadamu).

[2] Dalam pepatah Arab lainnya disebutkan:

 ﺍﻟﺰِّﻧّﺎ ﺩَﻳْﻦٌ ﻗَﻀَﺎﺅُﻩُ ﻓِﻲ ﺃَﻫْﻠِﻚَ

(Perbuatan zina adalah suatu piutang, dan tebusannya ada pada keluargamu). Kita seyogyanya bertanya kepada hati nurani masing-masing, relakah bila anak gadis kita, atau saudara wanita, atau ibu kita dizinai oleh orang lain? Bila tidak rela, maka janganlah berzina dengan anak atau saudara wanita atau ibu orang lain! Bila anda telah tega menzinai anak atau saudara wanita atau ibu seseorang, maka semenjak itu, ingatlah selalu, pada suatu saat perbuatan yang serupa akan menimpa anak gadis anda atau saudara wanita anda, atau bahkan ibu anda!

Atas dasar itu, hendaklah kita senantiasa berpikir panjang bila tergoda setan untuk melakukan perbuatan zina, baik zina kemaluan, zina pandangan, atau lainnya. Sebagaimana kita senantiasa mengingat pedihnya hukuman Allah di dunia dan akhirat, sehingga kita tidak mudah terjerembab ke dalam lembah kenistaan ini.

HUKUMAN BAGI PEZINA

Salah satu bentuk hukuman yang diberikan Islam bagi pezina, selain dicambuk ialah diharamkannya menikah dengannya hingga kemudian ia bertaubat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

ﺍﻟْﺨَﺒِﻴﺜَﺎﺕُ ﻟِﻠْﺨَﺒِﻴﺜِﻴﻦَ ﻭَﺍﻟْﺨَﺒِﻴﺜُﻮﻥَ ﻟِﻠْﺨَﺒِﻴﺜَﺎﺕِ ﻭَﺍﻟﻄَّﻴِّﺒَﺎﺕُ ﻟِﻠﻄَّﻴِّﺒِﻴﻦَ ﻭَﺍﻟﻄَّﻴِّﺒُﻮﻥَ ﻟِﻠﻄَّﻴِّﺒَﺎﺕِ

“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik untuk wanita-wanita yang baik( pula)”. [An-Nûr/24:26]

Sebagian ulama ahli tafsir menyatakan, ayat ini ada kaitannya dengan ayat ke-3 surat an-Nûr, yaitu firman Allah Ta’ala, yang artinya: "Lelaki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik, dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh lelaki yang berzina atau lelaki yang musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas orang-orang yang beriman."

Sehingga penafsiran ayat ini menunjukkan, laki-laki yang tidak baik, pasangannya adalah wanita yang tidak baik pula. Sebaliknya, wanita yang tidak baik, pasangannya ialah orang yang tidak baik pula. Haram hukumnya bagi laki-laki yang baik atau wanita yang baik menikahi wanita atau lelaki yang tidak baik.[3] Sebagian ulama menjabarkan penafsiran ini secara lebih jelas:

“Barang siapa yang menikahi wanita pezina yang belum bertaubat, maka ia telah meridhai perbuatan zina. Dan orang yang meridhai perbuatan zina, maka seakan ia telah berzina. Bila seorang lelaki rela andai istrinya berzina dengan lelaki lain, maka akan lebih ringan baginya untuk berbuat zina. Bila ia tidak cemburu ketika mengetahui istrinya berzina, maka akankah ada rasa sungkan di hatinya untuk berbuat serupa? Dan wanita yang rela bila suaminya adalah pezina yang belum bertaubat, maka berarti ia juga rela dengan perbuatan tersebut. Barang siapa rela dengan perbuatan zina, maka ia seakan-akan telah berzina.

Bila seorang wanita rela andai suaminya merasa tidak puas dengan dirinya, maka ini pertanda bahwa iapun tidak puas dengan suaminya”.

KEWAJIBAN PELAKU PERZINAAN

Oleh karena itu, orang yang terlanjur terjerumus ke dalam perbuatan nista ini, hendaklah segera kembali kepada jalan yang benar. Hendaklah disadari, bahwa perbuatan zina telah meruntuhkan kehormatan dan jati dirinya. Begitu pula hendaklah ia senantiasa waspada dengan balasan Allah Ta’ala yang mungkin akan menimpa keluarganya. Bila penyesalan telah menyelimuti sanubari, dan tekad tidak mengulangi perbuatan nista ini telah bulat, istighfar kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa dipanjatkan; bila jalan-jalan yang akan menjerumuskan kembali ke dalam kenistaan ini telah ditinggalkan, maka semoga berbagai dosa dan hukuman Allah Subhanahu wa Ta’ala atas perbuatan ini dapat terhapuskan.

Lantas, bagaimana halnya dengan hukuman dera atau cambuk yang belum ditegakkan atas pezina tersebut, apakah taubatnya dapat diterima? Ada satu kisah menarik pada zaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam .

Adalah Sahabat Mâ’iz bin Mâlik Radhiyallahu ‘anhu mengaku kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa ia telah berzina.

Berdasarkan pengakuan ini, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan agar ia dirajam. Tatkala rajam telah dimulai, dan Sahabat Maa’iz merasakan pedihnya dirajam, ia pun berusaha melarikan diri. Akan tetapi, para sahabat yang merajamnya berusaha untuk mengejarnya dan merajamnya hingga meninggal.

Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam diberitahu bahwa Maa’iz Radhiyallahu ‘anhu berusaha melarikan diri, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 ( ﻫَﻼَّ ﺗَﺮَﻛْﺘُﻤُﻮْﻩُ ﻟَﻌَﻠَّﻪُ ﺃَﻥْ ﻳَﺘُﻮْﺏَ ﻓَﻴَﺘُﻮْﺏَ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ‏) . ﺃﺧﺮﺟﻪ ﺃﺣﻤﺪ ﻭﺃﺑﻮ ﺩﺍﻭﺩ ﻭﺍﺑﻦ ﺃ ﺑﻲ ﺷﻴﺒﺔ

“Tidahkah kalian tinggalkan dia, mungkin saja ia benar-benar bertaubat, sehingga Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mengampuninya?” [HR Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Abi Syaibah]

Berdasarkan hadits ini dan hadits lainnya, para ulama menyatakan bahwa orang yang berzina, taubatnya dapat diterima Allah Subhanahu wa Ta’ala, walaupun tidak ditegakkan hukum dera atau rajam baginya. Di antara yang menguatkan pendapat ini ialah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

ﻭَﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻟَﺎ ﻳَﺪْﻋُﻮﻥَ ﻣَﻊَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺇِﻟَٰﻬًﺎ ﺁﺧَﺮَ ﻭَﻟَﺎ ﻳَﻘْﺘُﻠُﻮﻥَ ﺍﻟﻨَّﻔْﺲَ ﺍﻟَّﺘِﻲ ﺣَﺮَّﻡَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺇِﻟَّﺎ ﺑِﺎﻟْﺤَﻖِّ ﻭَﻟَﺎ ﻳَﺰْﻧُﻮﻥَ ۚ ﻭَﻣَﻦْ ﻳَﻔْﻌَﻞْ ﺫَٰﻟِﻚَ ﻳَﻠْﻖَ ﺃَﺛَﺎﻣًﺎ﴿٦٨﴾ﻳُﻀَﺎﻋَﻒْ ﻟَﻪُ ﺍﻟْﻌَﺬَﺍﺏُ ﻳَﻮْﻡَ ﺍﻟْﻘِﻴَﺎﻣَﺔِ ﻭَﻳَﺨْﻠُﺪْ ﻓِﻴﻪِ ﻣُﻬَﺎﻧًﺎ﴿٦٩﴾ﺇِﻟَّﺎ ﻣَﻦْ ﺗَﺎﺏَ ﻭَﺁﻣَﻦَ ﻭَﻋَﻤِﻞَ ﻋَﻤَﻠًﺎ ﺻَﺎﻟِﺤًﺎ ﻓَﺄُﻭﻟَٰﺌِﻚَ ﻳُﺒَﺪِّﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺳَﻴِّﺌَﺎﺗِﻬِﻢْ ﺣَﺴَﻨَﺎﺕٍ ۗ ﻭَﻛَﺎﻥَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻏَﻔُﻮﺭًﺍ ﺭَﺣِﻴﻤًﺎ

“Dan orang-orang yang tidak menyembah sesembahan lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan alasan yang benar, dan tidak berzina; barang siapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat pembalasan atas dosanya. Yakni akan dilipatgandakan adzab untuknya pada hari Kiamat, dan ia akan kekal dalam adzab itu dalam keadaan terhina. Kecuali orang- orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal shalih, maka kejahatannya diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.[Al- Furqân/25 : 68-70]

Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata:

“Kejelekan yang telah lalu melalui taubatnya yang sebenar-benarnya akan berubah menjadi kebaikan. Yang demikian itu, karena setiap kali pelaku dosa teringat lembaran kelamnya, ia menyesali, hatinya pilu, dan bertaubat (memperbaharui penyesalannya).

Dengan penafsiran ini, dosa-dosa itu berubah menjadi ketaatan kelak pada hari Kiamat. Walaupun dosa-dosa itu tetap saja tertulis atasnya. Akan tetapi, semua itu tidak membahayakannya. Bahkan akan berubah menjadi kebaikan pada lembaran catatan amalnya, sebagaimana dinyatakan dalam hadits-hadits shahîh, dan keterangan ulama Salaf.” [4]

BOLEHKAH MENIKAH DENGAN PEZINA YANG SUDAH BERTAUBAT?

Menurut pendapat mayoritas ulama yang memiliki kredibilitas keilmuan, mereka membolehkan pernikahan dengan pelaku perzinaan yang benar-benar telah bertaubat.

Syaikh asy-Syinqithi rahimahullah berkata:

“Ketahuilah, menurutku, pendapat ulama yang paling kuat ialah: bila lelaki pezina dan wanita pezina telah berhenti dari perbuatan zina, mereka menyesali perbuatannya dan bertekad tidak mengulanginya, maka pernikahan mereka sah. Sehingga seorang lelaki dibenarkan untuk menikahi wanita yang pernah ia zinahi setelah keduanya bertaubat. Sebagaimana dibolehkan bagi orang lain untuk menikahinya, tentunya setelah mereka bertaubat. Yang demikian itu, karena orang yang telah bertaubat dari dosa bagaikan orang yang tidak pernah melakukan dosa”. [5]

Bila pezina itu seorang wanita, dan ia hamil dari hasil perzinaannya, maka untuk dapat menikahinya disyaratkan hal lain, yaitu wanita itu telah melahirkan anak yang ia kandung, sebagaimana ditegaskan pada fatwa Komite Tetap Untuk Fatwa Kerajaan Saudi Arabia berikut:

“Tidak dibenarkan menikahi wanita pezina dan tidak sah akad nikah dengannya, hingga ia benar-benar telah bertaubat dan telah selesai masa iddahnya”.[6]

APAKAH HARUS MENGAKUI MASA KELAMNYA KEPADA CALON PASANGAN?

