Jangan lupa bagikan jika bermanfaat

Senin, 12 September 2016

MUTIARA NASIHAT, BUAT SANG PENDIDIK GENERASI RABBANI

MUTIARA NASIHAT, BUAT SANG PENDIDIK GENERASI RABBANI- Oleh Syaikh Ali bin Hasan bin Ali bin Abdul Hamid


Segala puji bagi Allah, tempat kita memohon pertolongan dan ampunan. Kita bershalawat dan salam atas Nabi dan kekasihNya; Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga serta para sahabatnya.

Wahai ukhti muslimah, dimanapun kalian berada. Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu. Demikian juga rahmat Allah dan barakahNya.

Ketahuilah, ukhti fillah. Engkau adalah bagian dari laki-laki. Engkau adalah satu bagian dari keturunan manusia secara keseluruhan.

Engkau adalah seorang ibu, isteri, anak, saudara, bibi, cucu dan sekaligus nenek buat mereka. Rasul kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda,

 ﺇِﻧَّﻤَﺎ ﺍﻟﻨِّﺴَﺎﺀُ ﺷَﻘَﺎﺋِﻖ ﺍﻟﺮِّﺟَﺎﻝِ

Sesungguhnya, wanita itu belahan laki-laki. [HR Ahmad; Abu Dawud dan Tirmidzi. Lihat Shahih Al Jami’, nomor 2329].

Engkau bersandar kepada umat yang mulia dan agung, yaitu ummatul Islam; yang di dunia ini tiada bandingannya. Dia melahirkan para pemimpin, pahlawan, pembesar dan para penakluk negeri-negeri. Maka sesungguhnya umatmu ini, adalah umat yang memperoleh hidayah dan agama yang lurus. Yakni umat yang telah dijadikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai umat terbaik, yang dilahirkan untuk manusia agar menyuruh kepada kebaikan dan mencegah dari kemungkaran. Juga, menuntun manusia kepada keadilan dan kebaikan, mengeluarkan manusia dari beribadah kepada makhluk ke dalam beribadah hanya kepada Rabbul ‘ibad (Allah) saja.

Serta mengeluarkannya dari kesempitan dunia kepada kelapangan dunia lagi akhirat. Dan dari penganiayaan bermacam agama ke dalam Islam yang penuh keadilan. Tidak syak lagi, wanita-wanita terdahulu dari umat ini menjadi salah satu faktor penyebab yang utama dalam memposisikan umat ke dalam kedudukan yang tinggi dan penting. Ketahuilah wahai ukhti yang baik, Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menganugerahkan kedudukan yang penting dan agung untuk seorang wanita di dalam taklif dan penghormatan

Allah berfirman,

ﻭَﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻨُﻮﻥَ ﻭَﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻨَﺎﺕُ ﺑَﻌْﻀُﻬُﻢْ ﺃَﻭْﻟِﻴَﺂﺀُ ﺑَﻌْﺾٍ ﻳَﺄْﻣُﺮُﻭﻥَ ﺑِﺎﻟْﻤَﻌْﺮُﻭﻑِ ﻭَﻳَﻨْﻬَﻮْﻥَ ﻋَﻦِ ﺍﻟْﻤُﻨﻜَﺮِ ﻭَﻳُﻘِﻴﻤُﻮﻥَ ﺍﻟﺼَّﻼَﺓَ ﻭَﻳُﺆْﺗُﻮﻥَ ﺍﻟﺰَّﻛَﺎﺓَ ﻭَﻳُﻄِﻴﻌُﻮﻥَ ﺍﻟﻠﻪَ ﻭَﺭَﺳُﻮﻟَﻪُ ﺃُﻭْﻻَﺋِﻚَ ﺳَﻴَﺮْﺣَﻤُﻬُﻢُ ﺍﻟﻠﻪُ ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠﻪَ ﻋَﺰِﻳﺰٌ ﺣَﻜِﻴﻢُُ

Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang makruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat kepada Allah dan RasulNya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. [At Taubah : 71].

Bagi engkau ukhti, Allah telah membebankan hukum-hukum dan syariat-syariat. Dia memberimu kekhasan dan keistimewaan yang sesuai dengan diri dan fitrahmu. Allah telah menceritakan tentang diriNya,

 ﺃَﻻَﻳَﻌْﻠَﻢُ ﻣَﻦْ ﺧَﻠَﻖَ ﻭَﻫُﻮَ ﺍﻟﻠَّﻄِﻴﻒُ ﺍﻟْﺨَﺒِﻴﺮُ

Apakah Allah yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan dan rahasiakan); dan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui. [Al Mulk : 14]

Ukhti, engkau terpanggil untuk kembali ke jalan Allah. Berpegang teguh kepada dienNya dan mengikuti sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan benar. Yaitu dengan jalan bersandar kepada ummatul Islam. Serius membangun generasi yang lurus, yang membawa bendera iman dengan gigih.