Salah satu wujud dari taubat seseorang dari perbuatan dosa, ialah tidak menceritakan perbuatan dosanya kepada orang lain. Karena menceritakan lembaran kelam kepada orang lain merupakan pertanda lemahnya rasa malu, penyesalan dan lemahnya rasa takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bahkan menceritakannya menjadi pertanda adanya kebanggaan dengan perbuatannya yang nista itu.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 ﻛُﻞُّ ﺃُﻣَّﺘِﻲ ﻣُﻌَﺎﻓًﻰ ﺇِﻻَّ ﺍﻟْﻤُﺠَﺎﻫِﺮِﻳْﻦَ ﻭَﺇِﻥَّ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻤُﺠَﺎﻫَﺮَﺓِ ﺃَﻥْ ﻳَﻌْﻤَﻞَ ﺍﻟﺮَّﺟُﻞُ ﻋَﻤَﻼً ﺑِﺎﻟﻠَّﻴْﻞِ ﺛُﻢَّ ﻳُﺼْﺒِﺢُ ﻭَﻗَﺪْ ﺳَﺘَﺮَﻩُ ﺍﻟﻠﻪُ . ﻓَﻴَﻘُﻮْﻝُ : ﻳَﺎ ﻓُﻼَﻥُ ﻋَﻤِﻠْﺖُ ﺍﻟْﺒَﺎﺭِﺣَﺔَ ﻛَﺬَﺍ ﻭَﻛَﺬَﺍ ﻭَﻗَﺪْ ﺑَﺎﺕَ ﻳَﺴْﺘُﺮُﻩُ ﺭَﺑُّﻪُ ﻭَﻳُﺼْﺒِﺢُ ﻳَﻜْﺸِﻒُ ﺳَﺘْﺮَ ﺍﻟﻠﻪِ ﻋَﻨْﻪُ .‏( ﻣﺘﻔﻖ ﻋﻠﻴﻪ )

“Setiap ummatku akan diampuni, kecuali orang-orang yang berterus-terang dalam bermaksiat. Dan di antara perbuatan berterus-terang dalam bermaksiat ialah, bila seseorang melakukan kemaksiatan pada malam hari, lalu Allah telah menutupi perbuatannya, akan tetapi ia malah berkata: “Wahai fulan, sungguh tadi malam aku telah berbuat demikian dan demikian,” padahal Rabbnya telah menutupi perbuatannya, justru ia malah menyingkap tabir Allah dari dirinya”. [Muttafaqun ‘alaih]

Pada hadits lain, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 ( ﺍﺟْﺘَﻨِﺒُﻮْﺍ ﻫَﺬِﻩِ ﺍﻟْﻘَﺎﺫُﻭْﺭَﺓَ ﺍﻟَّﺘِﻲ ﻧَﻬَﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﺰَّ ﻭَﺟَﻞَّ ﻋَﻨْﻬَﺎ ، ﻓَﻤَﻦْ ﺃﻟﻢ ﻓَﻠْﻴَﺴْﺘَﺘِﺮْ ﺑِﺴَﺘْﺮِ ﺍﻟﻠﻪِ ﻋَﺰَّ ﻭَﺟَﻞَّ ، ﻓَﺈِﻧَّﻪُ ﻣَﻦْ ﻳُﺒْﺪِ ﻟَﻨَﺎ ﺻَﻔْﺤَﺘَﻪُ ﻧُﻘِﻢْ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻛِﺘَﺎﺏَ ﺍﻟﻠﻪ )

“Jauhilah olehmu perbuatan-perbuatan nista yang telah Allah Azza wa Jalla larang, dan barang siapa yang melakukannya, maka hendaknya ia menutupi dirinya dengan tabir Allah Azza wa Jalla , karena barang siapa yang menampakkan kepada kami jati dirinya, maka kamipun akan menegakkan hukum Allah” [Riwayat al-Baihaqi dan dihasankan oleh Syaikh al-Albâni]

Berdasarkan dalil ini dan juga dalil lainnya, para ulama menyatakan, dianjurkan bagi orang yang telah terjerumus dalam perbuatan dosa agar merahasiakan dosanya itu dan tidak menceritakannya.

Oleh karena itu, tidak sepantasnya seorang wanita yang pernah berbuat zina dan sudah bertaubat menceritakan masa silamnya kepada siapapun, termasuk kepada laki-laki yang melamarnya. Terlebih, bila wanita itu benar-benar telah bertaubat dan menyesali dosanya. Karena yang wajib untuk diceritakan kepada laki-laki yang melamar adalah cacat atau hal-hal yang akan menghalangi atau mengurangi kesempurnaan hubungan suami istri [7].

Adapun perbuatan dosa, terlebih yang telah ditinggalkan dan telah disesali, maka tidak boleh diceritakan, karena siapakah dari kita yang tidak pernah berbuat dosa? .

PENUTUP

Pada kesempatan ini, saya merasa perlu untuk mengingatkan saudara-saudaraku, agar senantiasa menjadikan pasangan hidupnya sebagai cermin dari jati dirinya. Bila anda menjadi marah atau benci karena mengetahui adanya kekurangan pada pasangan anda, maka ketahuilah, anda pun memiliki kekurangan serupa atau lainnya, yang mungkin lebih besar dari kekurangannya. Bila anda merasa memiliki kelebihan yang tidak dimiliki oleh pasangan anda, maka ketahuilah, ia pun memiliki kelebihan yang tidak ada pada diri anda.

Oleh karena itu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah berpesan kepada kita dengan sabdanya:

ﻻ ﻳَﻔْﺮَﻙْ ﻣُﺆْﻣِﻦٌ ﻣﺆﻣﻨﺔ ﺇﻥ ﻛَﺮِﻩَ ﻣﻨﻬﺎ ﺧُﻠُﻘًﺎ ﺭَﺿِﻲَ ﻣِﻨْﻬﺎَ ﺁﺧَﺮَ

“Janganlah seorang mukmin membenci wanita mukmin, bila ia membenci suatu perangai darinya, niscaya ia suka dengan perangai yang lain” [Muslim]

Demikianlah, seyogyanya seorang muslim bersikap dan berfikir, tidak sepantasnya bersifat egois, hanya suka menuntut, akan tetapi tidak menyadari kekurangan yang ada pada dirinya sendiri. Bila kita menuntut agar pada diri calon pasangan kita memiliki berbagai kriteria yang sempurna, maka ketahuilah, calon pasangan kita pun memiliki berbagai impian tentang pasangan hidup yang ia dambakan. Karenanya, sebelum kita menuntut, terlebih dahulu wujudkanlah tuntutan kita pada diri kita sendiri. Dengan demikian, kita akan dapat berbuat adil dan tidak semena-mena bersikap dan dalam menentukan kriteria ideal calon pasangan hidup.

Semoga pemaparan singkat ini bermanfaat bagi kita, dan semoga Allah Ta’ala mensucikan jiwa kita dari noda-noda kenistaan.

Wallahu Ta’ala A’lam bish- Shawab.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 04/ Tahun XII/1429H/2008. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]

_________

 Footnotes

[1]. Lihat Fathul-Bâri, Ibnu Hajar al- Asqalâni (11/504) dan Faidhul-Qadîr, al- Munawi (2/247).
[2]. Majmu’ Fatâwâ, Ibnu Taimiyyah, 15/315-323.
[3]. Lihat Tafsîr ath-Thabari, Ibnu Jarir (18/108), Tafsîr al-Qurthubi (12/211), Majmu’ Fatâwâ, Ibnu Taimiyyah (15/322), dan Tafsîr Ibnu Katsîr (3/278).
[4]. Tafsîr Ibnu Katsîr, 3/328.
[5]. Adhwâ’ul-Bayân, Muhammad al-Amîn asy-Syinqithi, 5/429.
[6]. Majmu’ Fatâwâ, Lajnah ad-Dâ`imah, 18/383, fatwa nomor 17776.
[7]. Lihat asy-Syarhul-Mumti’, Ibnu ‘Utsaimîn, 12/203.

Share:

Senin, 19 September 2016

PESAN KITAB TA'LIMUL MUTA'ALLIM UNTUK PARA PENUNTUT ILMU

Ilmu adalah cahaya, dan cahaya tidak diberikan kepada orang-orang yang maksiat. Demikian lantunan syair Imam As-Syafii ra dari gurunya, begitulah gambaran fungsi ilmu bagi manusia, ilmu bagai lentera yang menerangi jalan gelap kehidupan manusia. Namun, dalam kenyataan banyak orang yang berilmu, tetapi sepertinya awam buta, ini terlihat dari cara berbicara, berpikir dan bertindak. Dimana letak kesalahannya, sehingga ilmu tidak memberikan mamfaat bagi kehidupan. Mengenai persoalan ini, Kitab Ta’lim al-Muta’allim Tariq at-Ta’allum merupakan referensi pokok yang harus kita kaji kembali dalam upaya merevitalisasi cara-cara kita belajar dan menuntut ilmu sehingga ilmu bermamfaat bagi kita.


Syaikh Az-Zarnuji adalah pengarang kitab ini, nama lengkapnya adalah Burhanuddin Al-Islam Az- Zarnuji, mengenai tempat dan tanggal lahirnya tidak ada keterangan pasti. Namun dilihat dari nisbahnya (zarnuji) maka sebagian peneliti berkesimpulan bahwa beliau berasal dari zarnuji, suatu daerah yang kini dikenal dengan nama Afghanistan.

Mengenai tanggal wafatnya, terdapat dua pendapat, ada yang mengatakan beliau wafat pada tahun 591 H/1195 M, ada pula yang mengatakan beliau wafat pada tahun 840 H/1243 M. Beliau hidup semasa dengan Ridha Al- Din Al-Naisari, antara tahun 500-600 H.

Syaikh Syaikh Az-Zarnuji menuntut ilmu di Bukhara dan samarkand, dua kota yang menjadi pusat keilmuan dan pengajaran. Mesjid-mesjid di kedua kota tersebut dijadikan sebagai lembaga pendidikan dan ta’lim, yang diasuh antara lain oleh Burhanuddin Al-Marginani, Syamsuddin Abd Al-Wajdi Muhammad bin Muhammad bin Abd dan Al- Sattar Al-Amidi.

Selain itu, Syaikh Syaikh Az- Zarnuji juga belajar pada Rukn Al-Din Al- Firqinani, seorang ahli Fiqh, satrawan dan penyair (w. 594 H/1196 M), Hammad bin Ibrahim, seorang ahli ilmu kalam, sastrawan dan penyair (w. 564 H/1170 M) dan Rukn Al-Islam Muhammad bin Abi Bakar yang dikenal dengan nama Khawahir Zada, seorang mufti Bukhara dan ahli dalam bidang fiqh, sastra dan syair (w. 573 H/1177 M).

Ta’lim al-Muta’allim merupakan kitab fenomenal meski ia ditulis pada periode awal abad pertengahan Islam (945-1250), bahkan ilmuwan seperti Khalil A. Totah dan Mehdi Nakosteen menyebutkan bahwa kitab ini adalah kitab paling terkenal dalam bidang pendidikan, demikian disebutkan keduanya dalam buku “The Contribution of the Arabs to Education” dan “History Of Islamic Origins of Western Education”. Sementara itu, Abdul Muidh Khan dalam “The Muslim Theories of Education during the Middle Age” menyebutkan bahwa semenjak Ta’lim al- Muta’allim dipublikasikan orientalis mulai sadar terhadap nilai prinsip-prinsip pendidikan Islam. Affandi Mukhtar dalam bukunya “Kitab Kuning dan Tradisi Akademik Pesantren” menyatakan bahwa Syaikh Az-Zarnuji layak dianggap sebagai figur intelektual periode awal abad pertengahan Islam.

Banyak ilmuwan barat yang tertarik mengkaji Ta’lim al-Muta’allim, bahkan menurut mereka kitab ini adalah kitab fenomenal yang membahasa tentang metode pendidikan Islam. Carl Brockelmann, G. E. von Grunebaum, Theodore M. Abel, I. O. Oleyede merupakan ilmu yang konsen mengkaji pemikiran Syaikh Az-Zarnuji dalam kitabnya. Pesan Ta’lim al-Muta’allim Syaikh Az-Zarnuji dalam pengantarnya merisaukan bahwa banyak orang yang menuntut ilmu tetapi tidak memberikan mamfaat dengan ilmu yang mereka tuntut. Menurutnya, hal itu terjadi karena cara mereka menuntut ilmu salah dan syarat-syaratnya mereka tinggalkan. Untuk itu, kitab Ta’lim al-Muta’allim yang ditulisnya terdiri dari 13 bab merupakan pesan penting yang harus diperhatikan para penuntut ilmu, ketigabelas bab tersebut terdiri dari:

1) Hakikat ilmu dan keutamaannya,

2) Niat belajar

3) Memilih guru, ilmu, teman dan ketabahan dalam belajar

4) Menghormati ilmu dan ulama

5) Sungguh-sungguh, kontinuitas dan minat yang kuat

6) Permulaan dan intensitas belajar serta tata tertibnya

7) Tawakkal kepada Allah SWT

8) Saat terbaik untuk belajar

9) Kasih sayang dan memberi nasehat

10) Mengambil pelajaran

11) Wara’ (menjaga diri dari yang syubhat dan haram) pada masa belajar

12) Penyebab hafal dan lupa

13) Masalah rezeki dan umur.

Dalam perkara keutamaan ilmu, Ta’lim al- Muta’allim berpesan bahwa ilmu merupakan jalan yang akan menerangi kehidupan manusia, sehingga manusia tidak salah memilih jalan hidup. Ilmu merupakan petunjuk Allah yang akan menyelamatkan manusia dari segala keresahan. Orang yang ahli ilmu Agama dan bersifat wara’ lebih berat bagi setan daripada menggoda seribu ahli ibadah tetapi bodoh. Pesan penting lain adalah berkaitan dengan niat, para penuntut ilmu hendaknya membetulkan niat mereka hanya untuk mencari keridhaan Allah, bukan mengharap kemegahan, ingin disanjung dan menjadi orang terpandang. Berkaitan dengan kehidupan kita sekarang, masalah-masalah sosial terus bermunculan dimana-mana seiring lembaga pendidikan tumbuh- berkembang bagai jamur di musim hujan. Sebagai bahan introspeksi, mungkin niat kita belum betul dalam menuntut ilmu, baik sebagai pelajar maupun pengajar.

Banyak yang belajar di Universitas hanya bertujuan agar mudah mendapat pekerjaan yang layak, belajar di lembaga pendidikan Agama bertujuan agar menjadi orang yang disegani, terpandang dan dipanggil Teungku atau Abu. Oleh sebab itu, meluruskan kembali niat dalam menuntut ilmu menjadi sebuah keniscayaan agar kehidupan kita tidak lagi morat-marit dan centang-perenang, sebagai gambaran bahwa ilmu yang kita miliki tidak mampu memberikan mamfaat menata kehidupan menjadi lebih baik, baik untuk pribadi, keluarga dan masyarakat. Pesan penting lain adalah termuat dalam bab empat, yaitu menghormati Ilmu dan Ulama.

Salah satu krisis yang sedang kita hadapi dewasa ini adalah krisis menghormati dan menghargai ilmu dan Ulama, bahkan para pelajar merasa tabu dan canggung menghormati guru mereka. Menurut Syaikh Az-Zarnuji, penghormatan yang dimaksud adalah seorang murid harus memiliki sikap mental yang baik selama mengikuti proses belajar mengajar, bahkan dalam Ta’lim al-Muta’allim Syaikh Az-Zarnuji menjelaskan detail tentang adab-adab murid terhadap guru.

Harus diakui bahwa seiring perkembangan zaman, budaya ta’dhim terhadap guru makin hari makin luntur, sekarang hanya ada dua lembaga pendidikan yang muridnya masih menaruh ta’dhim kepada gurunya, yaitu perguruan silat dan Dayah. Melengkapi pesannya ini, Syaikh Az-Zarnuji melukiskannya dalam sebuah syair “Keyakinanku tentang hak- hak guru, hak itu paling wajib di pelihara oleh muslim seluruhnya, demi memuliakannya hadiah berhak di haturkan seharga seribu dirham untuk mengajar satu huruf.

Memang benar, orang yang mengajarmu satu huruf ilmu yang diperlukan dalam urusan Agamamu, dia adalah bapak dalam kehidupan Agamamu”.

Dalam perkembangan dunia modern, pengaruh globalisasi dan pergaulan tanpa pandang bulu menjadi salah satu kendala dan penghambat dalam menuntut ilmu, Syaikh Az-Zarnuji jauh hari telah memberikan solusinya, beliau memandang bahwa memilih teman dalam bergaul merupakan perkara penting yang harus menjadi perhatian sehingga ilmu menjadi bermamfaat. Beliau menganjurkan supaya seseorang memilih teman yang tekun, wara’, bertabiat jujur dan mudah memahami masalah, serta menghindari/menyingkirkan teman pemalas, penganggur, banyak bicara, suka mengacau dan gemar memfitnah. Berkaitan dengan hal ini, hadih maja Aceh memberikan peutuah “meunyoe tameungoen ngen si paleh, harta habeh tanyoe malee”.

Dalam konteks sekarang, salah satu hal yang mungkin dilakukan untuk menjaga pergaulan adalah penerapan sistem asrama (boarding school) pada setiap lembaga pendidikan, dengan sistem ini para pelajar lebih mudah diawasi dan dapat dipantau pergaulannya. Untuk lembaga pendidikan di Aceh, terutama Perguruan Tinggi penulis mengusulkan hendaknya dilakukan kerjasama dengan Dayah- dayah, sehingga para mahasiswa tidak lagi mencari tempat penginapan (kos), tetapi dayah dapat menampung mereka untuk memfasilitasi penginapan sekaligus mendalami pelajaran- pelajaran Agama di Dayah.

Dalam Bab terakhir, pesan Ta’lim al-Muta’allim berkenaan dengan mencari rizki dan menghindari hal-hal yang tidak diperkenankan. Dalam hal ini, Syaikh Az-Zarnuji berpendapat bahwa antara rizki dan ibadah merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan, ia menyarankan kepada penuntut ilmu untuk menjalankan berbagai ibadah seperti shalat dhuha dan membaca beberapa ayat- ayat Al-Qur’an seperti surat Al-Waqi’ah, al-Mulk dan Al-Muzammil, lebih detail Syaikh Az-Zarnuji juga memberikan pesan-pesan tentang hal-hal yang membawa kebaikan, baik rizki dan berkah umur.

Asumsi yang berkembang bahwa lembaga pendidikan Agama prospek masa depannya suram, pesan Syaikh Az-Zarnuji ini tentu membantah asumsi yang berkembang, bedanya adalah pendekatan prospek masa depan (rizki) yang ditawarkannya adalah dengan pendekatan spiritual. Kini, hal penting adalah bagaimana mengkaji kembali pesan Ta’lim al-Muta’allim bagi para penuntut ilmu, sehingga ilmu dapat memberikan mamfaat dalam memperbaiki dan memberikan solusi terhadap permasalah yang dihadapi sekarang ini, terutama persoalan remaja dan dekadensi moral.

Semoga bermanfaat Amin Yaa robbal'aalamiin
Share:

Sabtu, 17 September 2016

100 KATA MUTIARA TENTANG PENTINGNYA ILMU

1. Ilmu pengetahuan ibarat padang pasir dan bintang di malam yang gelap, untuk itu kejarlah ilmu sekuat daya dan upaya.

2. Sebuah masyarakat yang berpendidikan akan dapat lebih mudah untuk diatur.


3. Kebutuhan manusia terhadap ilmu jauh lebih besar daripada kebutuhannya terhadap makan dan minum, karena makanan dan minuman hanya dibutuhkan sekali atau dua kali saja dalam sehari, sedang ilmu, dibutuhkan dalam setiap hembusan nafas.

4. Bukti akal pikiran manusia adalah perbuatannya, dan bukti ilmunya adalah ucapannya.

5. Sesulit apapun suatu pekerjaan akan lebih mudah jika dipelajari dengan sungguh-sungguh.

6. Ilmu itu dimiliki dengan lidah yang banyak bertanya dan akal yang gemar berpikir.

7. Sebuah rencana yang hebat dapat gagal hanya karena ketidaksabaran.

8. Ilmu pengetahuan tidak terbatas, tapi imajinasi lebih dari itu.

9. Ilmu pengetahuan tanpa agama adalah lumpuh. Dan agama tanpa ilmu pengetahuan itu buta.

10. Ilmu adalah titipan Tuhan di bumi dan para ulama adalah wakil-Nya yang berkaitan dengannya.

11. Barang siapa beramal sesuai ilmunya maka ia benar-benar menunaikan titipan Allah SWT.

12. Belajar terukur akan meningkatkan keberhasilan yang maksimal. Sebuah orientasi yang menekankan hasil akhir dengan membebaskan kreativitas belajar mengajar. Keterukuran menjadikan basiss kompetensi bertujuan jelas.

13. Ajarkan ilmu pengetahuan yang baik walaupun sedikit, pasti mendatangkan manfaat bagi orang lain, daripada disimpan, lama- kelamaan pasti lupa.

14. Ilmu pengetahuan modern mengungkap keajaiban al-Qur’an tentang kehidupan di dalam rahim, maka pelajarilah al-Qur’an

15. Jika kau beribadah kepada Allah, jagalah pikiranmu baikbaik. Jika kau berada di tengah-tengah majelis, jagalah lidahmu.

16. Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati semuanya itu akan diminta pertanggungjawaban.

17. Apabila kamu tidak mampu menjelaskan suatu ilmu dengan sederhana, maka sebenarnya kamu belum paham betul tentangnya.

18. Keyakinan adalah kekuatanku. Pengetahuan adalah senjataku. Kebajikan adalah pakaianku, dan kesabaran adalah latihanku.

19. Belajarlah, karena manusia dilahirkan tidak dalam keadaan mengetahui suatu ilmu.

20. Para ulama (orang yang mengetahui) adalah pewaris nabi.

21. Cintailah ilmu sebagaimana kau mencintai dirimu sendiri. Karena ilmu adalah pelita hidup.

22. Setiap apa yang kita ketahui tentang suatu hal, bahkan sekecil apapun itu bisa jadi itu sangat berarti dan bermanfaat bagi orang lain.

23. Kedudukan orang yang mengetahui dan tidak mengetahui tidak sama di mata Allah SWT.

24. Jika anda bertanya, hal apakah yang mendasari moralitas?, jawabannya adalah ilmu pengetahuan.

25. Tujuan utama menguasai ilmu pengetahuan adalah membangun peradaban dan mendidik manusia yang beradab.

1. Teruslah menjadi orang yang mencari ilmu kapanpun dan dimanapun.

2. Ilmu pengetahuan adalah pelita hidup.

3. Bersabarlah menanggung kepedihan berjalan larut malam dan pulang pagi-pagi demi mencari ilmu

4. Jangan pernah patah semangat dan bosan mencari ilmu pengetahuan karena hal itu akan menghadang kesuksesan.

5. Ilmu itu bukan diukur dengan banyaknya riwayat tetapi ia adalah cahaya yang diberikan oleh Allah ke dalam hati dan syaratnya adalah mengikuti sunnah Nabi Muhammad SAW dan menghindarkan diri dari hawa nafsu serta menjauhi bid’ah.

6. Ilmu hiasan lahir, agama hiasan batin. Ilmu memberikan kekuatan dan menerangi jalan, agama memberi harapan dan dorongan jiwa.

7. Ilmu menjawab pertanyaan yang dimulai dengan “bagaimana?”, agama menjawab pertanyaan yang dimulai dengan “mengapa?”.

8. Ilmu kadangkala membuar pikiran keruh, tapi agama selalu menenangkan jiwa para pemeluknya.

9. Allah meninggikan orang-orang yang beriman di antara manusia lainnya yang diberi ilmu pengetahuan dengan beberapa derajat.

10. Jadilah orang yang mengajar, atau orang yang belajar, atau orang yang mendengarkan atau orang yang menyukai, dan jangan engkau menjadi orang yang bodoh, niscaya engkau binasa.

11. Barang siapa yang ditanya tentang ilmu lalu ia menyembunyikannya akan diikat mulutnya dengan kekangaan dari api neraka pada hari kiamat.

12. Keutamaan ilmu lebih aku sukai daripada keutamaan ibadah, dan sebaik-baik agama kalian adalah wara’ (berhati-hati dari perkara yang diharamkan).

13. Allah tidak mencabut ilmu dengan sekaligus dari dada manusia. Tetapi Allah SWT menghilangkan ilmu itu dengan mematikan alim ulama.

14. Kalaulah bukan karena ilmu, tentulah manusia seperti binatang.

15. Tidak ada kebaikan ibadah yang tidak ada ilmunya dan tidak ada kebaikan ilmu yang tidak dipahami dan tidak ada kebaikan bacaan kalau tidak ada perhatian untuknya.

16. Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan lautan menjadi tinta, kemudian ditambahkan kepadanya tujuh lautan lagi sesudah keringnya, niscaya tidak akan habis-habisnya untuk dituliskan kalimat-kalimat Allah.