Ukhti. Dimanapun musuh-musuh Islam itu hendak memalingkan engkau dari tugas mulia; kesungguhanmu dalam menjunjung agama dan membangun umat ini. Kita lihat, mereka menyajikan jebakan-jebakan dunia yang sangat menggoda dan perhiasan- perhiasan yang fana.

Semisal : pameran- pameran perhiasan dan fashion-fashion yang memukau sekaligus menipu. Ini semua adalah produk orang-orang kafir. Disana persaingan tiada hentinya, nafsu syahwat diluapkan, perut-perut tak pernah kenyang, perhiasan yang membinasakan dan kompetisi yang menjerumuskan (seolah-olah engkau tercipta hanya untuk yang hina-dina ini). Dan seluruhnya mengandung unsur propaganda kepada pemborosan, kedengkian dan gaya ikut-ikutan.

Kemudian kita melihat orang-orang dzalim sedang menyulutkan api permusuhan dan kebencian, antara engkau dan kaum laki- laki. Maka –menurut mereka- engkau adalah anak yang dilecehkan, isteri yang didzalimi, ibu yang disia-siakan dan wanita yang diluruhkan. Adapun kaum laki-laki –menurut mereka- adalah orang dzalim, munafik, orang yang melampaui batas, thagut, pemerkosa hak- hak perempuan. Ini merupakan bagian dari rekayasa.

Dengan sengaja diopinikan, supaya engkau melakukan kedurhakaan kepada orang tua, angkuh terhadap kaum lelaki dan melawan suami. Sebenarnya mereka tidak mempropagandakan keadilan dan kasih sayang. Tetapi sebaliknya, mereka menjerumuskan ke dalam kedurhakaan, pelecehan, kerusakan dan kedzaliman. Kita mendapati mereka sebagai para penipu, yang tidak hanya sekedar menjebak dengan itu semua. Tetapi mereka juga merancukan pemahaman dan menyulap hakikat yang sebenarnya.

Mereka menggiring wanita untuk melepaskan diri dari syariat. Mereka membikin image, bahwa ketakwaan dan kehormatan diri adalah belenggu kebebasan dan kemerdekaan. Hijab syar’i hanyalah membikin akal tertutup dan beku saja. Lalu shalat dan puasa, sama sekali tidak bermanfaat dan menyia-nyiakan umur. Adapun ketaatan kepada suami adalah penghinaan dan pelecehan.

Ukhti, sungguh mereka seperti serigala buas, yang menginginkan agar engkau selalu berbuat dosa, berbuat dzalim di setiap tempat; di kantor, di jalan dan di tempat- tempat hiburan menutup diri dari akhlak, agama dan kemuliaan. Mereka mengharapkan agar engkau tidak mengikuti syariat, kecuali yang berdasarkan hawa nafsu mereka yang rusak dan shahwat mereka yang hina-dina. Dan dalam hal ini mereka -secara total- mengikuti para pendahulunya, yaitu orang-orang kafir barat dan musyrik. Yang para wanitanya merupakan individu yang di dhalimi, dihina, diremehkan dan direndahkan.

Bersamaan dengan itu, mereka mempropagandakannya sebagai emansipasi wanita. Emansipasi macam apakah ini? Sebenarnya, hal ini adalah emansipasi yang rendah dan hina sekali.

Ukhti. Tidakkah engkau memperhatikan wanita-wanita lain; mereka melucuti pakaian iffah dan rasa malu. Lalu berjalan berlenggak-lenggok di balik syahwat dan mengikuti hawa nafsu para penipu.

Bagaimanakah kesudahannya?

Ukhti. Berbanggalah dengan agamamu yang telah memuliakanmu serta memuliakan bapakmu dan pendahulu-pendahlumu. Jadilah suri tauladan yang baik untuk anak-anakmu, saudara, keluarga dan tetanggamu. Ikhlaslah dalam menyandarkan diri kepada umat yang mulia ini. Dan ketahuilah, bahwa iffah -dalam pandangan orang-orang yang memiliki semangat untuk komitmen dengan ajaran agama- sungguh sebuah kemuliaan. Adapun mengikuti hawa nafsu –menurut orang shalih- merupakan kehinaan, walaupun oleh orang-orang diberi dengan label palsu seperti cinta, kebebasan dan emansipasi.

Ukhti. Yakinlah, bahwa kebahagiaan yang abadi, yaitu apabila engkau menjadi seorang anak yang taat dan memiliki keutamaan, menjadi isteri yang sempurna dan mulia, serta menjadi ibu yang baik dan bertakwa. Dan ini semua terkandung dalam tingginya nilai kebenaran, kebaikan dan cahaya keimanan. Ketahuilah ukhti muslimah, bahwa shalat adalah tiang agama, sekaligus pembeda antara orang muslim dan kafir. Puasa adalah rukun yang kedua. Adapun shadaqah merupakan salah satu sarana menghapus kesalahan dan maksiat, serta menghapus segala dosa-dosa.