17. Cintailah ilmu karena sesungguhnya dari ilmu itu lahir kepahaman, maka bila kepahaman telah terbentuk maka manusia tidak akan lari daripada perjuangan.

18. Ilmu adalah pusaka para nabi. Ilmu bukan sekedar tumpukan buku.

19. Satu bab ilmu agama yang dipelajari oleh seseorang lebih baik baginya daripada dunia dan seisinya.

20. Sesungguhnya Allah dan para malaikat serta penduduk langit dan di bumi sampai semut dalam lubangnya dan ikan di lautan benar-benar bershalawat bagi orang yang mengajarkan kebaikan ilmu agama kepada manusia.

21. Langit mana yang akan menaungi saya dan bumi mana yang akan saya pijak apabila saya berani berkata tentang kitab Allah tanpa ilmu- ilmu.

22. Tuntutlah ilmu dari lahir hingga ke liang lahat.

23. Ilmu adalah makanan bagi jiwa.

24. Sesungguhnya ilmu (hadits) adalah agama maka lihatlah dari mana kalian mengambil agama kalian.

25. Ilmu itu pengetahuan tentang kebenaran berdasarkan dalil al- Qur’an dan As-Sunnah.

1. Buku adalah sebaik-baiknya sahabat. Maka bertemanlah dengan buku dan bersahabatlah dengan ilmu.

2. Menuntut ilmu itu wajib bagi semua muslim laki-laki dan perempuan

3. Ya Allah, ilhamkanlah aku dengan ilmu yang dapat menjadi alat untuk mengetahui segala perintah dan larangan-Mu.

4. Orang yang berkesempatan membaca adalah orang yang bahagia. Sebab ia bisa memtik bunga dari taman semesta, mengelilingi dunia dan bisa melipat waktu dan tempat.

5. Menuntut ilmu itu bagai nelayan yang berlayar ke lautan. Makin ke tengah makin banyak hasilnya.

6. Mencari, itulah titah ilmu pada pengabdinya.

7. Barangsiapa belum merasakan pahitnya belajar walau sebentar, maka akan merasakan pahitnya kebodohan sepanjang hidupnya.

8. Kunci kebahagiaan dunia adalah ilmu. Kunci kebahagiaan akhirat adalah ilmu. Dan kunci kebahagiaan dunia dan akhirat adalah ilmu.

9. Barangsiapa yang belajar ilmu agama bukan bertujuan mendapat keridhaan Allah tapi untuk mendapat kekayaan dan kedudukan di dunia semata-mata, pada hari kiamat nanti tidak akan mencium bau surga.

10. Ilmu itu sesuatu yang tidak ada bandingannya bagi orang yang niatnya benar. Mencari ilmu hendaknya diniatkan untuk menghilangkan kebodohan pada diri dan orang lain.

11. Barang siapa yang keluar mencari ilmu dan ia berniat akan mengamalkan dengan ilmunya niscaya ilmunya memberi manfaat kepadanya, walaupun hanya sedikit ilmu yang dicapainya.

12. Ilmu yang tidak diamalkan itu bagaikan pohon tanpa buah.

13. Tidak ada iri yang dibenarkan kecuali terhadap dua orang, yaitu terhadap orang yang Allah berikan harta, ia menghabiskannya dalam kebaikan dan terhadap orang yang Allah berikan ilmu. Ia memutuskan suatu perkara dengan ilmu itu dan mengajarkannya kepada orang lain.

14. Katakanlah, apakah sama antara orang yang berilmu pengetahuan dengan orang yang tidak berilmu pengetahuan? Hanya orang yang menerima peringatan adalah orang yang berakal.

15. Para malaikat adalah penjaga- penjaga langit, sedangkan ulama ahlul hadits adalah para penjaga bumi.

16. Barangsiapa yang Allah inginkan kebaikan padanya niscaya Allah akan menjadikannya paham dalam masalah agama.

17. Ilmu, dialah kunci amal, mempelajarinya merupakan kebaikan, mencarinya merupakan ibadah, mengingatnya merupakan tasbih, mengajarkannya merupakan sedekah.

18. Tanda ilmu itu tidak berkah ialah semakin kita menuntut ilmu semakin angkuh dan sombong, semakin berilmu semakin merasa hebat, penyakit hati semakin tebal bersarang dalam dada dan memandang rendah pada orang lain.

19. Tuntutlah ilmu di saat kamu miskin, ia akan menjadi hartamu. Di saat kamu kaya, ia akan menjadi perhiasanmu.

20. Saudaraku, kamu tidak akan mendapatkan ilmu, kecuali dengan enam perkara: kecerdasan, antusias terhadap ilmu, kesungguhan, harta, bergaul denga guru, waktu yang panjang.

21. Sebagai manusia, kita ada minat, kita juga ada fitrah, tapi ingatlah, jangan pernah kita membenci ilmu, karena ilmu itu cahaya. Sangatlah rugi barangsiapa yang mengabaikannya.

22. Belajar adalah benang-benang yang membujur dalam pengalaman. Pribadi adalah benang yang melintang dalam membuat suatu tenunan pengetahuan praktis.

23. Peleburan ilmu, memberi cahaya dan menjadi tunas kepada kehidupan.

24. Barangsiapa yang berangkat menimba ilmu sedangkan yang dia inginkan hanyalah semata-mata ilmu, ilmunya tidak akan bermanfaat baginya.

25. Barangsiapa yang berangkat menimba ilmu untuk mengamalkan ilmu, niscaya ilmu yang sedikit pun akan bermanfaat baginya.

1. Sesungguhnya para malaikat meletakkan sayap mereka bagi penuntut ilmu karena ridha dengan apa yang dicarinya.

2. Ilmu tidak akan bermanfaat di tangan orang yang sombong, keras hati, dan kasar.

3. Ilmu yang bermanfaat adalah investasi dunia akhirat.

4. Orang yang sombong itu umpama orang yang berdiri di atas gunung lalu dia melihat orang lain kecil namun dia tidak sadar bahwa orang lain juga melihat dirinya kecil.

5. Pengetuan kita adalah gambaran keterbatasan kita sebagai manusia. Ketidaktahuan kita adalah gambaran ketidakterbatasan Allah, sekaligus ketergantungan kita kepada Allah.

6. Rasa tidak berilmu ialah sifat utama orang berilmu.

7. Jangan sombong jika menjadi manusia yang berilmu.

8. Ilmu umpama air mengalir dari gunung ke lembah. Tadahlah dengan hati yang merendah kepada Allah SWT.

9. Jangan beramal tanpa ilmu, jangan berilmu tanpa amal.

10. Ilmu tanpa amal bagai pohon tanpa buah.

11. Ilmu itu bukan yang dihafal, tetapi yang memberi manfaat.

12. Menuntut ilmu adalah taqwa, menyampaikan ilmu adalah ibadah, mengulang-ulang ilmu adalah dzikir, mencari ilmu adalah jihad.

13. Adab-adab menuntut ilmu ialah ikhlas niat, tekun berusaha dan tawakkal, menjauhi maksiat, memilih teman yang shaleh, banyak berdzikir, menjaga kehormatan, dan beramal dengan segala ilmu yang diperoleh.

14. Sabar itu ilmu tingkat tinggi. Belajarnya setiap hari. Latihannya setiap saat. Ujiannya sering mendadak. Sekolahnya seumur hidup.

15. Ilmu itu bagaikan hewan buruan. Maka ikatlah ia dengan menuliskannya.

16. Ilmu itu teman dalam kesendirian, sahabat dalam keterasingan, penolong ketika ada kesulitan dan simpanan kematian.

17. Hidup perlu ilmu, mati perlu ilmu, ilmu untuk kaya, ilmu untuk amal.

18. Mencari ilmu itu seperti halnya ibadah, mengungkapkannya seperti halnya bertasbih, menyelidikinya seperti halnya berjihad, mengajarkannya seperti halnya bersedekah, dan memikirkannya seperti halnya berpuasa.

19. Ilmu terbaik adalah yang diamalkan. Waktu terbaik adalah yang dioptimalkan. Cinta terbaik yang dihalalkan. Harta terbaik yang disedekahkan. Manusia terbaik yang bermanfaat bagi orang lain.

20. Ilmu dan kebijaksanaan itu adalah sahabat yang setia dalam hidup sampai ketika nafas terlepas dari badan.

21. Ilmu adalah cahaya Allah. Dan cahaya Allah tidak diturunkan kepada ahli maksiat.

22. Jangan hanya menghitung berapa banyak buku yang sudah kau baca, tapi hitung juga berapa banyak orang yang sudah kau beri manfaat kebaikan dari ilmu dalam buku yang sudah kau baca.

23. Barang siapa yang mengetahui hakikat dirinya maka ia telah mengenal Tuhannya.

24. Pengetahuan, pengalaman, dan wawasan jauh lebih berharga dari tumpukan harta. Sebab bahagia dengan harta itu menghancurkan.

25. Ilmu itu tidak akan memberimu sebagian darinya, sampai engkau memberikan seluruh dirimu untuknya.

Share:

Selasa, 13 September 2016

TIGA WASIAT RASULULLAH SHALLALLAHU ALAIHI WASALLAM

TIGA WASIAT RASULULLAH SHALLALLAHU ALAIHI WA SALLAM


Oleh Syaikh Abdurrazaq bin Abdulmuhsin hafizhahumallâh

[1] Sungguh beruntung orang yang menghiasi hidupnya dengan sunnah-sunnah yang dicontohkan oleh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sungguh bahagia orang yang menjadikan petuah dan wasiat Rasûlullâh sebagai panduan hidupnya. Berikut ini adalah sebagian dari wasiat yang pernah disampaikan oleh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada para ShahabatNya Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sebuah wasiat yang singkat namun sarat makna serta menyentuh hati. Wasiat yang menghimpun kebaikan dunia dan akhirat dengan sempurna.-Red.

Dalam Musnad Imam Ahmad dan Sunan Ibnu Mâjah juga para imam lainnya terdapat hadits dari Abu Ayyub al-Anshâri Radhiyallahu anhu . Dalam hadits itu diberitakan bahwa ada seorang laki-laki mendatangi Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu mengatakan:

 ﻋِﻈْﻨِﻲ ﻭَﺃَﻭْﺟِﺰْ ﻭﻓﻲ ﺭﻭﺍﻳﺔ ﻋَﻠِّﻤْﻨِﻲ ﻭَﺃَﻭْﺟِﺰْ ﻗَﺎﻝَ : ﺇِﺫَﺍ ﻗُﻤْﺖَ ﻓِﻲ ﺻَﻠَﺎﺗِﻚَ ﻓَﺼَﻞِّ ﺻَﻠَﺎﺓَ ﻣُﻮَﺩِّﻉٍ ﻭَﻟَﺎ ﺗَﻜَﻠَّﻢْ ﺑِﻜَﻠَﺎﻡٍ ﺗَﻌْﺘَﺬِﺭُ ﻣِﻨْﻪُ ﻏَﺪًﺍ ﻭَﺍﺟْﻤِﻊِ ﺍﻟْﻴَﺄْﺱَ ﻣِﻤَّﺎ ﻓِﻲ ﺃَﻳْﺪِﻱ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ

Berilah aku nasehat dengan ringkas! (dalam riwayat lain) Ajarilah aku dengan ringkas! Lalu Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “ Jika kamu berdiri hendak melaksanakan shalat, maka shalatlah sebagaimana shalat orang yang pergi selamanya; Janganlah kamu mengucapkan satu perkataan yang kamu akan meminta maaf karenanya pada esok harinya; bertekadlah untuk tidak mengharapkan apa yang dimiliki orang lain.” [HR. Imam Ahmad, no. 23498 dan Ibnu Majah, no. 4171. Lihat as-Shahihah, no. 401]

Hadits ini adalah hadits hasan dengan banyaknya syawâhid (pendukung). Hadits agung yang singkat ini berisi tiga wasiat yang menghimpun semua kebaikan, dunia dan akhirat. Barangsiapa memahaminya lalu mengamalkannya, maka dia akan meraih semua kebaikan, baik dalam kehidupan dunia maupun akhirat.

Wasiat Pertama, Wasiat Tentang Shalat Agar Kaum Muslimin Memberikan Perhatian Ekstra Dan Menunaikannya Dengan Benar.

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits di atas mengajak setiap orang yang hendak melaksanakan shalat agar dia mengerjakannya dengan bersungguh- sungguh sebagaimana orang yang mengerjakan shalatnya yang terakhir, dia tahu dirinya tidak bisa lagi mengerjakan shalat setelah itu. Jika seseorang yang mengerjakan shalat merasa bahwa itu adalah shalat terakhir yang bisa dilakukan, dia tidak bisa mengerjakan shalat setelah itu, maka pasti dia akan bersungguh- sungguh. Dia pasti akan mengerjakannya dengan baik dan benar, dia pasti akan berusaha menyempurnakan semua rukun- rukunnya, seperti ruku’ dan sujudnya juga hal yang diwajibkan atau bahkan hal-hal yang disunnahkan tidak akan ditinggalkan sedikitpun.

Oleh karena itu, semestinya setiap orang yang hendak melaksanakan shalat mengingat wasiat Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini dalam setiap shalat yang sedang dia lakukan. Barangsiapa melaksanakan shalat dengan baik dan benar, maka shalat tersebut akan memandu dan membimbingnya kepada semua kebaikan dan keutamaan. Dan shalat seperti itu akan menjadi penyejuk mata (penenang baginya) dan mendatangkan kebahagiaan.

Wasiat Kedua, Wasiat Agar Menjaga Lisan. Lisan manusia termasuk anggota badan yang paling berbahaya. Jika sebuah kalimat atau ucapan belum keluar dari mulut seseorang, maka itu artinya si pemilik lisan masih bisa mengendalikan kalimat yang belum terucap tersebut dan ia menjadi penguasa baginya. Namun jika suatu kalimat atau perkataan sudah terlontarkan dari lisan, maka kalimat yang terucap itu akan menjadi penguasa atas si penguacap dan dia akan memaksanya untuk menanggung resiko ucapannya tersebut. Sabda Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

 ﻟَﺎ ﺗَﻜَﻠَّﻢْ ﺑِﻜَﻠَﺎﻡٍ ﺗَﻌْﺘَﺬِﺭُ ﻣِﻨْﻪُ ﻏَﺪًﺍ

Janganlah kamu mengucapkan suatu kalimat yang kamu akan meminta maaf karenanya pada esok harinya

Artinya, bersungguh-sungguhlah dalam menahan lisanmu agar tidak mengucapkan perkataan yang kamu khawatir harus meminta maaf karenanya di kemudian hari. Selama anda belum mengucapkan kalimat atau perkataan itu, berarti anda masih memegang kendali, tapi jika sudah diucapkan oleh lisan, berarti ucapan itulah yan memegang kendali atas diri anda.

Dalam wasiat Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang lain kepada Mu’adz bin Jabal Radhiyallahu anhu

ﺃَﻻَ ﺃُﺧْﺒِﺮُﻙَ ﺑِﻤِﻼَﻙِ ﺫَﻟِﻚَ ﻛُﻠِّﻪِ؟ ﻗَﺎﻝَ : ﺑَﻠَﻰ ﻳَﺎ ﻧَﺒِﻲَّ ﺍﻟﻠﻪِ، ﻓَﺄَﺧﺬَ ﺑِﻠِﺴَﺎﻥِ ﻧَﻔْﺴِﻪِ ﻭَﻗَﺎﻝَ: ﻛُﻒَّ ﻋَﻠَﻴْﻚَ ﻫَﺬَﺍ، ﻗَﺎﻝَ : ﻳَﺎ ﻳَﺎ ﻧَﺒِﻲَّ ﺍﻟﻠﻪِ ، ﻭَﺇِﻧَّﺎ ﻟَﻤُﺆَﺍﺧَﺬُﻭﻥَ ﺑِﻤَﺎ ﻧَﺘَﻜَﻠَّﻢُ ﺑِﻪِ؟ ﻗَﺎﻝَ: ﺛَﻜِﻠَﺘْﻚَ ﺃُﻣُّﻚَ ﻳَﺎﻣُﻌَﺎﺫُ، ﻭَﻫَﻞْ ﻳَﻜُﺐُّ ﺍﻟﻨَّﺎﺱَ ﻓِﻲ ﺍﻟﻨَّﺎﺭ ﻋَﻠَﻰ ﻭُﺟُﻮﻫِﻬِﻢ، ﺃَﻭ ﻗَﺎﻝَ : “ ﻋَﻠَﻰ ﻣَﻨَﺎﺧِﺮِﻫِﻢْ ﺇِﻻَّ ﺣَﺼَﺎﺋِﺪُ ﺃَﻟﺴِﻨَﺘِﻬِﻢْ

Maukah engkau aku beritahu kunci dari semua itu? (Mu’adz mengatakan-red) aku mengatakan, “Tentu wahai Rasûlullâh.” Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam memegang lidahnya secara bersabda, “Tahanlah ini!” (Mu’adz mengatakan-red) aku mengatakan, “Wahai Nabi Allâh! Apakah kita akan disiksa dengan sebab ucapan yang kita ucapkan?” Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Wahai Mua’dz, kasihan sekali kamu! Adakah sesuatu yang menyebabkan seseorang tersungkur wajahnya di neraka selain dari ucapan- ucapan lisan mereka [HR. Ahmad, no. 22016; at-Tirmidzi, no. 2616 dan hadits ini dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam kitab Shahihul Jami’, no. 5136]

Jadi lisan itu sangat berbahaya. Dalam sebuah hadits dari Shahabat Tsabit , Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 ﺇِﺫَﺍ ﺃَﺻْﺒَﺢَ ﺍﺑْﻦُ ﺁﺩَﻡَ، ﻓَﺈِﻥَّ ﺍﻟْﺄَﻋْﻀَﺎﺀَ ﻛُﻠَّﻬَﺎ ﺗُﻜَﻔِّﺮُ ﺍﻟﻠِّﺴَﺎﻥَ ﻭَﺗَﻘُﻮﻝُ: ﺍﺗَّﻖِ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻓِﻴﻨَﺎ، ﻓَﺈِﻥِ ﺍﺳْﺘَﻘَﻤْﺖَ ﺍﺳْﺘَﻘَﻤْﻨَﺎ، ﻭَﺇِﻥِ ﺍﻋْﻮَﺟَﺠْﺖَ ﺍﻋْﻮَﺟَﺠْﻨَﺎ

Jika bani Adam memasuki waktu pagi, maka seluruh anggota badan manusia tunduk kepada lisan lalu mereka mengatakan, ‘Bertakwalah kalian dalam urusan kami, karena kami selelau bersana kamu. Jika anda lurus, maka kami juga lurus dan jika anda bengkok, maka kami juga bengkok. [HR. Ahmad, no. 11908 dan at-Tirmidzi, no. 2407 dari hadits Sa’id al-Khudriy. Hadits ini dinilai hasan oleh syaikh al-Albani rahimahullah]

Sabda Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

 ﻟَﺎ ﺗَﻜَﻠَّﻢْ ﺑِﻜَﻠَﺎﻡٍ ﺗَﻌْﺘَﺬِﺭُ ﻣِﻨْﻪُ ﻏَﺪًﺍ

Janganlah kamu mengucapkan suatu kalimat yang kamu akan meminta maaf karenanya pada esok harinya. Dalam potongan kalimat ini, terdapat seruan, ajakan dan himbauan untuk selalu introspeksi diri dalam masalah ucapan- ucapan yang terlontar dari lisan. Hendaklah kita merenung sebelum berucap, jika kita memandang ucapan itu mendatangkan kebaikan, maka ucapkanlah! Namun jika ucapan yang akan kita katakan itu buruk, maka hendaklah dia menahan diri. Jika tidak tahu, apakah ucapan itu baik atau buruk? Maka sebaiknya menahan diri dan tidak mengucapkannya sampai kita benar-benar mengerti tentang ucapan yang akan kita ucapkan tersebut.

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ﻣَﻦْ ﻛَﺎﻥَ ﻳُﺆْﻣِﻦُ ﺑِﺎﻟﻠﻪِ ﻭَﺍﻟْﻴَﻮْﻡِ ﺍﻵﺧِﺮِ ﻓَﻠْﻴَﻘُﻞْ ﺧَﻴْﺮًﺍ ﺃَﻭِ ﻟْﻴَﺼْﻤُﺖْ

Barangsiapa beriman kepadaAllah dan hari akhir, maka hendaklah dia mengucapkan perkataan yang baik atau diam [HR. Al- Bukhâri, no. 6018 dan Muslim, no. 47 dari hadits Abu Hurairah Radhiyallahu anhu])

Namun banyak orang yang membiarkan atau membebani dirinya dengan banyak bicara dan tidak mau ambil pusing dengan pembicaraannya, akhirnya dia harus menanggung resiko buruk dari ucapannya di dunia dan akhirat. Sebagai seorang yang berakal sehat mestinya seseorang harus menimbang-nimbang ucapan yang akan dilontarkan dan memelihara lisannya dari ucapan-ucapan yang tidak bermanfaat atau tidak layak sehingga perlu meminta maaf di waktu yang akan datang.

Sabda Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

 ﻟَﺎ ﺗَﻜَﻠَّﻢْ ﺑِﻜَﻠَﺎﻡٍ ﺗَﻌْﺘَﺬِﺭُ ﻣِﻨْﻪُ ﻏَﺪًﺍ

Janganlah kamu mengucapkan suatu kalimat yang kamu akan meminta maaf karenanya pada esok harinya Kata “besok” dalam hadits di atas bisa jadi maksudnya hari kiamat, yaitu disaat kita harus mempertaggungjawabkan semua perbuatan anggota badan kita di hadapan Allâh Azza wa Jalla , atau bisa jadi maksudnya adalah besok hari yakni di dunia saat banyak orang yang menuntut konsekuensi dari ucapan kita.

Wasiat Ketiga , Wasiat Agar Qanâ’ah, Menggantungkan Hati Hanya Kepada Allâh Azza Wa Jalla Semata Dan Sama Sekali Tidak Mengharapkan Apa Yang Dimiliki Orang Lain. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 ﻭَﺍﺟْﻤِﻊِ ﺍﻟْﻴَﺄْﺱَ ﻣِﻤَّﺎ ﻓِﻲ ﺃَﻳْﺪِﻱ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ

 Bertekadlah untuk tidak mengharapkan apa yang dimiliki orang lain.

Maksudnya fokuskan hatimu! Bertekadlah untuk tidak mengharapkan apa-apa yang dimiliki orang lain. Janganlah Anda mengharapkan apapun dari mereka! Hendaklah Anda berharap hanya kepada Allâh Azza wa Jalla semata! Sebagaimana lisan kita yang hanya meminta dan memohon kepada Allâh Azza wa Jalla semata, maka begitu juga bahasa tubuh kita yang lain, hendaknya hanya meminta dan memohon serta berharap kepada Allâh Azza wa Jalla semata. Kita memutus semua harapan dan ketergantungan hati kita dari semua orang lalu kita arahkan ketergantungan hati kita hanya kepada Allâh Azza wa Jalla .

Dan shalat yang dilakukan oleh seseorang merupakan sarana terbesar dalam merealisasikan semua yang menjadi keinginan. Orang yang tidak menaruh harapan kepada semua yang dimiliki orang lain, maka dia akan hidup mulia dan berwibawa, sebaliknya orang yang selalu mengharapkan apa yang dimiliki orang lain, maka hidupnya akan terhina.

Orang yang hatinya senantiasa bergantung kepada Allâh Azza wa Jalla dalam segala keadaan, dia tidak berharap kecuali kepada Allâh, tidak meminta kecuali kepada Allâh juga tidak bertawakkal kecuali kepada-Nya, maka pasti Allâh Azza wa Jalla akan memenuhi kebutuhannya di dunia dan di akhirat.