Ingatlah selalu wahai ukhti, bahwa wanita yang berpakaian tetapi telanjang, yaitu yang menanggalkan jilbab malunya dan memakai pakaian masa kini yang ngetrend, lagi membuka aurat. Sebenarnya mereka tak akan masuk syurga. Tidak pula dapat mencium harumnya syurga.

Ketahuilah wahai ukhti, bahwa hijab syar’i memiliki beberapa syarat. Diantaranya : Menutupi seluruh tubuh, kecuali wajah dan tangan (menutup keduanya lebih utama dan lebih terjaga). Tidak dimaksudkan sebagai penghias diri atau kemegahan dan berbangga diri, serta tidak menarik perhatian. Tidak sempit, sehingga mencetak postur tubuh. Tidak tipis, sehingga tidak menampakkan apa yang ada dibaliknya. Selain itu tidak memakai wangi-wangian. Tidak pula menyerupai pakaian wanita kafir dan musyrik, serta tidak menyerupai pakaian laki-laki.

Terakhir kuperuntukkan buat wanita pada umumnya di negeri kita kaum muslimin. Sesungguhnya ingin kukatakan kepada mereka, “Hati-hatilah agar tidak terjerumus ke dalam lembah-lembah sebagaimana para wanita di negeri kafir telah terprosok ke dalamnya; dikarenakan disana tak ada agama yang mampu melindungi hak-hak mereka.

Adapun wanita di negeri muslim, apa yang menjadi alasan mereka?! Karena Allah swt telah menurunkan untuk mereka agama yang menjaga segala hak dan keadilan yang dibebankan kepadanya. Kita tak menginginkan wanita di negeri ini layaknya burung beo yang meniru segala yang diucapkan, memakai setiap produk yang dihasilkan, mengikuti semua gemerlap yang menjebak. Dan haus dengan beragam syahwat. Kami menginginkan, agar para wanita itu memiliki kepribadian yang istimewa. Baik dalam masalah akidah, pemikiran, perilaku, pakaian, ataupun gaya hidup. Adapun aqidah merupakan kaidah yang paling penting dalam agama kita yang lurus ini. Maka, waspadalah terhadap amalan yang menyelisihinya -seperti berdo’a kepada selain Allah, nabi-nabi, para wali, orang- orang shalih, bersumpah dengan nama selain Allah, menyembelih dan bernadzar untuk selain Allah, mendatangi dukun dan ahli nujum (paranormal), ruqyah yang syirik dan berbagai perbuatan kufur dan sesat lainnya.

KESIMPULAN.

Kami menginginkan agar wanita muslimah selalu menimbang seluruh kasus dengan memakai manhaj Allah yang agung. Memandang hidup ini dengan kacamata Al Quran yang mulia, dan selalu mengedapankan kehidupan akhirat.

Menjadikan Islam sebagai petunjuk dan pedoman serta sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai teladan dan teman hidup. Beginilah wanita yang kita inginkan. Yaitu mampu merealisasikan segala sesuatu dalam kehidupan ini untuk dirinya atau yang lainnya.

Ukhti, sebenarnya apa yang sedang engkau baca ini adalah peringatan dan bekal untuk sebuah perjalanan, yang bisa panjang juga pendek, yang penghujungnya ialah kematian, lalu kuburan. Barangsiapa yang termasuk ahli syurga, maka akan diluaskan kuburnya selebar 70 hasta dan akan dipenuhi rumput hijau hingga hari kebangkitan.

Barangsiapa termasuk ahli neraka, maka akan dipukul dengan palu besi dan disempitkan kuburannya hingga hancur tulang-belulangnya Kemudian hari berbangkit … , lalu dikumpulan… , lalu ditampakkan amalan- amalan. Setelah itu perhitungan. Dan terakhir ialah tempat abadi, di syurga yang luasnya seluas langit dan bumi. Atau di neraka yang hitam dan menyala-nyala.

 ﻓَﻤَﻦْ ﺯُﺣْﺰِﺡَ ﻋَﻦِ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ ﻭَﺃُﺩْﺧِﻞَ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔَ ﻓَﻘَﺪْ ﻓَﺎﺯَ

Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. [Ali Imran : 185].

Ukhti, ini adalah ungkapan harapan dan nasihat yang lurus. Waspadalah terhadap pengikut syetan dan bala tentara iblis yang menginginkan engkau tersesat. Ketahuilah, sesungguhnya perananmu dalam pembentukan umat sangatlah agung. Maka, optimalkan peranan ini. Janganlah engkau menjadi perusak dan kebinasaan. Akan tetapi jadilah pencipta kemuliaan. Kembalilah kepada dua wahyu yang agung, yaitu Kitabullah dan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam hingga mampu mencapai kemenangan dan kebahagiaan di dunia dan akhir.

(Risalah dari Syaikh Ali Hasan, diterjemahkan oleh Ummu Rabie)

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 10/ Tahun VI/1423H/2002M Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km. 8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 08121533647, 08157579296]

Share:

0 Comments:

Posting Komentar

Label