Allâh Azza wa Jalla berfirman:

ﺃَﻟَﻴْﺲَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺑِﻜَﺎﻑٍ ﻋَﺒْﺪَﻩُ

Bukankah Allâh cukup untuk melindungi hamba-hamba-Nya. [Az-Zumar/39:36]

Juga berfirman:

ﻭَﻣَﻦْ ﻳَﺘَﻮَﻛَّﻞْ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻓَﻬُﻮَ ﺣَﺴْﺒُﻪُۚ ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﺑَﺎﻟِﻎُ ﺃَﻣْﺮِﻩِۚ ﻗَﺪْ ﺟَﻌَﻞَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻟِﻜُﻞِّ ﺷَﻲْﺀٍ ﻗَﺪْﺭًﺍ

Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allâh niscaya Allâh akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allâh melaksanakan urusan yang (dikehendaki)- Nya. Sesungguhnya Allâh telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu. [Ath- Thalâq/65:3]

Inilah tiga wasiat singkat Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam namun sarat dengan makna. Semoga Allâh Azza wa Jalla memberikan hidayah taufiq-Nya kepada kita semua agar bisa melakukan dan melaksanakan wasiat Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 08/ Tahun XVIII/1436H/2015M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079 ]

_______

 Footnote [1] Diterjemahkan dengan sedikit perubahan dari kitab Ta’zhîmus Shalât , hlm. 49-53

Share:

PEGAWAI YANG AMANAH: HARUS MEMILIKI SIFAT IFFAH DAN BERSIH DARI MENERIMA SOGOKAN DAN HADIAH

BAGAIMANA MENJADI PEGAWAI YANG AMANAH?

Oleh Syaikh Abdul Muhsin bin Hamad Al-Abad

MUKADIMAH

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam atas penyempurna dan pelengkap agama dan penghulu para rasul serta imam orang-orang yang bertaqwa nabi kita, Muhammad dan atas keluarga serta shahabat-shahabatnya dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari Kiamat. Amma ba’du


Ini adalah risalah singkat berupa nasihat untuk para pegawai dan karyawan dalam menunaikan pekerjaan-pekerjaan yang diamanahkan kepada mereka. Aku menulisnya dengan harapan agar mereka mendapat manfaat darinya, dan supaya mambantu mereka untuk mengikhlaskan niat-niat mereka serta bersungguh- sungguh dalam bekerja dan menjalankan kewajiban-kewajiban mereka. Aku memohon kepada Allah agar semua mendapatkan taufik dan bimbingan-Nya.

7. PERLAKUAN PEGAWAI KEPADA ORANG LAIN SEPERTI APA IA INGIN DIPERLAKUKAN.

Nasihat memiliki kedudukan yang agung di dalam Islam, oleh karenanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

ﺍﻟﺪِّﻳْﻦُ ﺍﻟﻨَّﺼِﻴْﺤَﺔُ، ﻗُﻠﻨَﺎ : ﻟِﻤَﻦْ؟ ﻗَﺎﻝَ : ﻟِﻠَّﻪِ ﻭَﻟِﻜِﺘَﺎﺑِﻪِ ﻭَﻟِﺮَﺳُﻮْﻟِﻪِ ﻭَﻷَِﺋِﻤَّﺔِ ﺍﻟْﻤُﺴﻠِﻤِﻴْﻦَ ﻭَﻋَﺎﻣَّﺘِﻬِﻢْ

“Agama adalah nasihat’, kami berkata, ‘Untuk siapa?’, Beliau bersabda, ‘Untuk Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya dan para pemimpin kaum muslimin serta sesama mereka” [Diriwayatkan oleh Muslim 55 dari Abu Tamim bin Aus Ad-Dari Radhiyallahu ‘anhu]

Dan berkata Jarir bin Abdullah Al-Bajali Radhiyallahu anhu, “Aku telah berba’iat kepada Rasulullah atas mendirikan shalat, membayar zakat dan menasihati untuk setiap Muslim” [Diriwayatkan Al-Bukhari 57 dan Muslim 56]

Sebagaimana seorang pegawai atau karyawan apabila ia punya kebutuhan pada yang lain, orang lain itu wajib memperlakukannya dengan mu’amalah yang baik. Maka wajib pula atasnya untuk memperlakukan orang lain dengan mu’amalah hasanah (perlakuan yang baik). Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda.

ﻓَﻤَﻦْ ﺃَﺣَﺐَّ ﺃَﻥْ ﻳُﺰَﺣْﺰَﺡَ ﻋَﻦِ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ ﻭَﻳُﺪْﺧَﻞَ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔَ، ﻓَﻠْﺘَﺄْ ﺗِﻪِ ﻣَﻨِﻴَّﺘُﻪُ ﻭَﻫُﻮَ ﻳُﺆْﻣِﻦُ ﺑِﺎﻟﻠَّﻪِ ﻭَﺍﻟْﻴَﻮْﻡِ ﺍْﻵﺧِﺮِ، ﻭَﻟْﻴَﺄْﺕِ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﻳُﺤِﺐُّ ﺃَﻥْ ﻳُﺆْﺗَﻰ ﺇِﻟَﻴْﻪِ

“Maka barangsiapa yang ingin dijauhkan dari api nereka dan masuk surga, hendaklah ia meninggal sedang ia beriman kepada Allah dan hari akhir, dan hendaklah ia memperlakukan manusia sebagaimana ia ingin diperlakukan” [Diriwayatkan oleh Muslim]

Dalam hadits yang panjang dari Abdullah bin Amr. Dan maknanya adalah perlakukanlah manusia sebagaimana engkau ingin diperlakukan. Rasulullah bersabda.

 ﻻَ ﻳُﺆْ ﻣِﻦُ ﺃَﺣَﺪُﻛُﻢْ ﺣَﺘَّﻰ ﻳُﺤِﺐُّ ﻷَِﺧِﻴْﻪِ ﻣَﺎ ﻳُﺤِﺐُّ ﻟِﻨَﻔْﺴِﻪِ

“Tidak sempurna keimanan salah seorang dari kalian sehingga ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri” [Diriwayatkan Al-Bukhari 13 dan Muslim 45 dari Anas]

Allah Ta’ala telah mencela orang yang memperlakukan orang lain tidak seperti ia ingin diperlakukan dalam firman-Nya.

ﻭَﻳْﻞٌ ﻟِّﻠْﻤُﻄَﻔِّﻔِﻴﻦَ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺇِﺫَﺍ ﺍﻛْﺘَﺎﻟُﻮﺍ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ ﻳَﺴْﺘَﻮْﻓُﻮﻥَ ﻭَﺇِﺫَﺍ ﻛَﺎﻟُﻮﻫُﻢْ ﺃَﻭ ﻭَّﺯَﻧُﻮﻫُﻢْ ﻳُﺨْﺴِﺮُﻭﻥَ

“Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang. Yaitu orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka meminta dipenuhi. Dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi” [Al- Muthaffifin : 1-3]

Dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪ ﺣَﺮَّﻡَ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢ ﻋُﻘُﻮْﻕَ ﺍْﻷُﻣَﻬَﺖِ، ﻭَﻣَﻨْﻌًﺎ ﻭَﻫَﺎﺕِ، ﻭَﻭَﺃْﺩَ ﺍﻟْﺒَﻨَﺎﺕِ، ﻭَﻛَﺮِﻩَ ﻟَﻜُﻢْ ﻗِﻴْﻞَ ﻭَﻗَﺎﻝَ، ﻭَﻛَﺜْﺮَﺓَ ﺍﻟﺴُّﺆَﺍﻝِ ﻭَﺇِﺿَﺎﻋَﺔَ ﺍﻟْﻤَﺎﻝِ

“Sesungguhnya Allah telah mengharamkan atas kalian durhaka kepada para ibu, pelit dan rakus, menguburkan anak perempuan hidup-hidup, dan membenci untuk kalian tiga perkara yaitu ; kata-kata omong kosong, banyak bertanya, dan menyia-nyiakan harta” [Diriwayatkan Al-Bukhari 2408 dan Muslim 593 dari Al-Mughirah bin Syu’bah]

Di dalam hadits ini terdapat celaan terhadap yang rakus lagi pelit, yang mengambil dan tidak memberi. Allah telah mngingatkan wali-wali anak- anak yatim bahwasanya mereka khawatir terhadap anak keturunan mereka yang kecil-kecil kalau mereka tinggalkan. Allah berfirman.

 ﻭَﻟْﻴَﺨْﺶَ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻟَﻮْ ﺗَﺮَﻛُﻮﺍ ﻣِﻦْ ﺧَﻠْﻔِﻬِﻢْ ﺫُﺭِّﻳَّﺔً ﺿِﻌَﺎﻓًﺎ ﺧَﺎﻓُﻮﺍ ﻋَﻠَﻴْﻬِﻢْ ﻓَﻠْﻴَﺘَّﻘُﻮﺍ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻭَﻟْﻴَﻘُﻮﻟُﻮﺍ ﻗَﻮْﻟًﺎ ﺳَﺪِﻳﺪًﺍ

 “Dan hendaklah takut kepada Allah orang- orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap kesejahteraan mereka. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar” [An-Nisa ; 9]

Maknanya, sebagaimana mereka ingin anak- anak keturunan mereka nantinya diperlakukan dengan baik, maka wajib atas mereka untuk berlaku baik terhadap anak- anak yatim yang mereka menjadi wali atasnya.

8. PEGAWAI MENDAHULUKAN YANG DAHULU DALAM BERURUSAN

Termasuk sikap adil dan insaf ; hendaknya seorang pegawai tidak mengahirkan orang yang duluan dari orang-orang yang berurusan, atau mendahulukan orang yang belakangan. Akan tetapi ia mendahulukan berdasarkan urusan yang terdahulu. Dalam hal yang seperti ini memudahkan pegawai dan orang-orang yang berurusan. Telah datang dalam sunnah Rasulullah apa yang menunjukkan atas itu. Dari Abu Hurairah, ia berkata,

ﺑَﻴْﻨَﻤَﺎ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲُّ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻓِﻲ ﻣَﺠْﻠِﺲٍ ﻳُﻬَﺪَّﺙُ ﺍﻟْﻘَﻮْﻡَ ﺟَﺎﺀَﻩُ ﺃََﻋْﺮَﺍﺑِﻲُّ ﻓَﻘَﺎﻝَ : ﻣَﺘَﻰ ﺍﻟﺴَّﺎﻋَﺔُ؟ ﻓَﻤَﻀَﻰ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻳُﺤَﺪِّﺙُ ﻓَﻘَﺎﻝَ ﺑَﻌْﺾُ ﺍﻟْﻘَﻮْﻡِ : ﺳَﻤِﻊَ ﻣَﺎ ﻗَﺎﻝَ ﻓَﻜَﺮِﻩَ ﻡَ ﻗَﺎﻝَ ﻭَ ﻗَﺎﻝَ ﺑَﻌْﻀُﻬُﻢْ : ﺑَﻞْ ﻟَﻢْ ﻳَﺴْﻤَﻊْ ﺣَﺘَّﻰ ﺇِﺫَﺍ ﻗَﻀَﻰ ﺣَﺪِﻳﺜَﻪُ ﻗَﺎﻝَ : ﺃَﻳْﻦَ ﺃُﺭَﺍﻩُ ﺍﻟﺴَّﺎﺋِﻞُ ﻋَﻦِ ﺍﻟﺴَﺎ ﻋَﺔ؟ ﻗَﺎﻝَ : ﻫَﺎ ﺃَﻧﺎ ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻗَﺎﻝَ : ﻓَﺈِﺫَﺍﺿُﻴِّﻌَﺖِ ﺍْﻷَﻣَﺎﻧَﺔُ ﻓَﺎﻧْﺘَﻈِﺮِ ﺍﻟﺴَّﺎﻋَﺔَ ﻗَﺎﻝَ : ﻛَﻴْﻒَ ﺇِﺿَﺎﻋَﺘُﻬَﺎ؟ ﻗَﺎﻝَ : ﺇِﺫَﺍ ﻭُﺳِّﺪَ ﺍْﻷَﻣْﺮُ ﺇِﻟَﻰ ﻏَﻴْﺮِ ﺃَﻫْﻠِﻪِ ﻓَﺎﻧْﺘَﻈِﺮِ ﺍﻟﺴَّﺎﻋَﺔَ

 “Ketika Nabi di suatu majelis berbicara kepada orang-orang, datanglah seorang Arab badui lantas berkata. ‘Kapan terjadinya Kiamat? Rasulullah terus berbicara, sebagian orang berkata, ‘Beliau mendengar apa yang dikatakannya dan beliau membencinya’, sebagian lain mengatakan, ‘Bahkan ia tidak mendengar’, sehingga tatkala beliau menyelesaikan pembicaraannya beliau berkata, ‘Mana orang yang bertanya tentang hari Kiamat?’ Ia berkata, ‘Ini aku wahai Rasulullah’, Rasul bersaba, ‘Apabila amanah telah disia- siakan maka tunggulah hari Kiamat’. Ia bertanya lagi, ‘Bagaimana menyia- nyiakannya?’ Beliau menjawab, ‘Apabila diserahkan urusan kepada yang bukan ahlinya maka tunggulah hari Kiamat” [Diriwayatkan Al-Bukhari]

Hadits ini menunjukkan bahwasanya Rasulullah tidak menjawab si penanya tentang hari Kiamat melainkan setelah ia selesai berbicara kepada orang-orang yang telah mendahuluinya.

Al-Hafidz Ibnu Hajar berkata dalam uraiannya, “Disimpulkan darinya memberi pelajaran berdasarkan yang duluan, dan begitu juga dalam fatwa-fatwa, urusan pemerintahan dan lain sebagainya”. Dan disebutkan dalam biografi Abu Ja’far Muhammad bin Jarir Ath-Thabari di kitab Lisanul Mizan karangan Al-Hafizh Ibnu Hajar, “Dan Ibnu Asakir mengeluarkan dari jalan Abu Ma’bad Utsman bin Ahmad Ad- Dainuri ia berkata, ‘Aku menghadiri majelis Muhammad bin Jarir dan hadir juga menteri Al-Fadhal bin Ja’far bin Al-Furat, dan dia telah didahului oleh seseorang. Maka berkata Ath-Thabari kepada orang tersebut, ‘Tidakkah engkau ingin membaca?’ Maka ia menunjuk kepada si menteri.

Maka Ath-Thabari berkata, ‘Apabila giliran untukmu maka janganlah engkau terganggu oleh Dajlah (nama sungai) atau Efrat (Al- Furat)’. Aku katakan, “Dan ini sebagian dari keunikan dan kemahiran bahasanya serta tidak tertariknya ia pada anak-anak dunia”.

9. PEGAWAI HARUS MEMILIKI SIFAT IFFAH (MENJAGA KEHORMATAN) DAN BERSIH DARI MENERIMA SOGOKAN DAN HADIAH.

Setiap pegawai wajib menjadi seorang yang menjaga kehormatan dirinya, berjiwa mulia dan kaya hati. Jauh dari memakan harta- harta manusia dengan batil, dari apa-apa yang diberikan kepadanya berupa suap walau dinamakan dengan hadiah. Karena apabila dia mengambil harta manusia dengan tanpa hak berarti ia memakannya dengan batil, dan memakan harta dengan cara batil merupakan salah satu sebab tidak dikabulkannya do’a.

Muslim meriwayatkan di dalam shahihnya (1015) dari Abu Hurairah, ia berkata,

Hai manusia ! Sesungguhnya Allah Maha baik tidak menerima kecuali yang baik, dan sesungguhnya Allah telah memerintahkan orang-orang beriman dengan apa yang telah diperintahkannya kepada para rasul, maka Ia berfirman, “Wahai rasul-rasul makanlah kamu dari yang baik-baik dan beramallah kamu dengan amalan yang baik. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan (al-Mukminun :51)

dan Ia berfirman :

”Wahai orang-orang yang beriman makanlah kamu dari apa yang baik- baik dari apa yang telah Kami rizkikan kepadamu (al-Baqarah : 172).

Kemudian beliau menyebutkan seorang yang telah berjalan jauh dalam keadaan kusut dan berdebu, membentangkan kedua tangannya ke langit (berkata), ‘Wahai Rabb! wahai Rabb!, sedangkan makanannya haram, minumannya haram, dan pakaiannya haram, dan ia dikenyangkan dengan yang haram, lantas bagaimana do’anya dikabulkan untuk itu?!”.

Diantara dalil yang jelas yang memerintahkan menjauhi memakan harta dengan cara batil apa yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam shahihnya (7152), dari Jundab bin Abdullah Radhiyallahu anhu, berkata.

 ﺇِﻥَّ ﺃَﻭَّﻝَ ﻣَﺎﻳُﻨْﺘِﻦُ ﻣِﻦَ ﺍْﺇﻻﺀِﻧْﺴَﺎﻥِ ﺑَﻄْﻨُﻪُ، ﻓَﻤَﻦِ ﺍﺳْﺘَﻄَﺎﻉَ ﺃَﻥْ ﻻَﻳَﺄْﻛُﻞَ ﺇِﻻَّ ﻃَﻴِّﺒًﺎ ﻓَﻠﻴَﻔْﻌَﻞْ، ﻭَﻣَﻦِ ﺍﺳْﺘَﻄَﺎﻉَ ﺃَﻥْ ﻻَﻳُﺤَﺎﻝَ ﺑَﻴْﻨَﻪُ ﻭَﺑَﻴْﻦَ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔِ ﺑِﻤِﻞْﺀِ ﻛَﻔِّﻪِ ﻣِﻦْ ﺩَﻡٍ ﺃَﻫْﺮَﺍﻗَﻪُ ﻓَﻠْﻴَﻔﻌَﻞْ

“Sesungguhnya yang pertama busuk dari manusia adalah perutnya, maka barangsiapa yang sanggup untuk tidak memakan melainkan yang baik maka lakukanlah, dan barangsiapa yang bisa untuk tidak dihalangi antara dia dan surga walau dengan segenggam darah yang ditumpahkannya maka lakukanlah” Dan yang juga diriwayatkannya (2083) dari Abu Hurairah dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

 ﻟَﻴَﺄْ ﺗِﻴَﻦَّ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ ﺯِﻣَﺎﻥٌ ﻻَ ﻳَﺒَﺎﻟِﻲ ﺍﻟْﻤَﺮْﺀُ ﺑِﻤَﺎ ﺃَﺧَﺬَ ﺍﻟْﻤَﺎﻝَ ﺃَﻣِﻦْ ﺣَﻼَﻝٍ ﺃَﻡْ ﻣِﻦْ ﺣَﺮَﺍﻡٍ

“Sungguh akan datang pada manusia suatu zaman di mana seseorang tidak peduli dengan cara apa dia mengambil harta, apakah dari yang halal atau dari yang haram”.

Menurut orang-orang yang mengambil harta tanpa peduli ini ; bahwasanya yang halal adalah yang berada di tangan dan yang haram adalah yang tidak sampai ke tangan. Adapun yang halal dalam Islam adalah apa yang telah dihalalkan oleh Allah dan Rasul- Nya dan yang haram adalah yang telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Telah datang dalam sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam hadits-hadits yang menunjukkan dilarangnya aparat pekerja dan pegawai mengambil sesuatu dari harta walaupun dinamakan hadiah, diantaranya hadits Abi Sa’id Hamid As-Saidi, ia berkata.

 ﺍﺳْﺘَﻌْﻤَﻞَ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﺭَﺟُﻼً ﻣِﻦَ ﺍْﻷَﺳْﺪِ ﻳُﻘَﺎﻝُ ﻟَﻪُ ﺍﺑْﻦُ ﺍﻟﻠُّﺘْﺒِﻴَﺔِ ﻗَﺎﻝَ ﻋَﻤْﺮٌﻭ ﻭَﺍﺑْﻦُ ﺃَﺑِﻲ ﻋُﻤَﺮَ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﺼَّﺪَﻗَﺔِ ﻓَﻠَﻤَّﺎ ﻗَﺪِﻡَ ﻗَﺎﻝَ : ﻫَﺬَﺍ ﻟَﻜُﻢْ ﻭَﻫَﺬَﺍ ﻟِﻲ ﺃُﻫْﺪِﻱَ ﻟِﻲ ﻗَﺎﻝَ ﻓَﻘَﺎﻡَ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﻤِﻨْﺒَﺮِ ﻓَﺤَﻤِﺪَ ﺍﻟﻠَّﻪ ﻭَﺃَﺛْﻨَﻰ ﻋَﻠَﻴﻪِ ﻭَﻗَﺎﻝَ : ﻣَﺎﺑَﺎﻝُ ﻋَﺎﻣِﻞٍ ﺃَﺑْﻌَﺜُﻪُ ﻓَﻴَﻘُﻮْﻝُ : ﻫَﺬَﺍ ﻟَﻜُﻢْ ﻭَﻫَﺬَﺍ ﺃُﻫْﺪِﻱَ ﻟِﻲ، ﺃَﻓَﻼَ ﻗَﻌَﺪَ ﻓِﻲ ﺑَﻴْﺖِ ﺃَﺑِﻴْﻪِ ﺃَﻭْ ﻓِﻲ ﺑَﻴْﺖِ ﺃُﻣِّﻪِ ﺣَﺘَّﻰ ﻳَﻨْﻈُﺮَ ﺃَﻳُﻬْﺪَﻯ ﺇِﻟَﻴْﻪِ ﺃَﻡْ ﻻَ، ﻭَﺍﻟَّﺬِﻱ ﻧَﻔﺲُ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﺑِﻴَﺪِﻩِ ﻻَ ﻳَﻨَﺎﻝُ ﺃَﺣَﺪٌ ﻣِﻨْﻜُﻢْ ﻣِﻨْﻬَﺎ ﺷَﺴْﺌًﺎ ﺇِﻻَّ ﺟَﺎﺀَ ﺑِﻪِ ﻳَﻮْﻡَ ﺍﻟْﻘِﻴَﺎﻣَﺔِ ﻳَﺤْﻤِﻠُﻪُ ﻋَﻠَﻰ ﻋُﻨُﻘِﻪِ ﺑَﻌِﻴْﺮٌ ﻟَﻪُ ﺭُﻏَﺎﺀٌ ﺍَﻭْ ﺑَﻘَﺮَﺓٌ ﻟَﻬَﺎ ﺧُﻮَﺍﺭٌ ﺃَﻭْ ﺷَﺎﺓٌ ﺗَﻴْﻌِﺮُ ﺛُﻢَّ ﺭَﻓَﻊَ ﻳَﺪَﻳْﻪِ ﺣَﺘَّﻰ ﺭَﺃَﻳْﻨَﺎ ﻋُﻔْﺮَﺗَﻲْ ﺇِﺑْﻄَﻴْﻪِ ﺛُﻢَّ ﻗَﺎﻝَ : ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻫَﻞْ ﺑَﻠَّﻐْﺖُ ﻣَﺮَّﺗَﻴْﻦِ

“Rasulullah mempekerjakan seseorang dari suku Al-Asad, namanya Ibnul Latbiyyah untuk mengumpulkan zakat, maka tatkala ia telah kembali ia berkata, ‘Ini untuk engkau dan ini untukku dihadiahkan untukku’. Ia (Abu Hamid) berkata, ‘Maka Rasulullah berdiri di atas mimbar, lalu memuja dan memuji Allah dan bersabda, ‘Kenapa petugas yang aku utus lalu ia mengatakan, ‘Ini adalah untuk kalian dan ini dihadiahkan untukku?! Kenapa dia tidak duduk di rumah bapaknya atau rumah ibunya sehingga dia melihat apakah dihadiahkan kepadanya atau tidak?! Demi Dzat yang jiwa Muhammad di tangan-Nya! Tidaklah seorangpun dari kalian menerima sesuatu darinya melainkan ia datang pada hari Kiamat sambil membawanya di atas lehernya onta yang bersuara, atau sapi yang melenguh atau kambing yang mengembik’, kemudian beliau mengangkat kedua tangannya sampai kami melihat putih kedua ketiaknya, kemudian bersabda dua kali, ‘Ya Allah, apakah aku telah menyampaikan?” [Diriwayatkan Al- Bukhari 7174 dan Muslim 1832 dan ini adalah lafazhnya] Dan di dalam shahih Bukhari (3073) dan shahih Muslim (1831) –dan dengan lafazhnya- dari Abu Hurairah, ia berkata.

 ﻗَﺎﻡَ ﻓِﻴْﻤَﺎ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﺫَﺍﺕَ ﻳَﻮْﻡٍ ﻓﺬَﻛَﺮَ ﺍﻟْﻐُﻠُﻮْﻝَ ﻓَﻌَﻈَّﻤَﻪُ ﻭَﻋَﻈَّﻢَ ﺃَﻣْﺮَﻩُ ﺛُﻢَّ ﻗَﺎﻝَ : ﻻَ ﺃُﻟْﻔِﻴَﻦَّ ﺃَﺣَﺪَﻛُﻢْ ﻳَﺠَﻲﺀُ ﻳَﻮْﻡَ ﺍﻟْﻘِﻴَﺎﻣَﺔِ ﻋَﻠَﻰ ﺭَﻗَﺒَﺘِﻪِ ﺑَﻌِﻴﺮٌ ﻟَﻪُ ﺭُﻏَﺎﺀٌ ﻳَﻘُﻮْﻝُ : ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠّﻪ ﺃَﻏْﺜِﻨِﻲ ﻓَﺄَﻗُﻮْﻝُ : ﻻَ ﺃَﻣْﻠﻠِﻚُ ﻟَﻚَ ﺷَﻴْﺌًﺎ ﻗَﺪْ ﺃَﺑْﻠَﻘْﺘُﻚَ، ﻻَ ﺃُﻟْﻔِﻴَﻦَّ ﺃَﺣَﺪَﻛُﻢْ ﻳَﺠِﻲﺀُ ﻳَﻮْﻡَ ﺍﻟْﻘِﻴَﺎﻣَﺔِ ﻋَﻠَﻰ ﺭَﻗَﺒَﺘِﻪِ ﻓَﺮَﺱٌ ﻟَﻪُ ﺣَﻤﺤَﻤَﺔٌ ﻓَﻴَﻘُﻮﻝُ : ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠّﻪ ﺃَﻏْﺜِﻨِﻲ ﻓَﺄَﻗُﻮْﻝُ : ﻻَ ﺃَﻣْﻠﻠِﻚُ ﻟَﻚَ ﺷَﻴْﺌًﺎ ﻗَﺪْ ﺃَﺑْﻠَﻘْﺘُﻚَ، ﻻَ ﺃُﻟْﻔِﻴَﻦَّ ﺃَﺣَﺪَﻛُﻢْ ﻳَﺠِﻲﺀُ ﻳَﻮْﻡَ ﺍﻟْﻘِﻴَﺎﻣَﺔِ ﻋَﻠَﻰ ﺭَﻗَﺒَﺘِﻪِ ﺷَﺎﺓٌ ﻟَﻬَﺎ ﺛُﻐَﺎﺀٌ ﻳَﻘُﻮﻝُ : ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠّﻪ ﺃَﻏْﺜِﻨِﻲ ﻓَﺄَﻗُﻮْﻝُ : ﻻَ ﺃَﻣْﻠﻠِﻚُ ﻟَﻚَ ﺷَﻴْﺌًﺎ ﻗَﺪْ ﺃَﺑْﻠَﻘْﺘُﻚَ، ﻻَ ﺃُﻟْﻔِﻴَﻦَّ ﺃَﺣَﺪَﻛُﻢْ ﻳَﺠَﻲﺀُ ﻳَﻮْﻡَ ﺍﻟْﻘِﻴَﺎﻣَﺔِ ﻋَﻠَﻰ ﺭَﻗَﺒَﺘِﻪِ ﻧَﻔْﺲٌ ﻟَﻬَﺎ ﺻِﻴَﺎﺥٌ ﻓَﻴَﻘُﻮﻝُ : ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠّﻪ ﺃَﻏْﺜِﻨِﻲ ﻓَﺄَﻗُﻮْﻝُ : ﻻَ ﺃَﻣْﻠﻠِﻚُ ﻟَﻚَ ﺷَﻴْﺌًﺎ ﻗَﺪْ ﺃَﺑْﻠَﻘْﺘُﻚَ، ﻻَ ﺃُﻟْﻔِﻴَﻦَّ ﺃَﺣَﺪَﻛُﻢْ ﻳَﺠِﻲﺀُ ﻳَﻮْﻡَ ﺍﻟْﻘِﻴَﺎﻣَﺔِ ﻋَﻠَﻰ ﺭَﻗَﺒَﺘِﻪِ ﺭِﻗَﺎﻉٌ ﺗَﺨْﻔِﻖُ ﻓَﻴَﻘُﻮﻝُ : ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠّﻪ ﺃَﻏْﺜِﻨِﻲ ﻓَﺄَﻗُﻮْﻝُ : ﻻَ ﺃَﻣْﻠﻠِﻚُ ﻟَﻚَ ﺷَﻴْﺌًﺎ ﻗَﺪْ ﺃَﺑْﻠَﻘْﺘُﻚَ، ﻻَ ﺃُﻟْﻔِﻴَﻦَّ ﺃَﺣَﺪَﻛُﻢْ ﻳَﺠِﻲﺀُ ﻳَﻮْﻡَ ﺍﻟْﻘِﻴَﺎﻣَﺔِ ﻋَﻠَﻰ ﺭَﻗَﺒَﺘِﻪِ ﺻَﺎ ﻣِﺖٌ ﻓَﻴَﻘُﻮﻝُ : ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠّﻪ ﺃَﻏْﺜِﻨِﻲ ﻓَﺄَﻗُﻮْﻝُ : ﻻَ ﺃَﻣْﻠﻠِﻚُ ﻟَﻚَ ﺷَﻴْﺌًﺎ ﻗَﺪْ ﺃَﺑْﻠَﻘْﺘُﻚَ

“Rasulullah berbicara kepada kami pada suatu hari, maka beliau menyebutkan Ghulul [1] dan beliau menganggapnya perkara yang besar, kemudian ia berkata, ‘Aku akan temui salah seorang kalian yang datang pada hari Kiamat di atas lehernya ada onta yang bersuara, ia berkata, ‘Hai Rasulullah, tolonglah aku’, maka aku (Rasulullah) mengatakan, ‘Aku tidak mampu berbuat apa- apa untukmu sedikitpun, sungguh aku telah menyampaikan kepadamu’, Aku tidak temui salah seorang dari kalian datang pada hari Kiamat dengan kuda di atas pundaknya yang memiliki hamhamah (suara), lantas ia berkata, ‘Hai Rasulullah! Bantulah aku’, maka aku berkata, ‘Aku tidak bisa membantu sedikitpun, sungguh aku telah menyampaikan kepadamu’, Aku tidak dapatkan salah seorang darimu datang pada hari Kiamat dengan kambing yang mengembik diatas pundaknya seraya berkata, ‘Hai Rasulullah! Tolonglah aku’, Maka aku menjawab, ‘Aku tidak mampu berbuat apa- apa untukmu, aku telah menyampaikan kepadamu’, Aku akan dapatkan salah seorang dari kalian datang pada hari Kiamat dengan membawa jiwa yang menjerit, lantas ia berkata, ‘Hai Rasulullah! Tolonglah aku’, Maka aku berkata, ‘Aku tidak memiliki apa- apa untukmu, sungguh aku telah menyampaikan kepadamu’, Aku akan mendapatkan salah seorang dari kalian datang pada hari Kiamat dengan pakaian diatas pundaknya ada shamit (emas dan perak), lalu ia berkata, ‘Hai Rasulullah! Tolonglah aku’, maka aku akan menjawab, ‘Aku tidak memiliki apa-apa untukmu, sungguh aku telah menyampaikan kepadamu”.

Riqa di dalam hadits ini maksudnya adalah pakaian dan shamit adalah emas dan perak. Diantaranya hadits Abu Hamid As-Sa’di, bahwasanya Rasulullah bersabda.

 ﻫَﺪَﺍﻳَﺎ ﺍﻟْﻌُﻤَّﺎﻝِ ﻏُﻠُﻮْﻝٌ

“Hadiah-hadiah para pekerja adalah ghulul (khianat)”. Diriwyatkan oleh Ahmad (23601) dan lainnya, dan lihat takhrijnya di kitab Irwa Al-Ghalil oleh Al-Albani (2622), dan ini semakna dengan hadits yang telah lalu dalam kisah Ibnu Al-Latbiyyah. Diantaranya hadits Adi bin Umairah, ia berkata, “Aku mendengar bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

 ﻣَﻦْ ﺍﺳْﺘَﻌْﻤَﻠْﻨَﺎﻩُ ﻣِﻨْﻜُﻢْ ﻋَﻠَﻰ ﻋَﻤَﻞٍ ﻓَﻜَﺘَﻤَﻨَﺎ ﻣِﺨْﻴَﻄًﺎ ﻓَﻤَﺎ ﻓَﻮْﻗَﻪُ ﻛَﺎﻥَ ﻏُﻠُﻮﻟًﺎ ﻳَﺄْﺗِﻲ ﺑِﻪِ ﻳَﻮْﻡَ ﺍﻟْﻘِﻴَﺎﻣَﺔِ

“Barangsiapa diantara kalian yang kami pekerjakan atas suatu pekerjaan, lalu ia menyembunyikan dari kami satu jarum atau yang lebih kecil, maka dia adalah ghulul dan ia akan datang dengannya pada hari Kiamat” [Dikeluarkan oleh Muslim]

Diantaranya hadits Buraidah dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda.

 ﻣَﻦِ ﺍﺳْﺘَﻌْﻤَﻠْﻨَﺎﻩُ ﻋَﻠَﻰ ﻋَﻤَﻞٍ ﻓَﺮَﺯَﻗْﻨَﺎﻩُ ﺭِﺯْﻗًﺎ ﻓَﻤَﺎ ﺃَﺧَﺬَ ﺑَﻌْﺪَ ﺫَﻟِﻚَ ﻓَﻬُﻮَ ﻏُﻠُﻮْﻝٌ

“Barangsiapa yang kami pekerjakan atas suatu pekerjaan, lalu kami memberinya bagian, maka apa yang diambilnya setelah itu adalah perbuatan khianat” [Diriwayatkan oleh Abu Dawud dengan isnad shahih, dan dishahihkan oleh Al-Albani]

Dan dalam biografi Iyadh bin Ghanam dari kitab Shifatush Shafwah oleh Ibnul Jauzi (1/277), ketika itu ia sebagai gubernur Himsh dalam pemerintahan Umar, bahwasanya ia berkata kepada sebagian kerabatnya dalam sebuah kisah yang panjang, ‘Demi Allah! Jika aku digergaji lebih aku sukai daripada aku berkhianat seperak uang atau aku melampaui batas!”.

Aku memohon kepada Allah Azza wa Jalla agar membimbing setiap pegawai dan pekerja dari kaum muslimin untuk menunaikan pekerjaannya sesuai dengan yang diridhai Allah Tabaraka wa Ta’ala, dan ia mendapatkan pahala serta akhir yang terpuji di dunia dan akhirat. Dan semoga Allah bershalawat dan salam serta memberikati hamba-Nya dan rasul- Nya, nabi kita Muhammad dan atas keluarga serta shahabat-shahabatnya.


 [Disalin dari kitab Kaifa Yuaddi Al- Muwazhzhaf Al-Amanah, Penerbit Daarul Qasim Lin Nasyr, Riyadh, Cet I 1420H, Penulis Syaikh Abdul Muhsin bin Hamad Al- Abad, Penerjemah Agustimar Putra, Cetakan I, Penerbit Darul Falah, PO BOX 7816 JATCC 13340 Jakarta]

 _______

Footnote

 [1]. Al-Ghulul maksudnya perbuatan curang dan yang dimaksud hadits ini adalah mengmbil ghanimah (rampasan perang) dengan sembunyi-sembunyi sebelum dibagikan (pen).

Share:

Label